Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Pasti Pulang


__ADS_3

...Tebakan kalian hampir benar semua...


Terimakasih masih mempertahankan ACDP di rak buku favorit kalian. Selamat membaca.


Sudah dua hari tak ada kabar dari Agung. Bahkan Nuri dan Maya telah menelepon tempat dimana koran kecelakaan pesawat di evkuasi namun, tak menemukan daftar nama Agung disana. Tidak mungkin Nuri terbang ke pulau Bali hanya untuk memastikaan keadaan suaminya. Maya pasti akan melarang dengan keras.


“Ma, bagaimana ini?” adunya pada Maya.  Tidak seperti Nuri, Maya terlihat lebih rilex dan santai. “kamu tenang dulu, Ai. Kamu yakin Agung naik pesawat itu?” tanya Maya.


“Iya Ma, aku yakin mas Agung naik pesawat itu. Karena itu adalah satu satunya pesawat yang menuju Makasar sore itu,” ucap Nuri yang tak tahan menahan air matanya.


“Sudah, Papa sudah gerakan anak buah untuk mencari Agung.” Dayu akhirnya buka suara setelah sekian lama terdiam dan tak tega melihat keadaan menantunya.


“Pa, Papa gak percaya sama Mama? Agung itu gak kenapa napa. Besok dia juga pulang,” ujar Maya ketus.


“Bukan gitu, Ma. Kasihan Nuri, Ma,” bisik Dayu. Maya hanya menggela nafas lelahnya. Entah mengapa tak ada rasa kesedihan sama sekali di wajahnya. Ia sangat yakin jika Agung bukan penumpang dari pesawat naas tersebut.


***


Maya merasa iba melihat penampilan menantunya. Berapa kali ia menghibur Nuri bahwa Agung tak menaiki pesawat itu tapi Nuri tak sedikitpun mempercayainya.


Sudah tiga hari Agung pergi tanpa kabar, dan seharusnya hari ini ada janjinya, ia akan pulang.


Maya terpaksa memboyong asisten rumah tangganya dan memboyong dua orang pengasuh Meisya. Bukan untuk berduka, ia hanya menenangkan menantunya.

__ADS_1


“Ai, kamu makan ya,” bujuk  Maya. Nuri hanya menggeleng.


“Ai, kamu gak boleh seperti ini. Kasiaan anak anak,” rayu Maya lagi.


Pandangan Nuri pun menangkap tiga makhluk kecil sedang bermain lepas tanpa memikirkan apa yang sedang ia rasakan.


“Kamu percaya sama Mama, suami kamu itu gak kenapa napa,” ujar Maya.


“Kenapa Mama bisa seyakin ini? Karena Mama ini ibunya. Dan merasa anak Mama sebentar lagi pulang. Karena harus menepat janjinya, kamu harus percaya itu," ucap Maya.


Mencoba menenangkan diri, Nuri membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Maya yang merasa lelah telah beristirahat di kamar tamu bersama suaminya. Sedangkan ketiga makhluk kecil tidur dalam pengawasan kedua pengasuh Meysha.


“Mei, kamu sudah besar. Tapi masi di jaga dua orang. Payah,” cibir Brayan.


“No! panggilan nenek tak pantas untuk GranMa ku! Stop kalian mencibirnya.” Briyan mendengus kesal. Karena bagaimana pun GranMa nya itu segalannya untuk dirinya. Apapun yang ia minta pasti akan segera di turuti oleh Maya.


Tak terasa pagi telah menjelang lagi. Malam ini Nuri tertidur sangat pulas hingga ia sampai lupa untuk sholat subuh. 


Itu semua adalah ulah Maya yang memberikan obat penenang untuk Nuri.


“Mas Agung,” lirih Nuri tersadar dari tidurnya. Ternyata itu hanya mimpi. 


Tapi itu terasa seperti nyata. Ia mendengar suara Agung membangunkan dirinya lalu mengecup keningnya. 

__ADS_1


Nuri menuruni anak tangga, terlihat lebih sepi dari kemarin. Kemana semua penghuni rumah.


“Mbak Inah.” Nuri memanggil mbak Inah. Wanita itu segera berlari menuju asal suara yang mmanggilnya.


“Iya, Bu.” Dengan tergopo ia menghampiri Nuri.


“Kok sepi? Kemana anak anak dan Mama?” tanya Nuri.


“Nyonya besar sudah pulang ke rumah utama begitu juga dengan anak anak yang di ajak pulang ke rumah utama karena permintaanya nona Mei,” jelas mbak Inah.


Disaat seperti ini?” batin Nuri.


“Buk, Bapak…”


“Mbak Inah, pagi ini aku mau ke kampus. Tidak usah membahas tentang bapak.” Nuri segera mengambil sarapanya.


Mbak Inah pun undur diri kedapur lagi. walaupun tidak nafsu, Nuri harus mengisi perutnya. Ia sengaja aka ke kampus bertemu dengan temannya untuk membantu Nuri mengantarkan ke tempat kejadian pesawaat naas tersebut. Ia sudah muak dengan keadaan sekitar yang mengatakan bahwa Agung tidak apa apa. Dan kali ini tekatnya sudah bulat untuk mencari Agung sendiri.


Setelah membersihkan diri, Nuri memoles tipis wajahnya agar tak terlihat sayu. setelah mengambil tas, ia mencari  kunci mobil yang seingatnya ia letakkan di laci. 


“Dimana sih, perasaaan aku simpan disini,’’ lirih Nuri.


“Kamu cari apa?”

__ADS_1


“Cari kunci mobil,” jawab Nuri. Namun, dengan cepat Nuri menyadari suara siapa yang ia dengarkan tadi lalu membalikan badan menatap sesorang yang telah bediri di ujung pintu.


__ADS_2