
Bu Nisa hanya tersenyum tatkala Nuri mendapat ocehan dari sang mama mertua. Gadis itu tak bisa menyangkal bahwa kemarin ia memang datang ke asrama tanpa meminta ijin dari mama meetuanya.
"Iya, maaf, Ma," ucap Nuri.
Nuri merasa keberatan saat Maya akan mengantarkannya ke kamar. Bagaiman jika temannya ada yang mengetahui tentang kedakatannya dengan Maya. Mendengus pasrah, Nuri berjalan gontai menuju kamarnya.
"Apa kamarmu terasa nyaman?" tanya Maya.
"Nyaman sih Ma, tapi suka panas disana," jawab Nuri apa adanya.
Maya hanya manggut manggut mendengar jawaban menantunya.
Melewati beberapa pintu, akhirnya Maya dan Nuri sampai di depan kamar Nuri dangan nomer urut 05.
Sedikit terkejut saat melihat isi dalam kamar, Maya mengedarkan penglihatannya ke segala penjuru arah.
Untung saja kamar tak ada penghuninya. Duduk di ranjang milik Tika, "Berapa orang satu kamar ini Ai?"
"Sekitar sepuluh orang Ma,"
Maya hanya memperhatikan Nuri menata baju di lemari yang telah disediakn pihak asrama.
"Kamu yakin bisa tidur di kamar seperti ini? Apa gak terasa panas tidur diatas situ?" Maya menunjuk dipan dua tingkat tempat tidur Nuri.
"Bisalah Ma, udah setahun Nuri bobok disini."
****
Ratna terkejut saat mendapati Nuri telah berbaring di ranjang milik Tika. Entah mengapa Nuri lebih nyaman tidur di ranjang milik Tika.
"Astagfirullahaladzim," pikik Ratna.
Sontak para anggota kamar segera berebut untuk masuk. Setelah melihat Nuri tengah berbaring semuanya merasa lega.
"Dasar, Ratna! Ku pikir ada apa gitu," gerutu salah seorang temannya.
__ADS_1
"Sejak kapan ada hidupmu seenak ini Nur?" ejek Galih
Setelah berpelukan bak Teletubbies, Nuri mengeluarkan bungkusan dari dalam kopernya.
"Apa ini?" tanya Ratna.
"Udah, ambil aja! Anggap aja itu oleh oleh dariku." Nuri terkekkah.
"Memang habis liburan darimana?" tanya Tika.
Nuri hanya menggeleng sambil mengingat kejadian kemarin saat dipaksa mama mertuanya untuk memilih pakaian untuknya.
"Jujur, kamu habis ngerampok dari Mall mana?" todong Galih.
"Heh, kamu pikir Nuri perampok?" ucap Ratna.
"Aduh, Ratna! Kalau bodoh jangan keterlaluan dong! Lihat ini merek ternama." Galih menunjukkan merek baju gamis yang baru saja ia terima dari Nuri.
Sontak ketiga sahabatnya tercengang saat mengetuhui merek tersebut.
"Ih, kalian ini. Bukanya bilang makasih kek, malah mojokin aku," gerutu Nuri sambil mengerucutkan bibirnya.
Ketiga sahabatnya tertawa bersama. "Terimakasih Nuri ku sayang." Kemudian mencium pipi Nuri.
"Hei, kalian menodai pipi mulusku! Suamiku saja belum pernah-," Seketika Nuri menutup mulutnya. Dalam hati ia merutuki ucapan yang keceplosan.
Mata ketiga sahabatnya semakin ingin keluar saat menatal Nuri.
"Suami?" ucap mereka bertiga.
"Mak- maksudku, suamiku kelak," elak Nuri terbata. Ya Allah, semoga mereka percaya dan tak menodongku lagi.
"Ah, kupikir diam diam kamu udah nikah. Awas aja kalau nikah sampai gak kasih tahu kami! Persahabatan kita end!" ancam Tika.
Benar saja, mereka percaya. Namum, ucapan Tika masih menancap dal. Bagaimana jika mereka tahu bahwa dirinya telah menikah. Apakah persahabatan itu akan benar benar end.
__ADS_1
"Hei, bengong aja! Ayo ke hafalan!" Ratna menyenggol lengan Nuri yang masih memikirkan ucapan Tika.
***
Disebuah ruangan telah banyak para santri yang telah duduk di mejanya. Setelah mengucapkan salam Nuri dan kawan kawan segera bergabung di meja masing.
Mulai menghafal lagi, gumam Nuri.
Jantung Nuri berdebar ketika pandangan melihat sosok lelaki yang telah duduk di meja paling depan. Ustad Hanafi.
Nuri menyangga dagunya.
Ya Allah kenapa malah tambah ganteng sih, baru juga sebulan gak jumpa.
Dari depan sana terlihat Ustad Hanaf tengah tersenyum. Entah senyuman untuk siapa namun, dada Nuri semakin bergerumuh tak menentu. Berharap senyuman itu untuk dirinya.
.
.
.
.
.
.
Part kali ini banyak dialognya, ya, ibaratnya lama gak jumpa sama temen, pengennya ngobrol turus sampai lupa waktu gitu.
Selamat malam minggu, malam panjang untuk para anak lajang hehehe.
Jangan lupa tinggalin jejak di bawah ini 👇🏻
Syukur² kalian Vote novel ini.
__ADS_1
Yang Like dan Koment, Author doain semoga rejekinya melimpah 🤲🏻.