
Pukul delapan malam, Nuri telah sampai di rumahnya. Ia di tatih oleh Agung sementara keduanya anaknya di bopong oleh mbak Inah daan pak Mun. Untung saja Agung telah memberikan makan malam di kantin rumah sakit tadi sebelum membawa Nuri pulang.
Entah mengapa luka di keningnya tak tersa sakit sedikitpun namun, hatinyalah yang berdenyut nyeri.
Entah rahasia apalagi yang belum Nuri ketahui tentang sesok suami yang selama ini ia kagumi.
Agung memanglah bukan orang yang baik di masa lampaunya, namun perlahan Nuri mampu menghapus jejak kelamnya. Nuri sudah terima dengan sosok Via yang menjadi masa lalunya. Kini hadir lagi sosok wanita yang jauh lebih cantik di banding dengan Via apalagi dengan dirinya.
"Pelan," ucap Agung kala Nuri telah berjalan cepat menuju ranjangnya.
Seperti biasa, Agung akan mengunci pintu terlebih dahulu, takut kalau kalau kedua anaknya tanpa aba aba membuka pintu kamarnya.
"Aku mandi sebentar, jangan banyak gerak," titah Agung pada Nuri.
Tak ingin memperlihatkan kekecewaanya, Nuri pun hanya tersenyum menatap Agung tanpa memberi jawaban.
LIma menit berlalu, kehingan Nuri terpecah oleh suara ponsel Agung. Terdengar sebuah nada pessan. Dengan ragu dan tangan sedikit gemetar, Nuri mengambil ponsell yang tergeletak di atas nakas.
Ia menarik nafasnya, lalu membuka ponsell suaminya yang pasti ia telah mengetahui pola sandinya.
Lagi lagi Nuri menahan sesaknya. Sebuah pesan masuk dari seorang wanita bernama Mona, itu terlihat dari nama foto profil sang pengirim.
[ Aku anggap kamu berhutang janji karena meninggalkanku sendiri. ]
Belum sempat Nuri meletakkan ponsel ke tempat asalnya, Agung telah keluar dari kamar mandi. Wajah lelahnya kini terlihat lebih segar.sebuah pesan yng
__ADS_1
Sadar akan sesuatu yang ada di tangan sang istri, Agung pun perlahan mendekati Nuri.
"Ada apa?" tanya Agung mengernyit.
"Nah." Nuri segera menyodorkan ponsel milik suaminya. Dengan cepat Agung memeriksa ponselnya karena wajah sang istri terlihat sedang tak bersahabat.
Dan ternyata ia baru menyadari bahwa ada sebuah pesan dari Mona.
Dengan tersenyum, "Kamu udah baca?" Seolah tak ada rasa bersalh sedikitpun.
Agung malah tersenyum lalu mengelus pucuk hijab yang Nuri kenakan.
"Mona itu adalah pemilik MG fashion dari Singapura. Dia akan bekerjasama dengan perusahan kita dalam waktu dekat ini. Kebetulan aku dan Mona dulu pernah saatu kampus sebelum keluarga menetap di Singapura. Ada yang ingin kamu tanyakan lagi?" Tangan Agung telah membelai pipi Nuri. Meski ia tahu NUri masih merasa kesal.
"Terus, kenapa mas Agung gak bilang dari awal jika ingin bertemu dengannya? Jangan jangan itu adlah salah satu mas Agung kan?" todong Nuri.
"Udah malam, gak usah mikir yang aneh aneh. Kamu harus banyak istirahat ayo tidur!."
Agung pun segera menempatkan dirinya disamping Nuri dan berbaring.
Dalam diam Nuri masih ingin tahu siapa sebenarnya Mona, hingga suaminya enggan membahas tentang dirinya.
....
Pagi hari, seperti biasa celoteh dua bocah kembar memenuhi ruang makan. Seperti sekarang Briyan tak ingin makan jika bukan mamana yang menggoreng nuget, sedangkan Brayan meninta susunya di ganti, sebab mbah Inah salah membuat susu putih untuknya.
__ADS_1
"Yang cokelat, mbak," teriak Brayan.
"Mama mana sih?" gerutu Briyan.
"Mama tuh sakit Riyan kamu jangan manja! Nuget gorengan mbak Inah sama mama itu sama, sama sama di goreng." Seolah ingin berpikir dewasa, Brayan ouun menasehati Briyan.
"Kamu juga gitu. Minta susunya diganti?" celetuk Briyan.
Brayan menghela nafasnyna. "Sejak kapan aku suka susu putih?" tekan Brayan.
Briyan hanya nyengir. "Oh... iya, aku lupa."
Keduanya pun sarapan tanpa menunggu orang tuanya karena mereka harus bergegas ke sekolah.
Agung dan Nuri pun menghampiri ke dua bocah yang massih lahap menyantap sarapannya lalu menggeser tempat duduk.
''Wah, pintarnya anak mama." Nuri memuji anaknya saat melihat piringg tak bersisa nasi lagi.
"Iya dong Mah, kata Brayan kita harus banyak makan biar gak sakit. Mama udah sembuh?" celoteh Briyan.
"Iya, Mama udah sembuh," jawab Nuri.
"Pagi ini Papa antar ya?" Agung menawarkan diri. Namun, dengan cepat Brayan menolak.
"Gak usah Pa, kami berangkat sama pak Mun aja. Pak Mun ayo cepat nanti kita terlambat." Brayan segera meneguk susunya hingga kandas lalu menyalami kedua orang tuanya begitu juga dengan Briyan.
__ADS_1
Sebelumnya uthor ucapkan terimakasih buat kalian yang udah tebar hadiah dan kasih vote buat cerita ini. Semoga Allah yang membalas kebaikan kalian semua ❤🤲🏻