
Nuri merasa tak enak hati terhadap Haris, sebab ia lupa untuk memberi tahu bahwa dirinya tak bisa menyusul ke kantin.
Terlihat dari raut kecewa dari wajah Haris. Walupun lelaki itu mengatakan tidak apa apa namun Nuri tahu bahwa Haris menyembunyikan rasa kecewa terhadapnya.
Begitu juga dengan Ratna dan Galih kedua gadis itu tak henti hentinya mengoceh meluapkan rasa kecewanya terhadap Nuri dan Tika.
“Bilang kek kalau bawa bekal, kita udah nungguin sampe berkarat taunya kalian udah makan disini” Ratna masih terus menggerutu.
“Maaf.” Hanya satu kata yang sedari tadi Nuri ucapkan untuk menjawab berbagai pertanyaan.
“Berarti kamu masih ada hutang sama aku Nur.” Haris menanggap janji adalah hutang.
Dengan penuh rasa penyesalan Nuri mengiyakan ucapan Haris.
Setelah sampai di asrama Galih dan Ratna masih dalam mode ngambek. Berkali kali Tika mengajak berbicara namun keduanya tetap saja diam.
Nuri yang sedari pulang sekolah belum juga terlihat di asrama membuat Tika khawatir. Kedua sahabatnya melihat raut ke khawatiran di wajah Tika tak tega jika terus berpura pura marah.
__ADS_1
“Udah jangan sedih.” Tika terbelalak saat merasakan pelukan hangat dari kedua sahabatnya.
“Kita hanya ingin ngerjain kalian,” jujur Galih.
“Ih, dasar.” Dengan wajah sebal Tika melepaskan pelukan dari kedua sahabatnya membuat Ratna dan Galih tertawa.
“Eh mana Nuri?” tanya Galih.
Tika pun baru menyadari bahwa sepulang sekolah ia tak melihat Nuri keluar dari gedung sekolahan. Ia segera mencari ponselnya dan menelepon, namun tak ada jawaban dari Nuri. Tika memutuskan mengirim pesan, menanyakan dimana dirinya. Tika sangat khawatir sebab Nuri masih dalam tahap pemulihan.
Sementara itu Nuri yang kini berada di sebuah tempat foto copyan merasa sangat bosan. Hampir setengah jam ia menunggu, namun juga belum siap.
Nuri tak bisa menolak saat netranya melihat selembar uang berwarna merah di atas kertas tersebut.
Nuri yang lupa jika ia membawa ponsel, dengan girang ia segera membuka layar ponselnya. Beberapa panggilan dari Tika dan beberapa pesan masuk termasuk pesan dari Tika.
Nuri merutuki dirinya sendiri mengapa bisa sampai lupa ia tak memberi tahu sahabatnya. Nuri segera membalas pesan dari Tika agar dia tak khawatir.
__ADS_1
Terlihat lagi ada sebuah pesan dari Mr Agung.
Kalau nyebrang jalan lihat kanan dan kiri. Hati hati di jalan.
“Cih, emang aku anak kecil? Gak usah di kasih tahu pun aku sudah tau,” gerutunya.
Hampir satu jam penantian Nuri kini dirinya telah siap untuk mengayuh sepeda. Entah berapa puluh kertas foto copyan yang berada dalam tas gendongnya. Jika karena bukan Iming iming uang seratus ribu Nuri enggan menuruti perintah Azam.
Azam memang pandai merayu adiknya, ia tahu Nuri akan nurut asal ada uang jalan plus uang jajan.
Saat berjalan menuju dapur Nuri berpapasan dengan Syifa “Mbak Nur, gak usah deh nyari perhatian dari pak Azam, mbak Nur itu bukan tipenya pak Azam. Ngaji aja masih belepotan”
Nuri yang tengah meneguk minum pun tersedak. Jika ia tak mengingat dimana dirinya sekarang sudah di pastikan Nuri akan segera melucuti jilbab dan menjambak rambut gadis yang berada di sampingnya.
Kali ini Nuri menarik nafas panjang “Pak Azam aja gak keberatan, kenapa kamu malah sewot?”
“Karena pak Azam itu calon imamnya Syifa, setelah lulus Syifa pastikan kalau pak Azam akan melamar Syifa.” Dengan bangga dan percaya diri Syifa meninggalkan Nuri yang masih mengelap jilbabnya karena semburan air minumnya tadi.
__ADS_1
Dalam hati Nuri memaki gadis itu. Gadis yang awalnya ia kira adalah gadis polos dan baik hati namun nyatanya hanya seorang gadis bermuka dua.
Ogah banget kamu jadi kakak iparku. Kamu itu sama sekali bukan wanita tipenya mas Azam. Bisa ku pastikan mas Azam gak bakalan melirikmu.