
Pengajian berjalan begitu khidmat. Sejumlah jamaah merasa terkesima mendengar isi ceramah malam ini terutama para buibu yang berada disekitar Nuri.
"Aku ngerasa kok pak ustad ngeliatin aku terus ya?" ucap Elsa merasa percaya diri.
"Kamu kalo mimpi mbok yo jangan tinggi tinggi to El," tegur Bu Endah.
"Sstt... rame aja! Berdoa!" tegur Bu Zubaedah kala sang ustadz memimpin doa.
Ternyata bukan hanya Nuri yang mengagumi sang ustad, tapi para buibu muda ini juga terpesona dengan kewibawaan dan juga ketampanannya.
Doa yang dipimpin oleh sang Ustadz berjalan sangat khusuk. Hingga waktu berada di penghujung acara.
"Eh, siapa tadi nama pak ustadz-nya? mau aku cari di medsos sekalian nanya nanya sama mbah gogel, ah!" Janda muda kembali berceloteh.
"Namanya, Ustadz Hanafi. Tapi sering dipanggil ustadz Hanaf. Beliau tidak punya akun media sosial. kalaupun ada, mungkin itu hanya fans-nya."
Semua mata ibu ibu tertuju pada Nuri lalu mengernyitkan dahinya menatap Nuri seketika.
Dari mana Nuri bisa dengan jelas menerangkan dengan rincih, padahal ini adalah pertemuan pertama untuk para penghuni kompleks namun, Nuri sepertinya telah mengenal sosok ustadz yang menjadi idola mereka selain ustadz Yusuf.
Nuri yang mendapati dirinya tengah menjadi sorotan ibu ibu merutuki lidahnya yang tak tahu etika.
"Kamu tahu lebih jelas darimana?" tanya Elsa penuh rasa penasaran.
"Anu.. i...itu, dulu ustadz hanaf pernah menjadi guru Nuri saat MA ( Madrasah Aliyah )
"Oo pantes tahu." Elsa bernafas lega. Sempat menduga bahwa Nuri dan ustadz Hanaf mempunyai hubungan terlarang namun, mustahil jika sang ustadz akan mau dengan Nuri yang telah bersuami. Sama aja pembinor dong!
Elsa menggeleng cepat, menepis pikiran negatifnya tentang mereka.
Nuri memilih berjalan paling akhir sebab, para ibu ibu kompleks masih asik dengan tema gibahan mereka, membicarakan ustadz Hanaf dan ustadz Yusuf.
__ADS_1
Namun, tanpa sengaja rombongan ustadz Hanaf berjalan beriringan di samping Nuri dan para buibu.
Sejenak, ustadz Hanaf mempersilakan para rombongan berjalan duluan. Mantan ustadznya tanpa perlu aba aba segera menyapa rombongan buibu.
"Wa'alaikumsallam, ustad," seru mereka bersama dengan rasa bangga, disapa oleh seorang ustadz.
Nuri hanya menjawab pelan, memilih berdiri di samping Bu Endah yang badannya hampir menutupi tubuh mungilnya.
"Nuri, bagaimana kabarmu?" tanya Ustadz Hanaf. Meski telah bersembunyi nyatanya mantan ustadznya tetap mengenali dirinya.
"Alhamdulillah baik, ustadz," jawab Nuri.
Entah mengapa rasa kagumnya dahulu telah pudar. Jika biasanya Nuri akan meloncat lontcat saat namanya di panggil, kini ia malah merasa gugup saat sang ustadz mengajukan tanya jawab dengan dirinya.
Sontak sorot mata buibu mengarah padanya, ibarat kamera menyorot artisnya.
"Syukurlah. Kamu tinggal disini juga."
"Maaf ustad sudah malam, kami permisi ya."
Nuri segera mengajak para buibu segera meninggalkan ustad Hanaf.
Meninggalkan berbagai pertanyaan, Elsa dan Bu Endah merasa heran atas tingkah laku Nuri yang seperti salah tingkah dan sang ustadz yang seperti sok akrab.
Sementara itu ustadz Hanaf hanya menatap kepergian Nuri berserta buibu lainnya.
Semenjak hari kelulusan Ustadz Hanaf tak lagi berjumpa ataupun mendengar kabar dari mantan salah satu muridnya ini.
Dan, ustadz Hanaf baru mengetahui dari teman sekamar Nuri yang mengatakan bahwa diam diam Nuri mengagumi dirinya. Memang selama ini tak pernah ustadz Hanaf perhatikan gelagat Nuri yang diam diam mencuri pandang saat hafalan.
.....
__ADS_1
Di kamar, Agung sudah menunggu kedatangan Nuri. Sore tadi Nuri mengirim pesan padanya, bahwa ia akan menghadiri pengajian rutin di masjid area kompleks.
"Sudah pulang?" tanya Agung.
Nuri hanya mengangguk, melepaskan hijabnya lalu berganti pakaian piyama kesukaannya bergambar mikky mouse.
"Sudah makan?" tanya Agung lagi.
"Udah," jawab Nuri datar.
Agung hanya terpaku mendengar kata singkat dari istrinya. Jika selama ini Nuri yang selalu banyak bicara, kini wanita itu hanya banyak diam.
Menjawab pertanyaan seperlunya saja tanpa ada rasa manis manisnya, membuat Agung semakin yakin jika sang istri masih marah padanya.
"Ai," panggil Agung.
"Maaf, Mas aku ingin istirahat. Besok ada kuliah pagi." Nuri segera menaiki ranjang yang setiap malam menjadi saksi bisu atas pergelutan dua insan untuk menuntaskan sebuah hasrat.
.
.
.
.
Like
Komen
Kasih hadiah!
__ADS_1