
Acara makan malam disertai canda tawa membuat suasana menjadi lebih berwarna, namun tidak dengan Nuri. Gadis itu hanya diam selama perjamuan makan malam. Seisi penghuni meja hanya membahas masalah bisnis. Dan betapa terkejutnya Nuri saat mengetahui dana usaha bapaknya ternyata dari Dayu.
Setelah acara makan malam selesai, para lelaki memilih pindah tempat ke ruang tamu, sementara ketiga wanita itu masih membersihkan sisa kegiatan mereka. Nuri mengangkat semua piring kotor ke dapur, Maya mengelap meja makan, sementara ibu Nuri di larang mengerjakan sesuatu atas perintah Maya.
"Nduk, buat kopi untuk lima orang di depan ya!" titah ibunya. Nuri segera menuruti perintah ibunya.
Saat Nuri sedang menakar antara kopi dan gula, Maya pun menghampiri. "Jangan terlalu manis kopi untuk anak tante. Soalnya kamu udah kelewat manisnya, ntar dia malah diabebes." Sebisa mungkin Nuri menahan tawa dan panas di pipinya, sementara Maya berlenggang sambil terkekeh.
Lima menit kemudian Nuri telah keluar membawa sebuah nampan. Dengan telaten ia mengeluarkan isinya satu persatu. Entah mengapa dadanya semakin bergerumuh saat meletakkan kopi untuk anaknya Maya.
"Ehm." Dayu menatap anaknya yang sedari tadi hanya fokus kepada Nuri.
"Sepertinya ada yang udah ngebet Mah," ucap Dayu. Maya sontak mengalihkan pandangannya ke arah anaknya. "Benarkah?"
Perasaan Nuri semakin tak menentu saat arah pembicaraan menuju ke arah pernikahan. Selama ini kata tersebut belum pernah terbayangkan olehnya dan kini kedua orang tuanya membahas masalah pernikahan.
"Kalau kami sebagai orang tua sangat setuju jika Nuri di pinang oleh kamu Gung," tutur pak Ali.
Nuri hanya terbelalak mendengar ucapan bapaknya. Sementara Agung hanya tersenyum. Ingin rasanya Nuri menginjak kaki Agung namun sayangnya mereka duduk berhadapan dan terhalang sebuah meja.
"Bagaimana denganmu Ai?" Kini Maya bertanya.
"Sa-ya?" Nuri gelagapan. "Saya gak ngerti kalian bahas apa," kilahnya.
"Aduh, masa gak ngerti juga si Ai, kedatangan kami semua kesini ya ingin melamar kamu untuk anak semata watang tante. Gimana Ai menerima?" Maya langsung ke intinya.
Sebenarnya Nuri telah mempunyai firasat seperti ini, namun ia tepis jauh. Nuri masih terdiam belum bisa membuka mulut untuk menjawabnya.
__ADS_1
Keputusan yang berat. Sudah terlihat jelas raut kebahagiaan di antara para orang tua, serta sudah banyak keluarganya berhutang budi pada keluarga Agung.
Sungguh Nuri tak sanggup melihat orang tuanya menanggung kekecewaan untuk yang kesekian kalinya. Bila dengan cara ini bisa membuat orang tuanya bahagia maka Nuri tak akan merasa keberatan dengan keputusan ini.
"Nduk." Ibunya mengelus pundak Nuri. Membangunkan dari lamunannya.
"Iya Bu," ucapnya lirih.
"Iya apa," tanya Azam.
Saat ini tatapan tertuju kearah Nuri. Hal itu membuatnya semakin risih. Dalam hati Nuri ingin menjambak Azam yang telah membuatnya malu.
"Iya, Nuri bersedia menikah dengan pak Agung tapi-" Ucapan Nuri terpotong membuat suasana mencekam.
"Tapi apa Ai?" Sungguh Maya merasa penasaran dengan kalimat Nuri.
Akhirnya semua bernafas lega. Mereka mengucap syukur bersama dengan wajah berbunga. "Alhamdulillah."
Namun tidak dengan Agung. Raut wajahnya tiba tiba berubah masam. Seakan tidak setuju akan keputusan Nuri.
"Mah, setahun itu lama lo, gimana nanti kalau Nuri berubah pikiran dan membatalkan pernikahan ini," protes Agung.
"Kayaknya lo udah tahan deh," goda Azam.
Seketika wajahnya Agung memerah. "Gak tahan jomblo maksud gue," sambungnya lagi.
Semuanya pun tertawa. Ingin sekali Agung menonjok bibir Azam saat ini jika tak ingat tempat.
__ADS_1
"Pikiran lo terlalu ngeres bro," bisik Azam pada Agung. Seketika juga Agung menginjak kaki Azam. Kakak Nuri pun sebisa mungkin menahan rasa sakit.
"Setahun itu cepat kok, ibarat kata hanya secepat membalikan telapak tangan. Yang penting Nuri sudah setuju. Toh kalian juga akan sering bertemu di sana." Maya terlihat sangat bahagia, begitu juga dengan bu Aisyah dan pak Ali.
"Berhubung Nuri sudah setuju maka ini-" Dayu memberikan kotak kecil berwarna merah.
"Ayo pakaikan kepada calon menantu Papa," titah Dayu.
Dengan segera Agung mengambil benda tersebut dan berjalan menuju ke arah Nuri. Tak bisa di katakan lagi bagaimana keadaan jantung Nuri saat ini. Jujur saja dahulu semasa ia masih usia anak anak mempunyai mimpi bisa menikah dengan Agung. Dan saat ini mimpinya telah di depan mata. Entah harus bahagia atau kesal akan menjadi calon istri Mr galak ini.
"Hei, bukan begitu caranya. Apa tak ingin sepatah yang ingin kau katakan kepada adik ku yang tersayang ini." Lagi lagi Azam menggoda Agung.
"Setidaknya ucapakan, maukah kau istri ku." sambungnya lagi.
Dasar Azam gila. Tunggu saatnya. Akan ku balas.
Agung hanya mampu mengumpat dalam hati.
Rasa gerogi luar biasa. Tak seperti yang ia bayangkan tadi ketika telah sampai di hadapan Nuri. Sepertinya saat sidang skripsi tak setegang ini. 'Ya Allah berilah hamba Mu ini keberanian'
Setelah berdoa dalam hati Agung menarik nafas panjang. "Nuri Salsabila Ramadhani, bersediakah kamu menjadi pendamping hidupku untuk selamanya?"
Deg.
Kalimat yang sangat langka ia dengar. Jantung memompa begitu cepat, rasanya ingin terbang ke awan. Sungguh terharu Nuri mendengarkan lamaran Agung padanya.
"Saya bersedia Pak," jawab Nuri dengan menunduk.
__ADS_1