Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Permintaan maaf


__ADS_3

Agung mencoba menetralkan detak jantungnya. Ia berusaha keras mengatur nafasnya kala Nuri menceritakan kejadian hari itu sebelum kecelakaan yang dialami oleh dirinya.


Kali ini Agung dibuat tercengang karena Brayan juga ikut menyaksikan kejadian memalukan itu.


"Maaf Ai, aku lalai dan egois," ucap Agung dengan penuh rasa bersalah. Meski ia sudah berkomitmen untuk selalu terbuka kepada Nuri namun pada akhirnya ia belum terbiasa karena Nuri takut akan melukai hatinya. Tapi, dengan ketidak jujurannya malah membuat luka untuk anak dan istrinya. Apalagi pada Brayan. Pasti akan menimbulkan goresan yang dalam, meski itu hanya salah paham dan itu sudah terlihat dari cara Brayan menjaga jarak dengannya.


Nuri menarik nafas beratnya.


"Jadi bisa mas Agung jelaskan siapa Mona dan apa hubungan kalian?" desak Nuri.


Agung menghadap kearah Nuri lalu menggenggam kedua tangannya. Kali ini Agung benar benar merasa gagal menjadi sumi dan ayah yang baik.


"Mona, dia teman masa kuliah. Hubungan kami sangat dekat. Dan aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri meski ia tak setuju dan meminta lebih."


"Dan tak berapa lama, keluarganya pindah ke Singapura untuk membangun bisnis di sana. Dan... beberapa minggu lalu perusahaannya mengirim proposal untuk bekerjasama. Aku mencoba memahaminya terlebih dahulu sebelum menerima untuk bekerjasama."


Agung menjeda ucapannya sejenak.


"Dan, sebenarnya hari itu aku memang ingin bertemu klain tapi aku tidak tahu jika yang ingin ku temui adalah Mona.


Ai, maaf, tapi ini semua hanya salah paham. Aku dan Mona tidak punya hubungan apapun." tutup Agung.


Lagi lagi Nuri mendesah pelan. Kenapa harus ada banyak perempuan dikelilingi suaminya, batin Nuri.


"Ya sudahlah, Mas mau diapakan lagi?" ucap Nuri pasrah.


"Lho, kok gitu?" Agung menatap lekat pada Nuri.


"Kamu itu gak terlepas dari wanita cantik. Entah siapa lagi yang akan datang esok dan kebenaran apa lagi yng akan tercium." Nuri menatap malas pada Agung.


Entah kenapa sang ayah begitu sangat percaya kepada Agung begitu saja tanpa mencari tahu latar belakangnya terlebih dahulu.


. . .


Brayan dan Briyan jalan bergandengan tangan mengelilingi sebuah pusat pembelanjaan terbesar di kotanya.


Sedangkan Agung dan Nuri berjalan tidak jauh dari mereka.

__ADS_1


"Jangan jauh jauh," pesan Nuri pada dua boca kecil itu.


"Iya, Ma," jawab keduanya serentak.


Nuri berjalan sambil melihat lihat apa yang hendak ia beli, sementara Agung, dirinya mendorong sebuah troli yang sudah terisi setengah dengan beberapa produk kebutuhan mereka.


"Ma, boleh beli ini?" tanya Briyan menunjuk sebuah robot maina berukuran lebih kecil dari yang ia punya di rumah.


"Boleh, sini!" ucap Nuri.


Mereka berkeliling untuk mencari kebutuhan untuk beberapa minggu kedepan.


Dan kali ini Agung mereka buat seperti seorang bodyguard. Mendorong kesana sini trolli yang hampir penuh. Namun, sama sekali ia tak merasa marah.


Dirinya malah merasa bahagia, jarang jarang ia memilik waktu bersama dengan keluarga.


Semenjak Nuri masuk kuliah dan anaknya masuk sekolah mereka jarang sekali meluangkan waktu bersama untuk jalan jalan ditambah lagi semenjak perusahaan sang papa di limpahkan sepenuhnya untuk dirinya.


Tak jarang Agung juga harus sering keluar kota untuk dinas.


Nuri menatap Agung sambil tersenyum. "Papa haus?" godanya.


"Jangan menggoda, Ai," ucap Agung saat Nuri tersenyum namis kepadanya.


"Eh, siapa yang menggoda, aku hanya..."


"Ma, boleh beli ini?" teriak Briyan. Lagi lagi Briyan menunjuk mobilan beremot yang cukup besar.


Nuri melirik kearah Agung untuk mendapatkan persetujuannya. Agung hanya mengangguk.


Nuri pun langsung memasukan mobilan itu kedalm trolli.


"Lho, kok cuma satu?" protes Briyan.


Agung dan Nuri sama sama menautkn alisnya.


"Ma, ambil dua lagi," seru Briyan.

__ADS_1


"Ha? untuk apa sayang? kan satu aja sudah cukup," ukar Nuri.


Briyan menatap Agung. "Pa, kita beli tiga ya, satu untukku, satu Rayan, satu lagi untuk papa," kata Briyan dengan sangat polos.


"Biar kita bisa balapan nanti," sambungnya lagi.


Agung segera mengiyakan ide Briyan. Mungkin ini adalah cara mendekatkan diri kepada anak anaknya lagi setelah menyadari banyak waktu yang terbuang begitu saja.


"Lho, kok empat? Kan kita cuma bertiga?" protes Briyan.


"Satu lagi untuk Mama." Agung melirik kearah Nuri.


"Eh... kok Mama," sahut Nuri.


"Horee... Mama ikut main," teriak Briyan dengan girang.


Sepanjang perjalanan Nuri selalu memperhatikan sikap Brayan. Meski ia tersenyum namun ia yakin itu adalah senyuman terpaksa.


Setelah puas mengelilingi supermarket, mereka menuju restoran siap saji.


"Rayan, kita mau makan apa?" tanya Nuri.


"Terserah Mama aja," ucap Brayan.


"Lho kok gitu jawabnya? Rayan gak seru ah." Nuri pura pura bersedih.


Melihat hal itu, Brayan merasa menyesal dengan ucapannya.


"Iya, Ma. Brayan minta maaf. Mama jangan sedih ya. Brayan mau makan bakso," ucap Brayan.


"Hei, Rayan jangan kampungan dong! Ini restoran, bukan angkringan," ledek Briyan.


Ah, benar saja, Brayan lupa jika mereka tengah berada di sebuah restoran. Mana ada bakso disini.


"Kan tadi Mama nanya, aku mau makan apa. Dan lidahku sepertinya sudah candu dengan bakso pak Somad." ujar Brayan.


"Huh, selera Rayan kampungan," ledak Briyan lagi.

__ADS_1


"Biar saja,"


Begitulah, kedua bocah kecil itu beradu mulut.


__ADS_2