Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Mr Killer


__ADS_3

Selepas pengajian Ahad, Nuri memutuskan singgah ke taman belakang asrama. Ia memilih tempat itu untuk menghafalkan Quran yang akan ia setorkan nanti malam kepada Ustadz Hanafi.


Karena hari libur kebanyakan santri pulang. Hanya santri yang jauh yang masih tetap di asrama.


“Assalamualaikum.” Seseorang telah berada di depan Nuri.


“Waalaikumsalam, Mas Adam,” jawab Nuri terkejut sebab itu adalah area khusus putri. “Kok bisa di sini?”


Adam segera menarik sebuah kursi di dekat Nuri. “Subhanallah, adek mas makin rajin aja. Udah sampe mana hafalannya?”


Dengan berseri Nuri menceritakan bahwa ia telah berhasil menghafal lima Juz di luar kepala. Ia harus bisa merubah dirinya agar tak mengecewakan ayahnya lagi. Sebenarnya Nuri ingin bercerita banyak namun ia tahu bahwa Adam pun juga mempunyai kesibukan lainnya.


Sebelum Adam pergi, ia menyerahkan sebuah kantong berisi sebuah ponsel baru untuk Nuri.


“Serius mas, ini buatku? Alhamdulillah, makasih ya mas.” Perasaan bahagia menghiasi wajah ayu Nuri.


🍁🍁


“Ciee handphone baru?” goda Galih. Sontak semua teman satu kamar menoleh ke arah Nuri dan Mengerumuni gadis itu. Berbagai pertanyaan ia dengar. Bukan tanpa sebab, pasalnya ponsel Nuri tergolong mahal dan memang keluaran terbaru.


“Ini dari Mas ku,” jawab Nuri setelah duduk di ranjangnya.


“Beruntung sekali kamu Nur, punya mas yang perhatian. Pasti mas mu sayang banget sama kamu, ya.” ucap Atika


Nuri hanya mengangguk pelan. Memang diakui Adam dan Azam sangat menyayangi dirinya.


Tak jarang apa ia inginkan selalu di turuti oleh kedua kakaknya.


“Ganteng gak? Kenalin dong,” rengek Galih. Nuri hanya terdiam, bagaimana jika ia tahu bahwa Mas nya adalah guru yang mereka bilang paling galak seantero pondok.

__ADS_1


“Ok. Tapi jangan nyesel ya.” Nuri pun menyetujuinya permintaan Galih.


Nuri kini sudah terbiasa dengan suasana asrama. Mulai dari bangun pagi, ngantri di depan kamar mandi walaupun masih ngantuk serta sholat subuh berjamaah di mesjid.


Pagi sampai jam dua siang adalah waktunya sekolah formal. Sedangkan malam adalah kelas menghafal bagi yang tinggal di asrama.


Seperti biasa setiap hari senin semua siswa melakukn upacara. Walaupun merasa sangat bosan namun harus dilaksanakann demi cinta terhadap tanah air.


“Nur, liat itu yang mau pidato Mr Killer,” bisik Galih pelan. Nuri segera mengedarkan pendangannya kedepan. Benar, pak Agung telah berdiri sebagai pembina upacara hari ini. Mentari pagi yang menyingsing membuat sebagian siswa harus terpapar. Menunggu pidato usai, sebagian siswa telah banyak yang mengeluh bahkan cara cara berdirinya sudah tak bisa lagi.


Ya ampun lama sekali.


“Dari tadi kek,” desis Nuri saat mendengar sang protokol meminta membubarkan barisan.


Ada waktu lima menit sebelum kelas di mulai. Nuri lebih memilih menunggu di dalam kelas.


“Jangan bilang udah mulai takut sama Mr killer karena mau ada ulangan,” ejek Galih. Sebenarnya bukan takut untuk ulangan tapi malas dengan orangnya. Kalau bisa Nuri ingin bolos tapi ia tak bisa menjelaskan alasan apa yang akan di berikan kepada pak Dzaki dan itu akan membuat malu Adam.


“Please come here and Explain this material,” seru Mr. Agung sambil menunjuk ke arah Nuri.


Tak ada ke terkejutan pada Nuri, sebab itu sudah biasa setiap mata pelajarannya Bahasa Inggris ia akan menggantikan gurunya berdiri di depan menerangkan materi yang ada di buku. Nuri bersyukur dirinya bisa menguasai bahasa inggris dengan baik karena ia pernah bercita cita ingin lanjut kuliah di negara orang, ia sempat mengikuti les private.


“Yes sir,” Nuri segera maju kedepan kelas.


Cara menjelaskan Nuri begitu fasih, membuat sang guru merasa terbuai dalam setiap kata kata Nuri.


“Paham? Jika kalian tidak paham silahkan tanya langsung dengan Mr. Agung,” tutup Nuri.


Tak ada pertanyaan dari para siswa berarti mereka sudah paham.

__ADS_1


Agung segera membagikan kertas lembar kosong.


“Baik, saya anggap kalian sudah paham. Maka sekarang kita langsung mengerjakan ulangan. Ingat jangan ada yang menyontek.”


Sesaat kelas menjadi sunyi. Hampir tak ada suara apapun. Hanya kertas yang bergeser di meja, sebab Agung menjaga dengan ketat. Ia mondar mandir dari meja depan ke belankang hingga waktu selesai.


Tak ada celah untuk Galih bertanya kepada Nuri begitu pula dengan yang lainnya.


Hingga bel panjang membuat para siswa mendengus kesal.


“Nuri tolong bantu bawa kertas ulangan ini ke kantor!” perintah Agung saat melihat Nuri hendak keluar.


Tanpa menolak Nuri mengajak Galih dan Atika menuruti perintah Mr. Agung.


“Tumben, kesambet apaan si Nuri? Langsung otw aja,” ejek Galih.


Saat memasuki ruang guru tak sengaja pandangan Nuri menangkap sosok Azam disana sedang berbincang dengan Adam dan guru yang lain. Pendangan mereka saling bertemu. Ingin menyapa namun segan, Nuri hanya mengangguk seakan memberi isyarat kepada Azam.


Azam yang sudah paham pun hanya tersenyum.


“Itu kan mas Azam, adiknya pak Adam. Beda banget ya. Gak kayak pak Adam yang selalu jutek,” lirih Atika.


“Senyumannya pun menggoda,” timpal Galih. Nuri hanya menggeleng mendengar setiap penuturan dari temannya. Andaikan saja mereka tahu bahwa dirinya adalah adik dari kedua orang yang sedang mereka gunjingkan entah seperti apa reaksi mereka.


Bersambung. . .


Mari tinggalkan jejak!


Like dan komen sudah cukup bagi Author.

__ADS_1


__ADS_2