Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Ulah Nuri


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu. Kini Nuri sudah terbiasa dengan lingkungan yang ia tinggali mulai bangun pagi, masak, nyuci, hingga pergi belanja  kepasar.


Satu  bulan itu juga  ia tak bertemu  dengan  kedua  orang  tuanya. Ia  pun  merasa  sangat rindu.


"Ada pertanyaan ?" tanya  guru  yang mengajar.


"Tidak  pak,"  jawab  siswa serentak.


"Baik  kalau  begitu, silahkan  buka  Bab  20, dan  kerjakan  dalam 20 menit,"  perintah guru  tersebut.


"Tapi   pak ..,"  ucap  salah  seorang   siswa.


"Kenapa? Bukan kah kalian sudah paham? Lalu apa lagi?" Sadis memang. Guru yang sangat dingin dan kaku, tak punya tolenransi.


Nuri hanya  mendengus  kesal. Ini  lah  pelajaran  yang  Nuri  benci  Bahasa inggris. Bukan pelajaran, namun guru pengajarnya yang Nuri tidak sukai.


Sesuai perintah sang guru, semua siswa mengerjakan tugas dengan khidmat namun tidak dengan Nuri dan Tika.


"Tika, pulang sekolah  kita  ke  jembatan ya!" bisik  Nuri  pada  Atika.


"Gak  bisa  Nur, hari  ini  jadwalnya  aku  setor hafalan pada ustad  Hanafi,"   jawab  Atika  pelan.


Bisik bisik Nuri dan Tika tak luput dari pandangan sang guru.


"Kalian  berdua  sudah  siap?" tegur Agung, guru mata pelajaran bahasa inggris tersebut.


"Belum  pak," jawab Atika


"Sudah  pak,"   jawab  Nuri semangat.


Agung hanya mengangguk, memberi isyarat bahwa Nuri harus ke depan.


Dengan penuh percaya diri Nuri menghampiri Agung dan menyerahkan tugasnya.


"Hmmm  lumayan,"   gumam Agung  yang  sangat jelas terdengar di indra pendengar Nuri.

__ADS_1


Makanya  jangan  ngeremehin saya pak. batin  Nuri .


*******************


Setelah  jam  pelajaran   selesai  Nuri segera keluar  dari  kelasnya  mencari  keberadaan  Galih  dan  Raisa. Tapi  langkahnya  terhenti  saat  melihat  Azam  sang  kakak  tengah  berbincang  dengan  Agung  guru  yang  sangat menyebalkan.


"Mas  Azam,"  panggil Nuri yang merasa penasaran  apa  yang  di bicarakan oleh kedua orang di hadapannya.


"Nuri." Azam   segera   menghampiri   sang  adik.


"Ya  udah  aku cabut  bro."   Agung  melambaikan  tangan  pada  Azam.


Kini  sang  kakak  dan  adik  itu  tengah  berbincang  bincang   di  taman  belakang asrama.


"Mas kenapa bisa sampai sini? Tahu gak  aku sangat merindukan  rumah, rindu  bapak,  rindu ibu, juga  rindu  kamar ku,"  adu  Nuri  kepada  Azam.


"Lebay  kamu Nur,  biasa  aja  kali," ucap  Azam  datar.


"Mas  tambahi dong jatahnya,"   pinta  Nuri


"Jatah?" Azam mengerutkan dahinya tak paham.


Beginilah  sikap   Azam terhadap  Nuri  yang  selalu  dimanjakan.  Semua  permintaan  Nuri akan  ia  turuti  berbeda  dengan  Adam  yang  sedikit  perhitungan dengan  alasan bahwa Nuri harus  mandiri.


"Oh, ya  bulan  depan  mas  wisuda.  Kamu  datang  ya!"  tutur Azam  sebelum  pergi.


"Insha  Allah  mas."  Nuri menatap  kakaknya  dengan  mata  berkaca  kaca.  Sebenarnya  ia  masih  merindukan   sang  kakak  karena  selama  satu  bulan  ia  tinggal  di  asrama  baru  hari  ini  Azam  menjenguknya.


Azam  hanya  tersenyum.


"Sejak  kapan  adik  abang  cengeng?" Azam  mengelus  kepala  Nuri yang  kini  mulai  di  balut  dengan  hijab.


"Ya  sudah,  mas  pulang  ya."  


Sebenarnya  Azam  tidak  tega  meninggalkan  sang  adik  yang  sudah  sesenggukan.

__ADS_1


"Mas   janji, minggu  depan  mas  kesini  bawa  emak  sama bapak,"   ucap  Azam  yang  kini  tengah  menenangkan  Nuri  dalam  pelukannya.


"Astagfirullahaladzim,"  pekil Syifa  yang  tak sengaja melihat Nuri berada dalam pelukan Azam.


Seketika Azam  segera  melepaskan  pelukannya.


Nuri mengangguk  sambil  mencium telapak  tangan Azam sebelum Azam  pergi.


"Apa  yang  kalian  lakukan?"   tanya  Syifa menutup  mulutnya  yang  masih  tidak  percaya  atas   kejadian   yang   baru   saja  ia  lihat.


Nuri  tak  menjawab  dengan  langkah  santai  ia  meninggalkan  Syifa.


"Tunggu mbak  Nur."  Syifa  menahan  lengan  Nuri.


***********************


Pagi  hari


Seperti  biasa Atika  selalu  bangun lebih dahulu kemudian  membangunkan  teman temannya.


Nuri pum sudah mulai  terbiasa bangun  pagi untuk sholat subuh berjamaah di masjid.


Saat  hendak  masuk  kamar mandi  ia terhenti.


"Siapa  yang di dalam?"  tanya  Nuri pada salah seorang yang sedang mengantri di depan kamar mandi.


"Syifa," jawab temannya.


"O,  kamu  ambil aja antrian  kamar mandi disana bentar  lagi Raisa  siap," ucap Nuri.


Teman yang tak di ketahui namanya itu  hanya  mengangguk.


Tanpa menunggu lama  Nuri segera mengambil cairan pembersih lantai kemudian di tuangkan sedikit demi sedikit di depan pintu kamar mandi  itu.


"Selamat menikmati."  Nuri tertawa ria.

__ADS_1


Nuri segera masuk ke dalam kamar mandi yang sudah kosong, dalam hati ia merasa puas saat mendengar teriakan Syifa.


Bukan tanpa sebab Nuri berbuat seperti itu. Syifa memang gadis yang terlihat polos namun seperti racun menurutnya. Yang hanya manis di bibir saja.


__ADS_2