Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Agung Rese


__ADS_3

Sekuat apa pun Nuri menolak namun gurunya tetap memaksa. Ia pun mengalah, lalu naik  ke motor.  Dapat ia hirup parfum maskulin yang digunakan Agung  membuatnya menutup mata lalu menarik nafas dan membuangnya pelan.


 


“Sudah sampai.  Apa  kau tak ingin turun?”  tanya Agung yang ternyata mesin motor telah di matikan.  Nuri  merasa sangat malu. Ia pun segera turun dengan rasa canggung.  


“Sini biar aku bawakan,” Agung telah mengambil alih keranjang belanjaanya. 


Nuri hanya mengekori Agung masuk ke dalam  gedung asrama khusus perempuan  lalu  menuju ke dapur.


Disana sudah ada  mbok Darmi sedang membereskan perkakas bekas memasak.


 


“Lho, ada pak Agung.  Ada perlu sesuatu?”  mbok Darmi tergopoh menghampiri Agung. 


Lelaki itu hanya tersenyum.  “Ini mbok  belanjaannya, tadi gak sengaja ketemu anak baru di jalan.takutnya nyasar, jadi saya bawa aja.” Dengan entengnya Agung mengatakan Nuri anak baru lalu meninggalkan tempat itu.  sementara Nuri yang hanya memainkan kukunya tersentak saat mbok Darmi menghampirinya.


 


“Sudah tak usah malu malu.  Mbok tau mbak Nuri kesemsemkan  sama  Mr Agung kan?” goda mbok Darmi.  Nuri pun segera mengelaknya.  Mana mungkin ia kesemsem sama guru galak seperti pak Agung. Di kelasnya hanya dirinya yang sering kena teguran dan harus mengerjakan tugas di papan tulis.


 


Waktu berjalan begitu singkat.  Pagi masuk kelas sekolah,  sore ikut kegiatan TPA , malam  harus setor Hafalan Quran kepada Ustad Hanafi   dan pagi harus bangun pagi lagi. Begitulah kegiatan sehari hari Nuri di pesantren.


Ia tak bisa bebas bermain lagi,  jika pun bermain hanya di taman belakang itu pun hanya sekedar duduk dan menghafalkan ayat yang harus ia setorkan kepada ustadnya.

__ADS_1


 


“Nur,  udah hafal?”  tanya Atika.  Yang ditanya hanya menggelengkan lemah.  Waktu tiga  hari rasanya tidak cukup bagi Nuri untuk menghafalkan surah Ar-Rahman.  Ingin sekali ia berteriak  di depan  ustadnya  saat ia di bandingkan dengan Asma Anak pak Dzaki yang sudah hafal di luar kepalanya.


 


Ide  gila  Nuri pun muncul  “Apa bolos aja ya.”


“Siapa yang ingin  bolos.”  Suara laki laki dari belakang Atika dan Nuri.


Mengetahui siapa sesok dibelakang mereka Atika segera menutup mulutnya, namun tidak dengan Nuri.  Dia hanya biasa saja.  


“Apa  kamu ingin bolos Nuri Salsabila  Ramadhani? Jika ia, bisa di pastikan kamu akan menghafalkan 1 jus lho”


 


"Dasar guru rese," gerutunya kembali.


Agung melebarkan senyumannya saat Nuri menghentakkan kaki menuju sebuah ruangan.


Dengan terpaksa Nuri memasuki sebuah ruangan tersebut bersama Atika. Disana sudah banyak santri. Kegiatan itu pun sudah berjalan sekitar lima belas menit yang lalu. Dalam hati Nuri tetap mengumpat, mengatai gurunya. “Dasar tukang ngadu.”


 


"Maaf ustad kami telat."  setelah mengucap salam Atika meminta maaf lalu duduk di meja paling belakang.


Kali ini Nuri tak bisa berkonsentrasi, sesekali ia mencuri tatapan ustadnya. Dalam hati ia mengaduh betapa sempurnanya ciptaan Allah yang satu ini. Selain masih muda dan tampan suara ustad Hanafi sangat merdu saat ia membaca ayat-ayat suci. Khayalan tentang ustadnya harus hilang seketika ketika Nuri mendengar namanya di panggil.

__ADS_1


“Sekarang?” Nuri tak percaya menatap Atika.


 


Nuri memang pandai di dalam bidang pelajaran namun ia sangat lemot saat harus menghafal ayat a-lQuran.


Ia membuang kasar badanya di ranjang. Mengingat kejadian tadi. Padahal ia sudah berusaha menghafal namun ternyata  memorinya tak bisa menyimpan dengan baik. Karena sudah malam tak ada komentar dari ketiga temannya. 


Hari ini kegiatan di pesantren di liburkan karena  hari ini mereka akan menghadiri wisuda dari salah satu guru mereka. Sebagian dari mereka ada yang menyiapkan  bingkisan hadiah ada pula yang membawa bunga. pagi ini Nuri mengenakan gamis berwarna Dusty Pink yang senada dengan jilbabnya.


“Ada yang sudah baikan nih sama Mr Agung.” goda Atika saat melihat Nuri ketika keluar dari kamarnya.


“Siapa juga yang udah baikan. Idih ogah” sergah Nuri.


Teman-teman Nuri tak ada  yang tahu bahwa Azam yang akan di wisuda hari ini adalah kakaknya.


Saat tiba di tempat tujuan Nuri sangat bahagia. Dulu waktu Adam wisuda ia tak bisa menghadiri karena ia harus sekolah dan jarak juga agak jauh.  Tak jauh dari tempatnya berdiri ia menangkap  dua sosok yang sangat ia kenali.


“Aku kesana sebentar ya.”  Pamit Nuri hanya di iyakan oleh para temannya.


 


“Bapak, Ibu” serunya.  Kedua orang yang melihatnya segera memeluk putri mereka yang di rindukan selama satu bulan lebih.


“Sudah, nanti cantiknya hilang”  bu Aisyah mencoba tegar. Sedangkan Pak Ali masih ingin memelukanaknya, namun ia gengsi untuk mengakui bahwa iajuga merindukan putri semata wayangnya itu.


 

__ADS_1


Acara  pun telah di mulai. Tepuk tangan bersahutan saat para nama di sebutkan untuk naik ke panggung.  Ia melihat Azam mengenakan jaz hitam begitu mempesona. Ia tersenyum dan melambaikan tangannya kepada Azam Namun bukan Azam yang membalas lambain tangan Nuri melainkan Agung.


__ADS_2