
Tak ada celotehan yang menggema di ruang makan. Hanya dentingan piring dan sendok yang beradu. Mungkin benar tiangnya rumah tangga adalah seorang istri. Jika sang istri bahagia, maka seisi rumah akan merasakan kebahagiaan namun, jika sang istri marah, maka seisi ruangan akan terasa panas, luruh seketika terbawa amarahnya.
"Mas, aku berangkat dulu." Tak melupakan sebagai kodrat istri, Nuri mencium punggung telapak tangan Agung. Meski rasanya Agung ingin sekali mendekap dan mencium keningnya, Agung hanya bisa menahannya. Membiarkan sang istri melampiaskan segala amarahnya, memberi waktu untuk menenangkan pikirannya. Tetap bagaimana pun, Agung tak akan bisa menarik masa lalunya untuk tidak melakukan perbuatan dosa tersebut.
"Aku antar ya," tawar Agung.
Nuri menggeleng.
"Gak usah! buat apa mama Maya membelikan aku mobil jika tak di pakai!" ujar Nuri.
"Tapi kamu belum menguasai."
"Mas salah! buktinya selama satu minggu aku bisa membawanya tanpa ada mas Agung menjadi sopirku."
Kali ini Agung memilih mengalah, memang ada benarnya ucapan Nuri. Selama satu minggu ia mengabaikan istrinya tanpa tahu bagaimana ia pulang.
Demi pekerjaan ia sampai membuang waktunya dengan Nuri.
Menatap kepergian Nuri, Agung hanya membuang nafas kasarnya.
....
Nuri duduk di bawah pohon sambil membaca sebuah buku.
Di temani dengan semilir angin dan segelas coffelate, Nuri terlihat menikmatinya hingga tak menyadari bahwa sosok Juna telah duduk di sampingnya.
"Astagfirullahaladzim," pekik Nuri kala matanya menangkap sosok Juna terhanyut dalam lamunannya.
"Selamat pagi, Nuri?" sapa Juna sambil tersenyum. Melihat wajah damai Nuri, Juna seakan terpesona dengan wajah ayunya.
"Kamu kok sendiri aja? boleh dong kakak temenin," rayu Juna.
__ADS_1
Nuri hanya menatap Juna. Terlihat sangat lucu baginya, wajah Juna yang sok imut lalu mengangguk.
"Kakak gak ada kuliah?" tanya Nuri.
"Nanti sore kuliahnya," jawab Juna.
Nuri mengernyitkan dahinya. Yang benar saja, kuliah sore tapi masih pagi sudah berada di kampus.
"Lah, ngapain kesini pagi? gak ada kerjaan aja," ucap Nuri.
Juna menggaruk tengkuknya sambil nyengir.
"Soalnya mau liat kamu."
Nuri yang tengah menyedot Coffelatte langsung tersedak. Yang benar saja, Juna memang konyol
Entah hanya sebagai rayuaan maut atau hanya sekedar iseng namun, Nuri merasa Juna terlalu berlebihan.
"Kak Juna kalau ngelawak bisa juga ya." Nuri mencoba menutupi perasaannya yang ambigu.
Bahkan Nuri baru mengetahui saat dirinya mendaftarlan diri.
"Nuri, aku serius suka sama kamu sejak pertama kali kita bertemu." Juna menjeda kalimatnya. Mencoba menetralkan detak jantungnya.
"Maukah kamu menjadi kekasihku? kekasih halalku?" Juna memejamkan matanya, mengeluarkan gejolak dalam dadanya. Juna sudah siap dengan jawaban Nuri. Meski ia akan mengetahui jawaban Nuri namun, lebih baik berterus terang dari pada harus menyimpannya.
Tubuh Nuri kaku, memandang Juna tidak percaya.
Bagaimana reaksi pria di depannya jika tahu Nuri telah bersuami, pasti Juna merasa patah hati.
"Kak." Nuri menatap Juna.
__ADS_1
"Aku hanya menganggap kakak sebagai senior dan juga kakakku. Maaf, aku tidak bisa untuk itu." Nuri menunjukkan jari manisnya telah melingkar sebuah cincin pernikahan.
Mata Juna terbuka lebar seakan tidal percaya.
"Ka... kamu su... sudah menikah?" Juna merasa badannnya luruh seketika. Kalau sudah seperti ini jelas ia tak akan bisa mengejar Nuri semakin dalam.
Sudah pasti Juna tak ingin menjadi orang ketiga di dalam rumah tangga Nuri.
Merasa kecewa, tapi apalah daya. Dirinya telah terlambat. Terlambat sangat jauh.
Nuri mengangguk pelan. "Maaf kak Juna, Nuri sudah menikah. Nuri merasa bangga dengan kakak yang berani mengungkapkan sebuah perasaan dari pada memendam dan menjadi seorang pengecut."
Juna tercengang, sossok Nuri yang sesuai harapannya ternyata sudah di dahului orang.
Siapakah sosok lelaki yang beruntung mempersunting wanita sebaik dan secantik Nuri.
.
.
.
.
.
**Like
Komen
Beri Hadiah
__ADS_1
Aku bagi poin sama kalian, tapi kalian gak mau bagi bunga atau kopi sama aku.
Kuharap kalian bisa menghargai usahaku. Aku Nulis hampir dua jam, kalian baca paling cepat dua menit siap tanpa ninggalin jejak. Kan aku jadi syedih liatnya**.