Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Sebelas duabelas


__ADS_3

Satu Minggu kemudian...


Hari masih pagi namun, tak menyurutkan semangat Maya untuk segera bertemu anak dan menantunya.


Hari ini adalah hari dimana anaknya akan dilantik sebagai pengganti suminya di perusahaan.


"Masih pagi, mungkin mereka belum bangun Ma," tegur Dayu.


Maya menatap bangunan rumah sang anak yang masih terlihat sangat sepi. Mungkin benar, penghuninya belum bangun.


"Yasudah lah Pa, kita masuk dulu ke dalam," pinta Maya.


Maya yang mempunyai kunci cadangan, dengan mudah membobol rumah sang anak.


Mendesah pelan. Benar kata sumainya. Maya berjalan menuju lantai atas.


"Papa tungu disini aja! Biar Mama yang membangunkan mereka!"


Dayu mendudukan tubuhnya di sofa. Bibirnya menarik senyum, sebentar lagi perusahaan yang ia kelola selama ini akan ia serahkan kepada sanag putera. Memilih pensiun lebih awal karena kondisnya yang sudah sering sakit sakitan. Harapan besar ia limpahan kepada anak semata wayangnya tersebut.


Benar saja, Maya hampir mengetuk pintu kamar pengantin lama yang masih hangat hangatnya.


Berdigik ngeri saat mendengar bunyi deritan ranjang serta rintihan kedua anak manusia yang tak tahu adab. Berolahraga di waktu yang seharusnya mereka berdua telah berdandan rapi untuk menghadiri acara pengangkatan Agung sebagai Direktur baru.


Maya menelan saliva saat anak dan menantunya mendesah panjang, menandakan sebuah menikmaan telah mereka capai bersama.

__ADS_1


Ingin Maya segera mendobrak pintu namun, ia memilih segera turun sambil menghentak kedua kakinya.


"Dasar anak sialan," gerutunya.


Dayu yang sedang menikmati berita pagi tiba tiba merasa merinding saat mendapat sentuhan sensitif dari sang istri.


Maya merangkulnya dari belakang sambil menciumi leher hingga mendesah di sampung telinganya. Meskipun sudah hampir berkepala lima tak memudarkan gairahnya bercintanya kepada sang suami. Jika berurusan dengan ranjang, Maya lebih menguasai ketimbang Dayu.


Mungkin darah Maya mengalir kepada Agung jika sudah menyangkut urusan ranjang.


"Pah... satu ronde, yuk! Sebentar," ucap Maya mesra.


Dayu hanya memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan dari istrinya.


"Ma, nanti kita terlambat loh, ingat di rumah siapa ini." Meski batinya merespon positif namun, Dayu tetap berusah menjaga imagenya. Ia akan malu jika anak dan menantu mendengar desahan laknat sebab, rumah Agung tidak kedap suara.


"Mungkin mobil tetangga," ucap Agung.


Nuri setuju dengan penuturan suaminya. Jika tamu mereka, sudah pasti bel akan berbunyi.


Keduanya kini telah siap dengan pakaian mereka. Nuri membatu Agung memasangkan dasi serta memakaikan jas navi yang membuat Agung semakin gagah.


Nuri tersenyum dengan suguhan di hadapannya.


"Kenapa?" tanya Agung heran.

__ADS_1


"Mas nambah keren pasti bakan banyak wanita yang tergoda oleh ketampanan suamiku di kantor sana."


Angung segera meraih tubuh Nuri, lalu meletakkan telunjuknya menutup mulut istrinya.


"Ssstt... jangan katakan seperti itu. Setiap ucapan itu adalah doa. Kamu harus percaya bahwa suamimu bisa menjaga diri disana."


Agung segera meraih bibir Nuri yang membuatnya candu.


Di lantai bawah permain masih panas. Kamar tamu adalah tempat untuk pasangan tua mengasah lele jumbonya.


Agung dan Nuri mengernyitkan dahinya saat melintas di depan kamar tamu.


Saling melempar pandangan, kedunya mendekat memastikan suara mengerikan dari dalam kamar.


Tangan Agung terulur hendak membuka pintu namun, Nuri segera mencegah.


"Itu seperti suara mama Maya, Mas," bisik Nuri.


Sejenak Agung memastikan desahan laknat tersebut.


"Katanya kaya, nyewa hotel saja tidak mampu," gerutu Agung.


Nuri hanya menggeleng, mengekori Agung ke maja makan. Akibat olahragany, cacing di dalam perut berdemo sudah telah memberi asupan gizinya.


Tadi selepas subuh, Nuri sengaja masak cepat.

__ADS_1


Nuri dan Agung telah membiasakan untuk makan masakan rumah. Selain lebih higienis, lidah Agung sudah kecanduan masakan istrinya.


To Be Continue


__ADS_2