Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Rian Kepo


__ADS_3

...Jika sebuah kepercayaan adalah kunci ketenangan rumah tangga...


...maka, aku rela sepenuhnya untuk percaya kepada suamiku....


...- NURI-...


Menjalani hari hari seperti biasa tanpa bayangan Via, Nuri memberikan kepercayaan penuh kepada suaminya, bahwa hubungan mereka telah berakhir. Dan, Nuri sangat meyakini bahwa Agung tidak akan tega melakukan perbuatan keji bersama Via.


Nuri mengaduk susu di gelasnya, setelah menyeduh teh untuk suaminya. Keadaan Nuri sudah jauh lebih baik ketimbang beberapa minggu lalu. Ia sudah tidak merasakan mual ataupun pusing lagi.


Agung terlihat sangat gagah dengan setelah jas kerjanya, mengecup singkat kening Nuri lalu duduk di meja makan.


"Wah, masak sebanyak ini, siapa yang mau menghabiskan?" tanya Agung kagum melihat berbagai makanan tersaji diatas meja.


Nuri tersenyum lalu mengambilkan nasi serta lauknya ke piring Agung.


"Iya sengaja, nanti Zahra akan kesini. Kami akan mengerjakan tugas kuliah," jawab Nuri.


Agung mengangguk lalu menyuapkan nasi kedalam mulutnya.


"Bagaimana kuliahmu? Apa Juna masih suka mengganggu?"


Nuri menautkan alisnya. Bahkan ia sudah melupakan seniornya yang bernama Juna tersebut.


"Dia sudah tak pernah menemuiku, Mas," ucap Nuri.


.....


Di kampus Nuri segera menemui Zahra, sahabatnya yang di cari ternyata sudah menunggu di dalam kelas.


"Dorr...!" Nuri mengagetkan Zahra yang sibuk dengan ponselnya.


"Ih... nyebelin!" ujar Zahra cemberut lalu memasukan ponsel kedalam tasnya.


Meski begitu, Zahra tidak benar benar marah pada Nuri, ia hanya merasa terkejut saja.


Tak lama juga derap langkah seseorang menghampiri keduanya lalu menggeser bangku kosong disampingnya.


"Lagi ngobrolin apa sih?" tanya Rian tersenyum sambil menatap kedua perempuan yang ada di depannya.


"Ih, Rian kepo," ujar Zahra bersemu.


Tanpa di sadari, Nuri memperhatikan sahabatnya menatap Rian lalu mereka sama sama tersenyum.


"Hmm... aku Baygon kayaknya," sindir Nuri.

__ADS_1


Seketika wajah Zahra berubah bersemu, gadis itu menjadi salah tingkah. Berbeda dengan Rian yang yang terkekeh mendengar ucapan Nuri.


"Nyamuk di sini besar besar ya?" sindir Nuri lagi.


"Ih, Nuri apaan sih?" Zahra semakin salah tingkah.


.....


Siang itu Pak Mun sudah standby di pinggir jalan. Menurut pak Bosnya, istrinya akan pulang sekitar pukul 14.30. Sudah hampir lima belas menit belum juga ada tanda tanda Nuri keluar.


"Sabar," keluh Pak Mun.


Nuri tertawa ria bersama Zahra saat melewati koridor namun, langkahnya terhenti saat Juna menghadang langkahnya.


"Kak Juna," gumamnya.


"Hai Nuri? apa kabar? lama tak berjumpa?" sapa Juna.


Nuri merasa susuh menelan saliva saat makhluk Tuhan yang tanpan berdiri menyapanya.


"Eh, Kak Juna," sapa Zahra.


Namun, saat Zahra ingin menyapa lebih, Rian sudah berdiri di belakang Juna membuat gadis itu kembali menutup rapat mulutnya.


"Sudah mau pulang? Di jemput atau pulang sendiri?" tanya Juna


Zahra pasrah, sejujurnya ia penasaran mengapa Nuri menolak di deketin oleh cogan seperti Kak Juna.


Rian menertawakan Juna yang hanya bisa menatap punggung kedua gadis yang sengaja menginggalkanya.


"Bisa diem gak itu mulut? gue sumpel pake sepatu baru tahu luh," gertak Juna.


Juna pun ikut meninggalkan Rian yang masih menertawakan nasib jomblonya. Bukan karena tak laku namun, Juna memang memilih enggan berurusan dengan perempuan yang hanya mencintai fisiknya saja.


....


Zahra terkagum melihat perumahan yang di tempati oleh sahabatnya tersebut. Sekilas Zahra melihat jelas foto Nuri terampang luas di dinding bersama seorang lelaki. Bisa di jabarkan lelaki itu adalah suaminya.


Zahra menangkup mulutnya dengan kedua tangannya.


Berharap ia itu hanya mimpi, tapi setelah ia menepuk pipinya dan itu sangat terasa nyata.


Apa? Jadi Nuri sudah menikah?


Hampir ia terhuyung ke belakang namun ada sepasang tangan yang menangkapnya.

__ADS_1


Jantung Zahra tak kalah heboh berdendang kala melihat sosok tersebut.


"Rian," gumamnya.


Rian segera meluruskan tubuh Zahra, lalu juga ikut tersenyum melihat poster besar yang terpampang di ruang tengah.


"Itu 'kan pak Agung. Nuri udah nikah?" Rian ternyata juga ikut shock.


Tak lama Nuri sudah menuruni anak tangga dengan pakaian santai namun tetap berhijab.


"Lho, Rian!" seru Nuri.


Rian hanya cengengesan saat di interogasi mengapa dirinya bisa sampai di rumah Nuri.


Ternyata Rian sengaja mengikuti keduanya karena rasa penasaran yang mendalam.


"Ah, Rian emang super kepo." Zahra menatap Rian dengan tajam.


"Maaf Nur, kalau gak kayak gini, aku gak tahu kamu tinggal dimana," ucap Rian.


Nuri tak mempermasalahkan, toh mereka sekarang sudah tahu faktanya bahwa dirinya telah menikah.


"Sudah berapa lama kamu menikah?" tanya Zahra.


"Hampir dua tahun," jawab Nuri santai.


"Apa!" Rian terlonjak. Selama itukah Nuri menyembunyikan identitasnya.


"Berarti waktu masih sekolah kamu udah..." Ucapannya terpotong.


"Iya, aku menikah sama mas Agung abis kenaikan kelas, gak lama pas terakhir kita ketemu. Inget gak?" tanya Nuri.


Rian mencoba mengingat ingat memori di kepalanya.


Sejenak ia berpikir, pantas saja waktu itu sering datang ke rumahnya, ternyata calon manten.


.


.


.


.


Ini cerita ringan, uthor gak menghadirkan velakor. Jika iya, itu pasti udah dari kemaren² mengingat episod ini udah di angka 100an.

__ADS_1


Sebagai perempuan uthor menolak keras hadirnya velakor, meski hanya di nopel.


Bukan karena uthor takut di amuk para reader, tapi emang gitu, cerita ringan, konpliknya pun ikut ringan juga, yang berat itu Rindu, kata Dilan 😂


__ADS_2