Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Ronda Malam


__ADS_3

Berjalan menelusuri pinggiran pantai di temani ombak yang menyapu jejak langkah, Agung menggandeng tangan Nuri, bak seorang remaja yang sedang kasmaran. Menjeda ego yang bersemayam dalam hati.


Sama halnya seperti Agung, Nuri merasa hatinya terasa nyaman setelah hampir satu minggu lebih ia memendam rasa rindu terhadap suaminya. Dibalik sikap dinginnya, Nuri menyimpan sejuta rindu akan sebuah kehangatan.


Puas bermain di pinggir pantai, keduanya memilih beristirahat dengan menyewa tikar dan payung.


"Ikan apa, Ai?" tanya Agung sambil membuka buku menu yang ada ditangannya.


"Kakap bakar ada?" tanya Nuri.


"Ada," jawab Agung.


"Ok! kita pesan kakap bakar dua ya, Mbak," ucap Agung kepada salah seorang pemilik warung.


Sambil menunggu pesanan, tak hentinya Agung memandang takjub wanita yang ada di hadapanya saat ini. Wajah memerah akibat paparan sang mentari, membuat Nuri mengibaskan ujung jilbah yang ia kenakan.


"Gerah ya," tanya Agung.


Jelas saja ia. Pertanyaan yang konyol! batin Nuri.


"Bentar ya, aku belikan jus jeruk biar langsung dingin," ujar suaminya.


Nuri hanya tersenyum, sikap Agung sangat terlihat bahwa di sedang memanjakan sang istri.


Menikmati kakap bakar serta menikmati semilir angin spoi spoi yang menerpa daratan serta deburan ombak menyapu daratan. Kedua insan terbuai dalam kebahagiaan yang mereka rindukan selama sepekan ini.


....


Agung mencari sebuah Masjid untuk singgah menunaikan panggilan-Nya. Kebetulan keduanya melewati jalan utama maka, tidaklah sulit menemukan sebuah Masjid.


Setelah siap, Nuri memilih menunggu suaminya di sebuah tangga Masjid. Sudah menjadi kebiasaan Agung, jika telah siap sholat bukan langsung keluar, ia memilih bertahan sebentar lalu bercakap dengan orang yang dianggp lebih tua atau malah bisa keluar bersama sang imam masjid. Kadang Nuri harus menahan kantuknya demi menunggu Agung.


"O.. ini isrtinya, Pak?" ujar salah seorang lelaki muda.


"Iya, Pak. Kelamaan mungkin tadi." Agung melihat Nuri bersandar pada tembok serta merangkul kedua lututnya. Sudah pasti Nuri tertidur.


"Ya sudah, saya duluan ya, Pak."


Agung hanya mengangguk, lalu mempersilahkan lelaki muda yang ternyata adalah imam Masjid.


Meski usianya terlihat masih muda namum ia sudah berhasil meraih gelar imam di masjid tersebut


"Ai," panggil Agung.


Nuri mengangkat kepala menatap Agung telah duduk di sampingnya.


Terasa berat membuka mata, Nuri malah menyenderkan kembali tubuhnya pada tembok.


"Hei, ayo pulang!"

__ADS_1


Setelah sampai di rumah, Nuri segera membersihkan tubuhnya yang terasa lengket akibat bermain air laut.


Nuri kembali dibuat kesal dengan Agung yang telah fokus pada laptopnya.


"Ini rumah bukan kantor! Dan ini hari minggu!" Nuri menutup paksa laptop suaminya.


Agung menatap Nuri sebentar. "Iya, tapi ini nanggung, Ai. Bentar lagi ya!" Raut wajah lelah sangat jelas terlihat, bahkan kantung mata Agung pun terlihat jelas. Nuri baru menyadari hal itu.


Berjalan gontai, ia menuju lantai bawah. Meski di kamarnya terpasang televisi, Nuri memilih menonton di bawah. Sambil tiduran di karpet, ia begitu fokus dengan layar televisinya.


Namun, kegiatannya terhenti saat terdengar suara bel rumah berbunyi.


Seingat Nuri selama ini tak ada yang akan bertamu ke rumahnya di siang bolong seperti ini. Apakah itu mertuanya?


Setelah pintu di buka, ternyata adalag pak RT, yang rumahnya tepat di depan rumah Nuri.


"Maaf Bu, bapaknya ada?" tanyanya sopan.


Nuri mengngguk. Setelah mempersiapkan pak RT masuk, Nuri segera memanggil sang suami. Semoga saja ia telah siap mandi.


Nuri menabrak tubuh kekar sang suami hingga kepalanya berada di dada bidang Agung, terdengar riuh gemuruh isi di dalam sana.


"Mas, punya penyakit jantung?" tanya Nuri sok polos.


"Ia, jantungku akan hilang kendali saat bersamamu." Seperti sedang mendapat lampu hijau, Agung malah melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Nuri.


Dalam hati ia bersorak ria. Apakah ini tanda sebuah penjajahan akan segera dimulai. Ah, Agung mengingat dimana ia menyimpan sisa tissu galonnua hari itu.


Seketika lemas tubuh Agung. Ah, terlalu jauh pemikiran lelaki dewasa satu ini. Untuk apa Pak RT mencarinya?


Dengan langkah santai, Agung menapaki tangga dan di susul dengam Nuri.


Percakapan antara seorang warga dengan ketua RT ternyata tidak membahas hal penting.


Pak Samsul hanya memberi tahu bahwa Agung juga harus terlibat dalam peningkatan keamanan warga yaitu ronda malam.


"Lho, pak Samsul mana, Mas?" Nuri telah membawakan secngkir teh dari dapur.


"Sudah pulang," jawab Agung malas.


"Kok cepat? padahal ini tehnya baru siap dibuat," gerutu Nuri.


Dengan sorot tajam Agung meninggalkan Nuri.


"Kenapa? kecewa tidak bisa melihat pak Samsul?" ujar Agung sambil berjalan.


Nuri mengerutkan dahinya, apa apaan ini? kenapa mod suaminya sudah berubah.


Setelah meletakkan teh diatas meja, Nuri segera menyusul Agung ke kamar.

__ADS_1


Raut wajah lelah bercampur kesal, Agung membaringkan tubuhnya di ranjang, tempat saksi bisu penuh kehangatan. Agung memejamkan mata sambil berkhayal Nuri datang lalu menyerahkan tubuhnya untuk dijamah oleh lelenya


"Mas Agung kenapa?"


Suara itu terdengar nyata.


Agung terpaksa membuka matanya, Sedikit terkejut bahwa istrinya sudah tak memakai penutup kepala.


Apa itu artinya lelenya sudah bisa masuk ke rawa.


"Pak RT nyuruh ronda malam," ucap Agung.


"Kan bagus, Mas! Lalu kenapa ini muka kusut gitu?" Nuri telah berani mencubit kedua pipi Agung akibat merasa gemas.


Tak tinggal diam, Agung malah segera menarik tangan Nuri hingga terjatuh dalam pelukannya.


Menikmati aroma tubuh sang isrti membuat sebuah benda terbangun dari tidur pulasnya.


Hening, keduanya saling bertatap seolah mengatakan, aku telah merindukanmu!


Mencoba mendekat kearah wajah Nuri, Agung memiringkan wajahnya untuk bisa meraih bibir Nuri.


Tak ada sedikitpun perlawanan dari sang empu, Agung semakin memperdalamnya hingga Nuri melingkarkan kedua tangannya pada leher Agung.


Fix! Lampu hijau telah menyala. Tak ingin melewatkan waktu terbaik, tangan Nakal Agung bermain mulai bergelayar ke tempat candunya.


Sejenak, keduanya mengambil oksigen lalu melanjutkan kembali namun, kini posisi Nuri telah berbaring di ranjang. Satu persatu kain penutup aurat telah tergeletak di lantai.


Mendadak Agung berhenti dari kegiatanya, melupakan sesuatu dalam ingatannya.


"Ai, mendadak sakit perutku. Kamu tunggu sebentar ya?" alibi Agung sambil menutup tubuh Nuri yang telah polos. Entah sejak kapan, Nuri tak menyadarinya hingga akhirnya ia merutuki kegiatannya bersama Agung.


Namun, dalam benaknya menyisakan berbagai pertanyaan, kenapa tiba tiba Agung bisa sakit perut. Hanya alasan atau tidak, Nuri tidak peduli.


Mungkin saat ini ia kehilangan harga dirinya karena telah berhasil menggoda iman suaminya.


Lalu kenapa harus malu dan takut pada dosa sementara hubungan mereka telah sah.


Nuri adalah milik Agung sepenuhnya.


"Bisa kita lanjut?" bisik Agung dengan mesra sambil tersenyum licik.


.


.


.


.

__ADS_1


Silahkan bayangkan sendiri seperti apa cerita selanjutnya!


__ADS_2