
Menyadari ada sesuatu yang berbeda dalam suasana keluarganya beberapa hari ini, Agung memilih tidak berangkat kerja hari ini.
Pagi ini rencananya ia akan mengantarkan anaknya sekolah dan sisanya akan menghabiskan waktu untuk Nuri dan kedua anaknya.
"Papa gak pergi kerja?" tanya Briyan kala melihat Agung menarik kursi di meja makan hanya dengan memakai kaos dan celana pendek saja.
"Iya, papa libur hari ini." Agung tersenyum sambil menatap kedua bocah kecil di depannya.
"Tumben libur, Mas?" tanya Nuri setengah menyindir.
"Oo... jadi kalian gak suka kalau papa libur?" cibir Agung pura pura.
"Bukan gitu, biasanya kan..."
"Sudah lah, ayo makan! Nanti kita terlambat sekolah." Agung memotong ucapan Nuri.
Kembali hening saat mereka menyantap makanan. Hanya dentingan sendok beradu dengan piring yang terdengar.
"Hari ini papa antar kalian," ucap Agung.
"Gak usah pa, kami di antar pak Mun aja," tolak Brayan cuek.
"Pak Mun ambil cuti untuk dua minggu ke depan, jadi papa yang akan menggantikan." Agung segera membuka mobil untuk kedua bocah kecil itu.
Ada rasa bahagia terpancar dalam raut wajah Briyan. bocah polos itu bersorak ria saat mendengar penuturan sang papa namun, berbeda dengan Brayan, ia hanya terlihat cuek dan terlihat biasa saja.
"Horee... Mama ikut juga," teriak Briyan saat melihat sosok Nuri masuk kedalam mobil.
Nuri hanya tersenyum. Sebenarnya ia merasa heran dengan sikap Agung yang tiba tiba libur kerja dan malah mengatakan akan mengajaknya belanja bulanan.
Dalam hati ia merasa senang walau menoreh rasa sakit.
Tak sampai disitu, saat sampai di sekolah, Agung mengantar kedua bocah itu hingga sampai ke dalam kelasnya. Tanpa sadar sudah banyak pasang mata yang tertuju padanya. Mengingat inilah pertama kalinya ia mengantar putranya sekolah, ia sampai tak terpikirkan bahwa mayoritas dari sebagian mereka adalah ibu ibu.
"Tumben Rayan sama Riyan di antar papanya? Mamanya kemana, Pak?" tanya salah seorang ibu ibu.
Agung tersenyum. "Ada di mobil, Bu," jawab Agung singkat.
Luruh seketika harapan dari beberapa ibu ibu disana. Mereka mengira hanya Agung saja yang mengantar Brayan namun ternyata Nuri pun ikut serta.
__ADS_1
Siapa yang tidak mengenal sosok Nuri, wanita dengan balutan hijab yang terlihat lebih muda di antara para ibu ibu lainnya. Tak menyangka memiliki seorang suami yang terlihat lebih dewasa yang masih terlihat tampan.
"Pantas saja Nuri menyembunyikan lakinya, ternyata bapaknya Rayan handsome," bisik salah seorang ibu ibu.
"Ssstt.. jangan jelalatan!" tegurnya kemudian.
Agung tersenyum mendengar beberapa percakapan ibu ibu yang membicarakan dirinya.
"Rayan, Riyan, belajar yang baik ya! Jangan nakal, nanti papa jemput." Agung hendak beranjak dari tempat duduk Brayan namun, salah seorang ibu ibu paruh baya memberhentikan langkahnya.
"Pak, tunggu sebentar," ucapanya.
Agung segera menoleh ke belakang. Dengan segera sang ibu tersebut membidikan kameranya untuk memotret sosok Agung.
"Heheh, sudah pak terimakasih," ucapnya tanpa rasa takut.
Tak bisa di pungkiri, Agung ingin marah namun, apa gunanya berdebat dengan ibu ibu.
Ia hanya mengangguk dengan rasa kesal. Tau akan seperti ini, tadi ia mendengarkan ucapan Nuri agar tetap saja di mobil.
Dengan raut kesal, ia membanting pintu mobilnya.
"Kenapa, mas?" tanya Nuri.
Agung menatap lekat ke arah Nuri.
"Ai, apa kamu juga sama seperti mereka?" tanya Agung intens.
Nuri pun menatap Agung dengan rasa penasan atas ucapannya.
"Seperti siapa, Mas?" Nuri balik bertanya heran.
Agung menyandarkan kepalanya di headrest yang menempel di jok mobilnya dengan penuh rasa kesal.
"Apa kamu akan heboh jika pertama kali melihat pria handsome?" tanya Agung.
"Kenapa?" tanya Nuri lagi.
"Jawab saja, Ai!"
__ADS_1
"kalau aku sih pasti akan melihat tanpa kedip melihatnya," jawab Nuri polos. Tanpa sadar ia menyunggingkan senyumnya, mengingat saat ia baru pertama kali melihat ustad Hanafi.
"Astagfirullahaladzim," lirihnya sadar. Seketika ia menatap Agung.
"Mas..." Nuri melihat Agung mulai menjalankan mobilnya.
Mood Agung menambah hancur ketika mendengar ucapan Nuri.
Mendesah pelan, "Kalian kaum perempuan sama saja," ucapnya kesal.
"Eh... kok gitu?" protes Nuri.
Agung mulai menceritakan apa yang membuatnya kesal.
Nuri menahan tawanya. Pasti itu ulah ibunya Dewa.
"Kalau mau tertawa, tertawakan saja!" ujar Agung.
. . .
Nuri menautkan alisnya kala mendapati mobilnya yang ia tumpang masuk ke pekarangan rumahnya.
"Lho, Mas kok balik ke rumah lagi," protes Nuri.
"Hilang mood, aku mau tidur sebentar." Agung melengos begitu saja meninggalkan Nuri yang masih di dalam mobilnya.
"Aneh, gitu aja langsung kesal," desah Nuri.
Di dalam kamar Nuri mulai membuka hijabnya, ia merasa kesal. Sudah dandan, ujung ujungnya balik pulang lagi.
"Ai, sini!" Agung menepuk tempat tidur. Memberi isyarat kepada Nuri agar ia berbaring di sampingnya.
Nuri pun menuruti ucapan Agung. Ia mulai naik ke atas ranjang. "Pasti ada maunya," batin Nuri.
Perlahan Agung menggenggam tangan Nuri dan menatapnya dalam.
"Ai, maafkan aku jika ada sikapku yang menyakiti kalian, meski aku tak tahu tapi, aku yakin ada sesuatu yang membuat kalian menghindari ku." Agung menatap dinding langit langit.
"Bahkan sikap Brayan pun mulai berubah dan menghindari ku. Ai, apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku?" Agung melirik istrinya.
__ADS_1
Nuri susah payah menelan ludahnya. Bagaimana bisa suaminya sangat tidak peka. Ingin sekali ia berteriak di telinganya tentang kejadian di hari itu.