
Karena tragedi yang menimpa Nuri sehingga membuat kakinya terkilir, ia hanya mampu berdiam diri di rumah. Sudah dua hari ini gadis itu tak bisa keluar rumah. Di tengah kekesalannya ia merasa lega sebab Agung sudah pergi dari rumahnya bersama Azam sejak tadi pagi setelah sarapan. Sementara Bu Aisyah dan Pak Ali mereka juga telah pergi ke ruko.
Tak disangka siang itu saat Nuri sedang berada di tinggat kegalauanya tiba tiba terdengar suara Bel di sertai sebuah salam. Dengan kaki terpincang terpaksa Nuri berusaha membuka pintu.
"Walaikumsalam," jawab Nuri serambi membuka pintu.
Dengan tubuh tergagap Nuri memdapat sebuah pelukan dari dua orang tamunya.
"Masha Allah," kagum Tami setelah melepas pelukanya. Begitu juga dengan Sari, sahabat lamanya terkagum melihat penampilan Nuri saat ini yang telah menutup Auratnya.
Tak menunggu lama Nuri langsung mengajak kedua sahabat lamanya masuk ke dalam rumah.
"Gimana kaki kamu? Udah baikan?" tanya Tami. Saat kejadian terkilir kemarin Nuri segera mengabari Tami bahwa ia tidak bisa menemui mereka.
"Alhamdulillah udah baikan, nih udah bisa buat jalan." Dengan wajah bahagia Nuri memperlihatkan pergelangan kakinya yang masih sedikit bengkak.
"Ya ampun aku kangen banget sama kamu Nur, tanpa kamu di sekolahan rasanya sangat hampa." Sari kini memeluk tubuh sahabatnya.
"Iya, sejak kepergian kalian sekolah sunyi, gak ada keributan dan keseruan," timpal Tami.
"Kalian?" Nuri menaikan alisnya.
"Semenjak kejadian itu, Erika pindah sekolah. Aku dengar dia di kirim ke Australia oleh Ayahnya." Sari mencoba menjelaskan kejadian itu kepada Nuri.
Terlalu asik bercerita Nuri lupa tak menjamu kedua sahabatnya dengan minuman.
__ADS_1
"Udah gak usah repot repot. Bisa melihat kamu aja rasanya udah puas." Tami menghalangi Nuri saat dirinya hendak mengambilkan minum namun Nuri bersikeras tetap mengambil minum untuk sahabatnya.
"Nur, gimana sekolah kamu disana? Apa kamu masih suka usil?" tanya Sari.
Nuri hanya tersenyum melihat kearah du sahabat lamanya. "Semua baik hanya ada satu cewek yang rese. Sok tau semuanya tukang ngadu pula," adu Nuri.
"Terus?" Tami merasa penasaran.
"Jangan bilang kamu tarik tarikan jilbab." Sari langsung menduga. Namun Nuri menggeleng. "Tadinya pengan, tapi aku masih waras." Nuri terkekeh jika mengingat kejadian saat mengerjai Syifa saat di kamar mandi.
Pertemuan mereka harus berakhir. Hampir setengah hari mereka melepas rasa rindu dan bercerita banyak saat mereka berpisah. Nuri sangat bersyukur ternyata Sari dan Tami masih mengingat dan merindukannya.
Selepas Ashar deru mesin mobil terdengat di pendengaran Nuri. Ia mengitip dari jendela kamarnya siapa tamu yang datang kerumahnya.
"Dia lagi," gerutunya
"Lo yakin ingin membeli lahan itu? Harga yang mereka tawarkan sungguh gila," ucap Azam.
Agung hanya membuang nafas beratnya. Sebuah keputusan yang sulit untuk mendapatkn sesuatu yang ia inginkan.
"Nur," panggil Azam. Nuri yang berada di kamar pun segera keluar saat mendengar namanya di panggil.
"Buatkan kopi," titah Azam saat Nuri berjalan kearahnya.
Dengan cepat Nuri memutar balik tubuhnya menuju dapur. Gadis itu tak pernah menolak jika hanya di suruh membuatkan minuman. Menurutnya itu memang tugas seorang perempuan.
__ADS_1
Dua cangkir kopi telah tersaji di atas meja. Nuri pun ikut duduk bersama kedua lelaki itu. Agung segera menyesap kopi di cangkirnya. Wajah lelah, Nuri merasa kedua lelaki itu sedang dalam keadaan tidak baik. Tak ada percakapan, kedua lelaki itu hanya sibuk dengan gawainya.
Dalam benaknya Nuri ingin mengusir Agung. Nuri telah menyiapkan kata kata yang sudah ia rancang sejak tadi, namun saat melihat situasi dingin mencekam ia mengurungkan Niatnya.
"Zam, gue udah pikirin dengan baik dan gue setuju dengan harga mereka. Papa juga udah setuju." Agung berucap setelah menyesep kembali kopinya. Azam mengangguk pelan. "Semua tersarah lo, gue nurut aja." Agung menimpali.
Sungguh Nuri tak mengerti arah pembicaraan mereka. Namun ia bisa menangkap bahwa Agung ingin membeli sesuatu.
Saat malam tiba, semua keluarga sudah berkumpul di meja makan. Adam yang sejak pagi tidak terlihat, kini sudah duduk manis di meja makan. Nuri mengedar pandangan ke penjuru arah seperti ada yang ia cari.
Malam ini tak ada keberadaan Agung di sana. Sedikit rasa kecewa terlihat di raut wajah Nuri. Ada rasa hampa, tiba tiba saja Nuri merasa menyesal telah mengusir Agung.
Tak ada percakapan saat acara makan berlangsung.
"Gimana kakimu nduk ? Sudah sembuh?" tanya Bu Aisyah.
"Alhamdulillah, udah Bu," jujur Nuri. Karena saat ini ia sudah tak merasakan sakit ataupun ngilu lagi.
"Bagus, besok ikut bapak ke ruko," sambung Pak Ali.
Nuri hanya mengangguk. Nuri mengerti kenapa ia harus ikut ke ruko. Tadi selepas sholat magrib ibunya mengatakan bahwa sudah tiga hari ini Ruko terlalu ramai. Ruko pak Ali mengarah ke bidang sembako. Jika saat itu ia masih mengontrak kini Ruko berlantai dua itu telah menjadi meliknya. Ruko yang menjual kebutuhan pokok dan sembako itu hanya buka dari pukul delapan pagi hingga pukul lima sore saja.
Meski kadang merasa keteter pak Ali enggan merekrut pegawai.
T B C
__ADS_1
Ayo dong dukung cerita ini dengan cara Vote, Like dan Komen!
Dukungan kalian adalah semangat bagi Penulis.