Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Parangtritis


__ADS_3

Agung segera membaringkan tubuhnya di samping Nuri. Meraih selimut untuk menutupi tubuhnya yang jelas saja telah keringan karena hanya selang waktu lima belas menit ia harus mandi lagi


Memeluk erat tubuh Nuri, seakan mencari sebuah kehangatan dari tubuh sang istri.


Nuri yang sempat tertidur merasakan rasa berat di perutnya.


Membuka mata pelan, Nuri terperanjat saat melihat Agung tidur dengan posisi meringkuk memeluk tubuhnya.


Wajahnya hanya berjarak lima senti dari wajah Agung. Alis yang tebal, hidung yang panjang serta wajah mulus tanpa bekas jerawat hanya brewok tipis yang tumbuh di wajahnya membuat pria di sampingnya terasa lebih menggoda.


"Please, biarkan seperti ini." Agung lebih mengeratkan pelukannya.


Nuri merasa tak tega. Nuri yakin suaminya sedang kedinginan. Memiringkan tubuhnya hingga kini mereka saling berhadapan, Nuri tangan Nuri bergerak ke pinggang Agung. Kini posisi mereka saling berpelukan.


Agung tersenyum dalam hati. Meski Nuri menutupi perasaannya namun, Agung bisa melihat ketulusan dari Nuri.


.....


Siang ini, Maya telah bersiap untuk pergi, kali ini ia bersama Dayu, sang papa mertua. Sejak kapan papa mertua ada di rumah? Bukankah tadi malam mereka mengatakan bahwa Dayu sedang berada di Surabaya.


Saat melihat Dayu, Nuri segera menyalam sang papa mertua. "Kapan Papa pulang," tanya Nuri.


Dayu tersenyum. "Subuh tadi. Bagaimana sekolah mu?"


"Alhamdulillah baik, Pa. Papa mau pergi lagi?" tanya Nuri heran. Sebab subuh tadi baru sampai rumah dan kini harus pergi lagi. Sebenarnya begitu padatkah kehidupan sang papa mertua?


"Oh, iya. Maafkan Papa. Papa sedang banyak urusan tapi, Papa berjanji setelah semua selesai kita akan liburan bersama."


Nuri hanya mengangguk. Ia menyadari bahwa papa mertuanya adalah pembisnis besar. Tapi kenapa Agung tak terjun ke dunia bisnis membantu sang papa?


Larut dalam pemikirannya, kini Maya keluar dari kamar menyeret sebuah koper besar.


"Ai, maaf, acara syukuran kamu Mama tunda dulu, Mama dan Papa ada urusan mendadak yang tak bisa di tinggalkan. Kamu jaga rumah baik baik ya. Jangan biarkan tamu sembarang masuk ke rumah." pesan Maya.


Nuri kembali di buat bingung. Bagaimana ia bisa tahu tamu sembarang atau tidak.


"Ai, mana suamimu?" tanya Dayu.

__ADS_1


Nuri tersentak. "Oh, Mas Agung di kamar, Pa." jawab Nuri segera.


Melihat Dayu hanya mengangguk Nuri berniat untuk memanggil Agung.


"Sebentar Nur panggilkan Mas Agung."


Sebenarnya Maya tega meninggalkan menantu yang selama ini di rindukan tapi apa boleh buat, urusannya kali ini benar benar mengharuskan ia pergi.


"Jal, jaga rumah dan isinya, termasuk istrimu! Papa dan Mama akan ke New York kurang lebih dua minggu! setelah semua clear kalian boleh milih mau bulan madu dimana." ucap Dayu.


Apakah bulan madu identik dengan nganu? jika tidak, maka akau akan sangat setuju untuk pergi ke paris. Andaikan saja.


"Baiklah. Aku pegang janji Papa." Agung dan Dayu beradu tos. Maya sudah tak sabar, mertua Nuri itu berkali kali melirik arlojinya, berharap segera berangkat.


"Pa, ayo! udah siang, nih!" bujuk Maya.


Dayu tersadar jika waktu penerbang satu jam lagi.


Melewati jalan understand, ini adalah kali pertama Nuri melewati jalan tersebut, sebab jalan itu baru saja di resmikan baru beberapa bulan yang lalu.


Jika dulu Airport ada di tengah kota, kali ini Airport baru terletak di pesisir selatan. Bandara yang menelan biaya sekitar 9 triliunan itu terlihat sangat megah meski jauh dari pusat kota.


"Dasar ndeso," ejek Agung dari belakang Nuri.


"Ndeso pun, Mas Agung tetap suka." Nuri terlalu percaya diri. Bagaimana jika ternyata Agung tak menyukainya.


"Memang sih," gumam Agung.


Nuri tersenyum, Tuh, kan apa ku bilang, Pak Agung itu sebenarnya suka, tapi gengsi.


Melambaikan tangan kearah Maya dan Dayu, Nuri tanpa sengaja menjatuhkan bulir beningnya. Sejak kapan dirinya cengeng?


"Ih, gak malu calon mahasiswa masih cengeng."


.....


Setelah pulang daei Bandara Agung tak segera pulang. Ia memilih menikmati harinya hanya berdua dengan sang istri.

__ADS_1


Parangtritis, adalah tujuan Agung saat ini.


Nuri sudah mengetahui jalan yang di lewati Agung. sebab ia sudah beberapa kali pernah ke sana.


"Kamu gak keberatan kan, kalau kita main ke pantai sebentar," ucap Agung.


Nuri menggeleng. "Gak, Mas. Tapi kita mau ngapain ke sana siang siang? kan panas?"


"Mau lihat sunset," jawab Agung cepat.


Hah? gak salah mau lihat sunset di siang bolong kayak gini? Ya Allah, sehatkah suami Nuri ini?


"Mas, ini masih jam satu siang lho, enam jam lagi baru bisa lihat sunset." Akhirnya Nuri mengeluarkan uneg uneg dalam hatinya.


" Ya kita tunggu lah sayang," Agung melirik licik kearah Nuri.


Mendengar pertama kali Agung memanggilnya dengan kata sayang, jantung Nuri tak bisa di kondisinya. Belum terbiasa atau memang jantung Nuri sedang bermasalah.


.


.


.


.


.


.


.


Tekan Likenya!


Butuh pasokan udara untuk bernafas.


Kasih hadiah dong biar Uthor bisa maen ke jogja.

__ADS_1


Waktu update tak menentu, Dunia nyata akhir² ini menyita banyak waktu, jadi tolong di maafkn ya!


__ADS_2