Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Tidak Hilang


__ADS_3

Agung terbelalak saat memasuki ruangannya. Mangambil nafas dalam untuk berteriak namun, langkahnya ia urungkan kala melihat kedua anaknya sama sama terkapar di sofa panjang.


Saat itu juga matanya melihat Ilyas tergeletak di bawah sofa dengan badan di gulung kain gorden dengan menyisahkan ujung kepala dan kakinya yang tak terbungkus.


"Hei.. apa yang kau lakukan? Aku menyuruhmu menjaga anakku, bukan tidur?" sentak Agung.


Saat itu juga sejuta harapan terpancar meski, ingin memaki.


"Bos, tolong!" rintahnya.


Agung menautkan kedua alisnya.


"Bos, semua ini ulah anakmu! Lihatlah, aku sudah di buat seperti mayat hidup," adunya pada Agung.


Dengan segera, Agung membebaskan Ilyas dari belenggu yang di buat oleh kedua anaknya.


Ilyas masih duduk lemas bersandar di sofa, dengan wajah memelas ia menceritakan ulah kedua bocah kembar bagaimana menyiksa dirinya.


Mendengar cerita Ilyas, tak hentinya Agung menertawakan nasib sial yang menimpa Ilyas. Baru juga sebentar ia menitipkan anaknya sudah membuat ulah yang di luar dugaan. Padahal selama ini Agung tak pernah melihat kejahilan anaknya kala berada di rumah. Sejenak ia termenung, apakah anaknya juga melakukan hal serupa kepada Nuri?


"Sudahlah, kau boleh pulang. Anggap saja aku sedang berbaik hati padamu. Gajimu aku naikan dua puluh persen," ucap Agung.


Mendengar angka dua puluh persen membuat mata Ilyas nyaris keluar saking terkejutnya. Tumben, ada angin apa sang bos bermurah hati padanya. Apa mungkin ini ganti rugi atas ulah anaknya?


"Serius, Bos? Terimakasih banyak bos," Refleks, Ilyas segera memeluk tubuh Agung saking bahagianya.


"Menjijikkan," umpat Agung sambil mendorong tubuh Ilyas kasar.

__ADS_1


"Sumpah, aku terharu, Bos. Kalau kayak gini mah, Siska bakalan segera aku halalkan, Bos."


"Eit... jangan senang dulu! Sebab tugasmu nambah, tapi tidak untuk setiap hari." ucap Agung.


"Apa itu, bos? Saya siap mengerjakan segenap jiwa dan raga." Ilyas tak sabar mendengar tugas barunya.


"Setiap hari Jumat dan Sabtu kau harus menjaga anakku disini, karena hari itu adalah jadwal kuliah istriku. Karena aku rasa kedua anakku menyukaimu," tutur Agung.


"What? Kalau itu tugasnya, lebih baik saya tidak naik gaji, Bos," tolak Ilyas pasrah.


"Tidak bisa! Tadi kau sudah menyetujui."


Ah, sepertinya hariku akan seperti Neraka di buat anak itu.


Harusnya aku menyadari, jika mereka keturunan siapa, gerutu Ilyas dalam hati. Jika ia tak membutuhkan uang, maka sudah dari dulu ia resign.


"Rayan sama Riyan mau makan apa?" tanya Agung.


Belum ada jawaban dari keduanya lalu Briyan membisikan sesuatu di telinga Brayan.


Brayan pun mengangguk.


"Spageti, Pa," ujar Brayan.


"Oke." Agung memanggil seorang pramusaji dan mengatakan pesanannya.


Sedangkan Ilyas masih menatap kedua bocah polos yang ada di hadapannya saat ini? Hah? bocah polos? Apakah ada bocah polos yang mengerjainya hingga hampir mati.

__ADS_1


"Om, Ilyas masih marah sama kami?" Tiba tiba bibir mungil Brayan bersuara.


"Om, Kami minta maaf. Jangan marah lagi ya!" timpal Briyan dengan memasang wajah imutnya.


Begitu juga dengan Brayan, yang ikut membujuk Ilyas.


Meski pun merasa sangat kesal namun, bagaimana bisa Ilyas mengabaikan kedua bocah yang menggemaskan yang sedang merengek meminta maaf.


"Iya, iya. Oom maaf maafkan! Tapi jangan kalian ulangi lagi," tegur Ilyas.


Kedua bocah itu langsung berhamburan ke pangkuan Ilyas.


"Terimakasih, Om Ilyas." Briyan dan Brayan sudah memeluk Ilyas bergantian.


Keempat lelaki itu menikmati makan siang dengan di selingi dengan ocehan kedua bocah kembar yang menggemaskan itu.


Sementara itu, Nuri telah menginjakan kaki di rumah. Dengan segera ia mengeledah kamar anaknya yang terlihat masih kosong.


Pak Mun dan mbak Inah pun juga belum terlihat batang kepalanya. Mendadak kepala Nuri merasa berdenyut, dadanya sudah naik turun.


Dengan keadaan panik, Nuri segera menyambar teleponnya untuk menghubungi suaminya.


"Mas, Si kembar hilang." Tak ada basa basi Nuri segera mengadu.


"Ai, tenang dulu," ucap Agung dari seberang telepon.


"Mas, si kembar hilang!! gimana aku bisa tenang!" teriak Nuri di depan ponselnya.

__ADS_1


"Mereka tidak hilang. Mereka ada disni."


__ADS_2