
Hari sudah menjelang sore. Kedua bocah kembar telah terlihat segar sehabis mandi. Kali ini keduanya sedang memberi makan ikan di kolam di temani dengan pak Mun.
Sedangkan Nuri, ia bersama dengan mbak Inah meracik sayuran di dapur untuk makan malam.
Tak lama terdengar suara mesin mobil berhenti di depan rumah. Derap langkah pun terdengar nyaring.
"Assalamualaikum." Tanpa menunggu jawaban dari dalam rumah, Agung terus saja melangkah. Melihat suasana sepi, Agung bergegas mencari Nuri dan langkahnya terhenti saat ia menatap punggung istrinya sedang mencuci sayuran di dapur.
Agung pun meneruskan langkahnya untuk segera membersihkan diri terlebih dahulu.
"Riyan, jangan sebelah situ aja, sini!" Instruksi Brayan.
Dengan cepat Briyan berlari kecil menghampiri Brayan.
"Lihat itu, besar." Tunjuk Brayan kearah segerombolan ikan yang berebutan makanan.
"Iya." Girang Briyan
Kegiatan mereka selalu dalam pantauan pak Mun yang juga ikut serta memberi makan ikan peliharaan mereka.
"Rayan, kenapa ikan ini gak boleh kita goreng?" tanya Briyan heran. Pasalnya, Brayan selalu melarang keras jika ada yang mengambil ikan di kolam untuk di masak.
"Ini ikan untuk dipelihara, bukan untuk di santap," ujarnya.
"Ikan sebanyak ini untuk apa? Kasian mereka yang udah tua, pasti sebentar lagi mati," ucap Briyan polos.
Brayan menatap sekilas sang adik yang masih menabur makanan ikan di kolam.
"Kalau kamu mau makan ikan, besok suruh mbak Inah beli di pasar," ucap Brayan.
Sementara itu, Nuri dan mbak Inah telah siap menghidangkan menu di atas meja.
"Mbak, aku tinggal ya," pamit Nuri kala melihat semua sudah tertata rapi diatas meja dan tinggal menunggu waktu tiba untuk makan.
"Silahkan, Bu," ucap mbak Inah.
Nuri pun segera menaiki anak tangga dengan hati hati. Saat memasuki kamar dirinya dibuat terkejut dengan sosok Agung yang sudah mandi dan kini mengeringkan rambutnya.
"Lho, mas Agung kapan pulang?" Nuri mendekat lalu menyalam tangan suaminya.
__ADS_1
Agung tersenyum. "Keasyikan masak, jadi gak tahukan kalau suaminya udah pulang?"
Nuri pun menyengir. "Iya, maaf."
Nuri segera Meninggalkan Agung menuju kamar mandi.
Meski Agung merasakan perubahan Nuri namun, ia berusaha menepisnya.
Malam pun tiba dan kini saatnya untuk menyantapnya hidangan yang telah siap di santap.
"Ma, besok mbak Inah kalau ke pasar suruh beli ikan Nila yang besar," titah Brayan.
Nuri yang hendak mengambil nasi pun terhenti, menatap putranya dengan heran.
"Tumben? Bukannya Rayan tidak suka ikan Nila?" tanya Nuri heran.
"Kasian Riyan, dia ingin makan ikan," jawab Brayan.
"Eh... gak kok, Ma. Rayan kapan aku bilang ingin makan ikan?" protes Riyan tak terima.
"Tadi sore," jawab Brayan lagi.
"Sudah sudah, besok biar mbak Inah belikan, ayo sekarang kita makan dulu," lerai Agung.
Briyan mengangguk namun tidak dengn Brayan yang tetap memandang ayahnya dengan sengit.
"Makan yang banyak ya!" titah Nuri setelah mengambilkan makanan untuk kedua anaknya.
"Iya, Ma," jawab mereka serentak.
Dalam diam Agung mengamati ada yang berubah. Jika biasanya Brayan akan banyak berbicara dengan dirinya, kali ini tak ada sapaan atau pertanyaan apa pun yang ia dengar.
"Rayan, bagaimana sekolah kalian?" tanya Agung di sela sela makannya.
Satu detik, dua detik, tak ada jawaban dari Brayan.
"Sekolah kami baik, Pa. Bulan depan kami sudah mulai libur sekolah." Bukan Brayan namun, Briyan lah yang menjawab.
Agung hanya mengangguk, menatap Brayan yang tal sedikitpun memperdulikan dirinya.
__ADS_1
Sedangkan Nuri, ia hampir tak bisa menelan sisa makanannya lalu meneguk air minum.
"Rayan, papa sedang bertanya lho." Nuri menasehati Brayan.
"Ma, kata ibu guru kalau sedang makan dilarang untuk berbicara ataupun bercerita," jawab Rayan dengan santai.
Kali ini Nuri tak bisa menelan saliva. Darimana Rayan mewarisi sifat dingin seperti ini.
"Mas..." Belum sempat Nuri melanjutkan ucapannya, Agung mengangguk, memberi kode bahwa ia mengerti.
Makan malam kali ini tak sehangat malam sebelumnya.
Jelas sangat ketara bahwa Brayan menghindari Agung.
"Ma, kami ke kamar ya," pamit Brayan yang di ikuti sang adik. Nuri pun mengangguk.
Tak lama Agung dan Nuri pun juga beranjak ke kamar.
Sesampainya di kamar, Nuri segera meminta maaf kepada Agung atas sikap Brayan yang keterlaluan.
"Dia masih anak anak, Ai. Belum bisa mengontrol emosianya," ucap Agung, meski hati kecilnya merasa kecewa.
"Iya, mas. Tapi aku sebagai ibu telah merasa gagal mendidik anak." Raut wajah Nuri terlihat sendu. Apa benar ia telah gagal mendidik Brayan?
Agung segera memeluk tubuh sang istri dan mengelus pucuk kepalanya. "Kamu ngomong apa sih? Aku gak mau dengar kamu ngomong seperti itu lagi. Mungkin aku yang kurang perhatian sehingga Brayan menjauh," tutur Agung.
Jauh direlung hati Nuri, ia sangat takut jika ingatan Brayan akan membekas hingga ia dewasa kelak. Bagaimanpun ia harus mengembalikan kepercayaan Brayan kepada Agung lagi.
"Mas," panggil Nuri yang masih dalam dekapan Agung.
"Ya." Agung melepaskan pelukannya.
"Gimana kalau liburan sekolah bulan depan kita ajak anak anak jalan jalan? Mereka udah lama lho gak rekreasi," ucap Nuri ragu.
Sejenak Agung terdiam. "Jalan jalan," gumamnya.
"Oke, seperti itu ide yang bagus." Agung tersenyum lebar menatap bola mata Nuri yang telah menunggu jawaban darinya.
Hai... Green hadir kembali..
__ADS_1
Jangan lupa tinggalin jejak dan tebar hadiah😉