Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Calon Ipar


__ADS_3

Karena hari sudah semakin sore, Agung mengurungkan niatnya untuk membeli oleh oleh untuk mamanya. Hanya butuh waktu kurang lebih 45 menit Agung menempuh perjalanan pulang.


Sesampai di depan rumah, ternyata telah terparkir sebuh mobil mewah. Mungkin saja mamanya sedang kedatangan tamu, pikir Agung.


Nuri berjalan pelan di belakang Agung. Namun, tanpa sadar ia malah menabrak Agung yang terdiam diambang pintu.


"Auw, Bapak gak bilang kalau berhenti," gerutu Nuri.


Agung masih terdiam saat mengamati sosok yang sedang berbincang dengan mamanya.


Biasa saja, tak ada rasa keterkejutan di raut wajahnya.


Mendengar suara Nuri, Maya mengalihkan pandangan ke arah pintu.


"Kenapa kalian gak masuk?" tanya Maya.


Nuri pun terheran mendapati Agung yang mendadak diam saja, tak ambil pusing, setelah mengucap salam Nuri segera menyalami mamanya dan sosok tamunya. Sementara Agung memilih berlalu tanpa menyapa sang mama dan tamunya yang tak lain adalah Via.


"Ini ponakan tante ya? ih, imut banget sih tan," ucap Via.


Nuri hanya meringis saat ia dikatakan ponakan Maya.


"Bukan," jawab Maya menggeleng.


Via hanya ber-o ria mendengar jawaban Maya.


Karena merasa lelah Nuri memutuskan untuk membersihkan diri.


"Ma, Nuri kedalam dulu ya, mari kak," pamit Nuri.


Maya hanya mengangguk.


Sementara Via tercengang saat mendengar ucapan Nuri. Setahu Via, anak Maya hanya Agung seorang, lalu siapakah sosok Nuri sebenarnya.


Hatinya ingin tahu siapa Nuri namun, mulutnya terasa berat untuk mengucap.


Maya masih setia menemani Via berceloteh, menceritakan kehidupannya diluar negri sana


Sesekali Maya hanya tersenyum.


Sementara di kamar, setelah membersihkan diri, Nuri hendak turun lagi kebawah menghampiri Maya dan tamunya. Dengan tegas Agung melarangnya. "Tidak usah turun, sebentar lagi masuk waktu magrib. Sudah lama kita tak sholat berdua."


Nuri ingin tertawa, apa bedanya? toh selama satu minggu mereka sholat bersama walau itu bersama jama'ah lainnya.

__ADS_1


Menuruti keinginan Agung. "Baiklah, tapi habis sholat kita temui Mama," saran Nuri.


"Baiklah," jawab Agung pasrah.


Di bawah sana Maya di temani Via tengah sibuk menyiapkan makan malam. Meski Maya telah berusaha mengingatkan Via untuk pulang namun, gadis itu bersikeras menolak dengan alasan rindu masakan rumah. Tak tega, Maya hanya mengiyakan saja. Bagaimanapun Via dulu juga sudah terbiasa.


Makan malam telah tersaji, Mbak Mar memanggil Agung dan Nuri.


Berhubungan Dayu sedang ke pulau sumatra untuk meninjau proyek batu baranya, maka Maya-lah yang duduk di kursi kebesaran Dayu.


Agung dan Nuri bersebelahan, sementara Via duduk tepat di depan Agung. Nuri sadar bahwa sedari tadi gadis itu selalu mencuri pandangan kearah Agung. Sebenarnya Nuri penasaran, siapa sosok gadis yang begitu akrab dengan Mam mertuanya tersebut.


Disela sela makan. "Tan, sejak kapan tante mengangkat anak?" Akhirnya rasa yang terpendam sedari tadi Via tanyakan.


"Anak?" Maya mengerutkan dahinya.


"Iya, ini anak angkat tante kan? Tadi aku denger dia panggil tante Ma, artinya Mama kan?" Via menunjuk kearah Nuri.


Agung langsung tersedak mendengar penuturan Via. Sementara Maya hanya terkekeh.


"Pelan, Pak." Nuri menyodorkan gelas berisi air putih. Disaat yang sama Via pun segera memberikan gelasnya untuk Agung namun, Agung mengambil gelas dari Nuri.


Kecewa, Via menelan ludahnya kasar. "Aku tahu kamu masih marah," ucapnya.


Setelah acara makan selesai, Agung sengaja menghindari Via. Ia memilih berbohong, mendekam di ruang kerja adalah salah satu cara bahwa ia tengah sibuk.


Kini ketiga wanita masih bercengkrama di ruang televisi sambil menikmati sinetron unggulan, Mas Al.


"Rencana kamu selanjutnya apa Vi?" tanya Maya.


"Kemungkinan Vi bakalan tinggal di Indonesia Tan, sekalian mau memperbaiki yang telah berlalu," ucap Via bersemangat.


Maya sekedar melirik Via, sementara Nuri hanya fokus ke layar televisi.


"Oh, ya Tan, sedari tadi tante belum kenalin aku sama anak tante lo," ucap Via.


Maya terkekeh kembali.


"Hai, kita dari tadi belum kenalan lo. Masa sama calon ipar gak tahu namanya, kan lucu?" celoteh Via.


Nuri melotot, bukankan suaminya adalah anak tunggal. Jadi siapa calonnya?


"Calon ipar?" Nuri mengulang ucapan Via.

__ADS_1


"Iya, kenalin, aku Via calon istrinya Agung."


Deg


Seakan jantung Nuri ingin keluar. Menatap Maya, namun mertuanya hanya menggelengkan kepala sambil menyilangkan jari telunjuk ke dahinya.


Dugaan Nuri semakin kuat. Pantas saja Agung memilih menghindari Via. Ternyata ada udang di balik bakwan.


Tersenyum licik, Nuri mengulurkan tangannya.


"Nuri. Istrinya Pak Agung, sekaligus menantunya Mama Maya." Sungguh sangat puas Nuri menjabat tangan Via.


Kalah telak, Via hanya mampu menelan saliva.


Jangan ditanya, wajah Via semakin memerah.


Malu, itulah perasaan Via saat ini. Mengapa sejak awal Maya tak mengatakan yang sebenarnya, jika Agung telah menikah. Pantas saja Agung memilih menghindar, ternyata-,


"Vi, pamit pulang, Tan." Via segera bergegas keluar karena tak bisa menahan rasa malunya terhadap Nuri.


"Ai, kamu gak kepengen tahu siapa Via, gitu?" tanya Maya.


"Buat apa, Ma? Jika Via benar adalah masa lalunya Pak Agung, Nuri bisa apa Ma?" Nuri kembali menyandarkan tubuhnya di punggung sofa.


"Kamu gak takut jika Via merebut Agung, gitu?"


"Ma, kok gitu sih? Jangan jangan Mama mendukung Via jadi pelakor ya?" protes Nuri.


.


.


.


.


.


Setelah satu hari Full bergelut dengan dunia nyata, uthor menyempatkan diri untuk menghalu.


Meski like menurun, uthor terima dengan lapang.


Selamat Malam reader green tersayang 😘🤫

__ADS_1


Mon maap kalo ada typo, belum sempat mengedit.


__ADS_2