Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Luluh


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, Maya dan Danu telah kembali dari Surabaya. Nuri yang hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar tiba tiba di panggil oleh Mbak Mar.


"Mbak Nur, nyonya sudah pulang. Anda di tunggu di ruang tengah." Suara Mbak Mar dari luar pintu. Nuri yng mendengar ucapan Mbak Mar segera bangkit dari meja belajarnya.


Menuruni anak tangga dengan perasaan bahagia, gadis itu ingin segera bertemu dengan mama mertunya.


"Eh, menantu Mama," ucap Maya saat Nuri tengah berjalan menghampinya.


Nuri segera menyalami tangan kedua mertuanya lalu berbincang sebentar. Maya yang terus berceloteh menceritakan perjalanan ke Surabaya tak memberi kesempatan Nuri untuk menyela.


"Kenapa aku tak melihat Agung?" tanya Danu.


Nuri hanya bisa melenan saliva. Bagaimana jika mertuanya tahu bahwa Agung sudah dua hari tak pulang ke rumah karena repot harus bolak balik karena jadwal mengajar begitu padat.


"Dia belum pulang, Pa," jawab Nuri.


Sudah pukul tujuh malam namun belum ada tanda tanda Agung pulang. Nuri semakin resah saat pesan dan panggilan telepon tak ada jawaban.


Apa yang harus is katakan jika mertuanya menanyakan keberadaan anaknya. Jika Nuri berkata jujur, sudah pasti mertuanya akan murka.


Kembali terdengar ketukan pintu dan suara Mbak Mar yang manggil untuk makan malam.

__ADS_1


Terlihat Maya dan Danu bercengkerama dwngan hangat. Senyum Nuri terukir lebar menyaksikan pasangan baruh baya tersebut.


"Agung belum juga pulang?" tanya Danu.


Nuri hanya menggeleng. Namun siapa sangka sebuah tangan merangkul tubuh Nuri dari belakang. Terkejut itulah yang Nuri rasakan.


"Maaf sudah membuat kalian menunggu, tugas hari ini sangat padat." Seolah tanpa berdosa kata itu terucap dari mulut Agung.


Makan malam berjalan dengan lancar, meski Agung tak membersihkan badan terlebih dahulu.


"Penganten baru Jangan ngurung di kamar. Ingat istri masih seorang pelajar," sindir Maya.


"Ai, Mama ada oleh oleh untuk kalian. Setelah mengurus suamimu segera ke ruang keluarga ya," titah Maya.


"Maaf tadi tak membalas pesan dan mengangkat telepon," ucap Agung datar.


Tak ada jawaban daei gadis tersebut. Setelah menyiapkan pakaian untuk Agung Nuri segera menemui mama mertuanya di ruang tengah.


.......


Selepas Maya pulang, Nuri tak bisa memegang peralatan dapur lagi. Dirinya bak nyonya muda, semua kebutuhan sudah siapkan. Ingin belajar di taman belakang saja harus di kawal oleh Mbak Mar. Sungguh membosankan.

__ADS_1


Hanya tinggal dua minggu lagi namun terasa begitu sangt lama untuk Nuri. Setelah dua minggu ia akan bebas menghirup udara segar di asrama.


"Gak bisa gitu dong Ag, kamu harus pulang!" Terdengan sedikit bentakan dari Maya.


Terlihat Agung tengah mengutarakan niatnya untuk menginap di pondok.


"Jangan gila kamu!" sergah Maya.


"Ma, hanya untk malam ini saja. Agung harus menyiapkan tugas untuk mereka ulngan harian," beber Agung.


Maya bersikeras melarang Agung untuk menginap di pondok. Sementara Agung masih tetap pada pendiriannya.


Sebenarnya Nuri tak ingin membela Agung namun, ia merasa kasihan saat Agung harus pulang pergi dari rumah ke asrama.


"Ma, biarkan saja lah," pinta Nuri.


"Kamu ngomong apa sih Ai?" Jujur Maya tak terima dengn ucapn Nuri.


Nuri pun menjelaskan niat Agung yang ingin bermalam di pondok.


"Ini karena kamu yang meminta ya Ai!" Maya akhirnya luluh.

__ADS_1


Bersorak dalam hati karena telah menang dari mamanya, setelah berpamitan dengan Nuri Agung segera melajukan mobinya dengan pelan.


__ADS_2