Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Kamu Sakit


__ADS_3

Assalamualaikum...


Sebelumnya Uthor mau ngucapin minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir & batin.


Mohon maaf untuk sebelumnya, uthor lama menghilang tanpa jejak.


...Happy Reading...


Kali ini Agung berangkat kerja dengan perasaan tak menentu.


Setelah di tolak Brayan dan sikap Nuri yang lebih banyak diam membuatnya berpikir keras apakah ada kesalahan yang ia lakukan.


Berjalan gontai hingga sampai di ruangan kerjanya namun ternyata disana sudah ada Mona yang menunggu kedatangan Agung.


"Kamu disini?" tanya Agung heran.


Duduk di sofa sambil melebarkan senyumnya , Mona mengngguk. "Iya, kan aku udah bilang sama kamu, kamu masih punya hutang sama aku." Perempuan itu berjalan mendekat kearah meja kerja Agung.


Agung menatap wanita yang ada di hadapannya saat ini sambil memijit pelipisnya yang sedikit berdenyut.


"Iya, aku tahu, tapi jangan sekarang! Kamu tahu kan, istriku masih sakit," ujar Agung.


Mona menarik kursi di depan meja Agung lalu mendaratkan tubuhnya. Raut wajah yang semula ceria lini berubah masam.


Ia hanya memperhatikan Agung yang telah sibuk dengan laptopnya dengan perasaan jengkel.


"Kamu gak ada rencana mau pergi kemana gitu?" tanya Agung yang mulai risi, karena sejak tadi Mona terus menatapnya.


"Ada sih, tapi kamu sibuk. Jadi aku disini aja nemenin kamu," ucap Mona singkat.


Agung menarik nafasnya, sejenak ia menatap Mona, teman lamanya ini sama sekali tidak berubah.


"Mona, kamu tahukan kalau aku sudah mempunyai keluarga, dan aku telah bahagia bersama mereka?" Agung berusaha mengingatkan statusnya kepada Mona.


"Aku tahu," jawab Mona sekilas. Netranya tak lepas menatap lelaki yang tak pernah sedikitpun membalas perasaannya dari dulu.


"Bisakah kamu keluar? Aku tak ingin beredar gosip jika kamu terus berada di ruanganku."


Mona menggeleng, menatap sengit kearah Agung.

__ADS_1


"Kamu ngusir aku?" tekan Mona.


"Agung, asal kamu tahu, hampir sepuluh tahun aku menjaga jarak sama kamu tapi rasa ini tetap masih ada


meski aku tahu kamu sudah berkeluarga.


Agung, aku cinta sama kamu." Air mata meleleh begitu saja.


Agung meraup wajahnya.


"Kamu udah sakit, Mon," tegas Agung kemudian menelepon seorang satpam.


Dengan segera dua orang satpam masuk kedalam ruangan Agung.


"Bawa perempuan ini keluar sekarang!" titah Agung.


Mona hanya menggeleng. Ia tak pernah percaya jika Agung akan memperlakukan dirinya seperti ini.


"Jangan sentuh aku! Apa kalian tahu siapa aku? Aku adalah direktur MG Grup," teriak Mona saat di tarik paksa oleh kedua satpam.


Namun, tepat di depan pintu Agung menghentikan langkah ketiganya. "Tunggu,"


"MG Grup dan AG Grup tidak bisa melanjutkan kerja sama." Terlihat Agung telah merobek kertas putih dan membuangnya kelantai.


Mata Mota melotot, ia pun meremas kedua telapak tangannya, sambil menghentakan kakinya ia berlari meninggalkan ruangan Agung dengan sejuta rasa kekesalan.


Sementara itu di rumah, keduah bocah kembar telah berceloteh mengisi setip sudut ruangan. Nuti yang sudah membaik pun menemani kedua bocah itu menggambar.


Meski terlahir kembar namun, kedua bocah itu mempunyai hobi yang berbeda. Jika Briyan mempunyai hobi menggambar, berbeda dengan Brayan yang hanya suka merakit segala jenis mainan. Membongkar pasang adalah hobinya.


"Ma, liburan sekolah bulan depan kita pergi jalan jalan ke luar negeri ya, seperti Meimei yang tiap bulan diajak nenek keluar negeri," ucap polos Briyan.


Nuri menatap sejenak kearah Briyan yang masih tetap menggambar. Sebenarnya bukan tak bisa mengajak anaknya liburan namun, mengingat padat jadwal kuliah dan Agung masih sibuk dengan pekerjaan membuat mereka jarang liburan bersama.


"Iya, tapi mama gak janji ya. Kan Riyan tahu kalau papa itu masih sibuk kerja."


"Sibuk kerja atau sibuk..." Brayan tak melanjutkan ucapannya .


"Rayan," sentak Nuri.

__ADS_1


Brayan mebuang muka, namun tangannya tetap merakit mainan.


"Emang selain sibuk kerja, papa sibuk apa?" tanya Btiyan polos.


Nuri tak mampu menjawab, wanita itu hanya mampu menelan saliva. Entah kenapa sikap Brayan terlalu dewasa dan emosional. Bukan tak tahu, Nuri telah menyadari semenjak Brayan melihat kejadian waktu itu, sikapnya telah berubah dingin kepada papanya.


Dalam hati Nuri akan menasehati namun, menunggu Briyan tertidur dahulu.


"Kalau udah siap, jangan lupa cuci tangan dan kaki lalu kita..."


"Tidur siang," jawab keduanya serentak.


Nuri pun mengangguk lalu meninggalkan kedua bocah itu yang sibuk membereskan mainnya.


Sesaat Nuri memasuki kamar anaknya, terlihat Briyan sudah memejamkan matanya namun, tidak dengan Brayan, bocah itu masih melihat lihat buku dongeng bergambar hewan.


"Lho, Rayan belum tidur siang?" tanya Nuri.


Bocah itu hanya menggeleng.


"Kenapa? mau dibacain dongeng? ya udah sini."


Nuri mengambil alih buku dongeng dari tangan Brayan. Ia sudah tahu jika Brayan tak akan bisa tidur jika belum dibacakan dongeng terdahulu.


Brayan mendengarkan sang mama membaca kisah cerita dalam sebuah buku tersebut, Nuri tersenyum melihat respon Brayan.


"Rayan, mama tahu kalo Rayan lagi nyuekin papa," ucap Nuri.


"Rayan boleh merasa kesal sama papa, tapi Rayan gak boleh benci sama papa. Mama tahu niat Rayan itu baik, mau ngelindungin mama, tapi bukan seperti caranya."


"Dia gak baik ma, dia jahat!" ucap Brayan.


"Bukan dia, tapi papa, sayang." Nuri mencoba menenangkan perasaan Brayan.


"Papa itu jahat, ma," isak Brayan. Nuri mendekap tubuh mungil Brayan. Membiarkan bocah itu terisak dalam dekapannya.


"Papa itu gak jahat sayang, papa itu sayang sama kita semua,"


Haii... cuma mau menyapa, masih ada yang standby disini?

__ADS_1


__ADS_2