Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Akhirnya pecah juga


__ADS_3

Please di bawah 21+ mohon untuk mundur alon alon! Author tidak bertanggung jawab jika terjadi sesuatu terhadap kalian.


Bijaklah dalam membaca.


Happy reading ❤


Nuri mencoba menarik selimut namun, tangan Agung mencegahnya. Pemandangan yang baru pertama kali ia lihat dengan jelas selama setahun menikah. Tubuh mulus serta dua buah menggantung yang sangat menantang.


Agung meraup kembali bibir Nuri, tangannya bergerilya pada buah yang menggantung. Sesekali Agung meremas, hingga Nuri mendesah.


Agung menurunkan pelan bibirnya ke dagu, leher dan berhenti pada salah satu buah milik Nuri lalu menghisap pelan. Nuri mendesah pelan, melengkungkan tubuhnya meremas rambut Agung.


"Ah, Mas..."


Agung mengalihkan ke buah sebelahnya.


Lagi lagi Nuri mendesah.


"Mas... "


Agung menatap Nuu dengan tatapn sudah tak kuat menahan hasratnya.


"Kamu sudah siap?"


Nuri mengangguk. Demi apapun Nuri telah benar benar terangsang meski Agung belum menjamah bagian lembahnya.


Agung membacakan sebuah doa sebelum ia benar benar membobol rawa berlembah milik istrinya.


"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa."


Setelah membaca doa tersebut Agung segera menghembuskan doa tersebut keatas pucuk kepala Nuri lalu di kecup keningnya.


Di bahwa sana tongkat ajaib sudah meronta hendak menjelajahi rawa namun sayang, tongkat itu kesulitan untuk masuk.


"Mas, sakit," rintih Nuri.


"Tahan sebentar, nanti gak sakit lagi," ucap Agung.


Dengan pelan Agung membantu tongkat agar bisa masuk tanpa menyakiti sang pemilik rawa.

__ADS_1


Meski sudah berusaha sangt pelan namun, tetap saja Nuri merintih.


"Ah," desah Agung saat tongkatnya sudah masuk sempurna.


Nuri hanya memejamkan mata, menahan rasa sakit. Agung memompa tongkatnya dengan sangat pelan.


"Mas... sakit."


Agung meraup bibir Nuri agar mengurangi rasa sakitnya. Benar saja Nuri menggigit bibir Agung saat Agung telah membuka segel rawa milik Nuri.


Bercak darah mengalir, Agung mengeramkan sejenak tongkatnya di dalam sana.


"Setelah ini kamu gak akan berteriak kesakitan, tapi untuk kenikmatan."


Nuri merasakan sesuatu bergetar dalam bawah sana.


Peluh keringat membasahi tubuh mereka. Desahan kenikmatan lolos dari bibir Nuri. Begitu juga dengan Agung yang merasakan tongkatnya terjepit di dalam rawa.


Kali ini Nuri mencakar punggung Agung sebab Agung memompa dengan tempo cepat. Kecebong yang sudah berada di pucuk akan segera menyembur rawa berlembah.


Keduanya mendesah bersama ketika mencapai puncak kenikmatan duniawi. Mengatur nafas yang masih naik turun, Agung masih menekan tongkatnya, berharap para kecebong masuk semua kedalam dengam selamat.


lalu merebahkan tubuhnya di samping Nuri. Meraih selimut untuk menutupi tubuh polos mereka, Agung kembali memeluk Nuri.


yee pecah telur, kata uthor.


Malam ini begitu teras sangat panjang untuk kedua insan yang sedang memadu kasih sayang. Di tepi pantai dengan deburan ombak yang menyapu daratan.


Gulungan ombak menjadi saksi keduanya menyatukan raga dan cintanya.


Menikmati setiap sentakan yang menggetarkan rawa, Nuri seperti melayang dibuat oleh suaminya.


Jika awaknya Nuri berharap tak ingim melanjutkan lagi namun untuk selanjutnya Nuri lah yang menginginkan lagi dan lagi.


Gadis itu tak menolak kala suaminya meminta tambah lagi.


Sekali keras langsung ketagihan. Bergitulah yang Agung rasakan.


Sebelum subuh Agung telah bangun lalu membersihkan dirinya, sementara Nuri yang kelelahan masih terlelp di balik selimutnya.

__ADS_1


"Dek, bangun! cepat mandi!"


Nuri segera membuka matanya saat merasakan sesuatu yang dingin menjalar dipipinya.


"Mas Agung," gumamnya.


Melihat suaminya dengan rambut basah, Nuri oun segera bamgkit dari kasur sambil membaw selimutnya.


"Auuu," pikik Nuri saat satu langkah ia beranjak.


Agung panik. "Kenapa, Dek?"


"Sakit, Mas anuku buat jalan,"


Dengn segera Agung membopong Nuri ke kamar mandi.


"Apa perlu di mandikan?" tanya Agung.


Nuri menggeleng. "Aku bisa sendiri, Mas. Terimakasih."


Meski Agung ingin rasanya melahap kembali istrinya namum, ia teringat jila sebentar lagi masuk waktu subuh.


"Ya sudah, jangan lama lama, sebentar lagi wakti subuh." Agung menutup pelan pintu kamar mandi.


Di dalam kamar mandi Nuri masih terdiam, mengingat kembali kejadian semalam, yang tanpa tahu malu Nuri mendesah, menikmati setiap sentuhan dari suaminya. Lagi lagi ia tertawa saat mengingat berapa ronde ia dan Agung bergelut di atas kasur untuk menyimpan kecebong dalam rawa miliknya..


.


.


.


.


.


.


Sudah sampai disini saja pecah telurnya.

__ADS_1


Pokoknya sebagai gantinya kalian harus tap Like tinggalin jejak. Syukur² kalian kasih bunga hehehe jangan lupa tambahkan ke rak favorit dan ikuti Author.


__ADS_2