Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Permintaan Konyol


__ADS_3

Hari hari telah berlalu. Perlahan sosok Brayan telah melupakan emosinya kepada sang ayah.


Dan kini hubungan mereka sudah dekat seperti sedia kala. Brayan tak lagi segan untuk bermanja kepada Agung.


Brayan dan Briyan sudah memasuki libur sekolahnya. Sedangkan Nuri bulan depan juga akan melakukan wisuda.


"Ma, kita jadi 'kan liburan?" Tagih Briyan.


Nuri yang sedang menyiapkan sarapan pun menakutkan alisnya, kemudian menatap kearah suaminya.


"Coba tanya sama Papa? Kalau Mama sih mau mau aja," ucap Nuri.


Agung yang baru saja turun dari tangga langsung mendapat tatapan serius dari kedua bocah keriting yang hendak sarapan.


"Kenapa kalian menatap Papa seperti itu? Apa ada yang salah?" tanya Agung bingung.


"Pa, kami udah libur sekolah. Jadi 'kan kita liburan?" todong Briyan.


Agung yang baru saja duduk membuang nafas kasarnya. Melihat harapan yang tinggi dari buah hatinya untuk liburan, Agung tak sanggup untuk menolaknya, meski ia tahu bahwa kerjaan di kantornya sedang banyak kerjaan.


"Iya. Pasti jadi dong," jawab Agung segera.


"Yee..." teriak kedua bocah kembar itu lalu dengan cepat menghambur memeluk Agung.


"Serius ya, gak boleh bohong!" ancam Brayan.


"Iya janji dong," seru Agung.


. . .


Setelah kepergian Agung ke kantor, Nuri memilih membersihkan sebuah taman kecil yang ada di samping rumah. Meski tidak luas namun, tanaman Nuri terlihat sangat rapi. Apalagi saat ini bunga bunganya mulai bermekaran.


"Mama ngapain disini? Aku capak nyari Mama.," gerutu Brayan.


Nuri mengalihkan pandangannya, menatap ke arah Brayan.


"Kan tadi Mama udah bilang mau liat bunga Mama," ucap Nuri.

__ADS_1


"Terus itu tangan Mama kenapa kotor?" ketus Brayan.


"Mama bersihkan rumputnya, sayang," ucap Nuri kembali.


Brayan segera mengambil selang air lalu segera mengarahkan ke tangan Nuri.


"Cepat cuci tangan Mama. Biarkan mbak Inah dan pak Mun yang membersihkan! Kan itu tugas mereka," ujar Brayan.


Nuri segera menuruti ucapan anaknya. Entah kenapa bisa Brayan memiliki pemikiran yang seperti ini. Namun, dalam hati Nuri sangat bersyukur. Disaat anak seusia dengan Brayan hanya di gunakan untuk bermain tanpa memperdulikan perasaan orang di sekitarnya namun, Brayan sangat peka dengan hal sekecil apapun, terutama kepada Nuri, sang ibu.


"Iya, iya Bos." Setelah melaksanakan perintah anaknya Nuri segera masuk kedalam rumah.


"Emang kita mau ngapain sih, Ray. Kok Mama di ajak ke kamar kalian?" tanya Nuri penasaran karena Brayan sudah menggandeng tangan Nuri menuju kamarnya.


"Aku sama Riyan mau di buatkan adek bayi, Ma. Sekarang Mama buat ya." pinta Brayan.


Nuri menghentikan langkahnya setelah mendengar penuturan sang anak. Sungguh permintaan yang sangat konyol.


Terlihat lagi Briyan sudah mengeluarkan pakaian miliknya yang sudah tak di pakai.


"Ini kenapa bisa keluar?" tanya Nuri segera saat melihat beberapa potong baju berserak di lantai.


Nuri menarik napasnya dalam dalam, memijit pelipisnya yang mulai berdenyut. Apa mereka pikir membuat adek bayi seperti membuat boneka barbie?


"Ma, kok malah bengong sih?" tegur Brayan.


"Jangan bilang Mama gak mau buat kan?" tebak Briyan.


"Mama jahat," rengek kedua bocah itu bersamaan lalu memanyunkn bibirnya serambi melipat tangannya di dada.


"Eh, kok gitu?" Nuri mendekati keduanya namun, kedua bocah itu seperti mengacuhkan ibunya dan memilih menaik ke atas kasur.


"Masa cowok ngambek," sindir Nuri.


"Mulai sekarang kami akan mogok ngomong sama Mama," ucap Briyan.


Nuri menautkan alisnya. Ingin rasanya ia menertawakan aksi konyol kedua bocah kembar ini.

__ADS_1


"Gak sekalian nih mogok makan?" sindir Nuri lagi.


Kedua bocah itu serempak untuk menggeleng.


"Gemes banget sih! Anak siapa sih ini?" Nuri mencubit pipi kedua anaknya karena saking gemasnya.


Aku juga tak tahu kami anak siapa, Ma. batin Briyan.


Dasar Mama amnesia. Jelas jelas kami anak Mama dan Papa masih saja bertanya.


. . .


"Papa," teriak kedua bocah kembar saat Agung baru saja membuka pintu rumah. Agung sengaja pulang cepat agar bisa meluangkan waktu untuk keluarganya.


Rasa lelahnya lenyap seketika kala dua bocah kembar telah menghambur kedalam pelukannya.


"Mama jahat," Adu Brayan.


"Iya, Mama jahat, Pa. Kasih hukuman lagi dia," tambah Briyan.


"Kami berdua juga mogok ngomong sama Mama," imbuh Briyan .


Agung yang menggendong kedua bocah itu hanya menertawakan aduan mereka.


"Memang Mama jahat kenapa, sayang?" Agung menurunkan kedua anaknya di sofa dan ia pun juga ikut duduk di sana untuk mendengar jelas pengaduan kedua anaknya.


"Mama jahat gak mau buatkan kami adek bayi, padahalkan hari itu sudah berjanji," cerita Briyan.


Agung yang mendengarkan seketika tak dapat berucap untuk membela kedua anaknya. Bagaimana mungkin secepat itu bocah itu menagih sesuatu yang terlupakan olehnya.


"Papa kenapa diam? Jangan bilang Papa juga tidak mau kan?" tebak Brayan.


Agung menggeleng. "Bukan begitu tapi..."


"Tapi apa, Pa?" tanya kedua anaknya bersamaan.


"Apa kalian tahu cara membuat adek bayi?" tanya Agung lirih. Kedua bocah polos itu menggeleng bersama juga.

__ADS_1


Dasar bocah, batin Agung.


__ADS_2