Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Pantai lagi


__ADS_3

Please di bawah 21+ mohon untuk mundur alon alon! Author tidak bertanggung jawab jika terjadi sesuatu terhadap kalian.


Bijaklah dalam membaca.


Happy reading ❤


Selepas sholat Isya' Agung duduk di teras rumah bersama Pak Ali. Keduanya asik bercerita, sementara Bu Aisyah dan Nuri, mereka masih sibuk menyeduh teh untuk kedua lelaki yang berada di luar sana.


Meski kebahagiaan mereka kurang lengkap tanpa kehadiran Adam dan Azam, jauh di relung hati orang tua Nuri, mereka sudah cukup bahagia melihat anak dan menantunya bisa hidup rukun seperti ini.


"Jangan lama lama di luar, Pak! Nanti masuk angin," pesan Bu Aisyah.


Nuri duduk di samping suaminya. Mandang lekat wajah Agung. Nuri tak habis pikir, padahal jadwal mengajar masih padat, demi membuat hatinya senang, ia harus ijin selama tiga hari.


"Kenapa?" tanya Agung heran melihat Nuri menyunggingkan senyumnya.


"Gak ada," elak Nuri.


Pak Alie merasa hanya sebagai obat nyamuk untuk pasangan muda di depannya. Ia pun memilih menyusul sang istri ke dalam.


"Kalian jangan lama di luar. Ingat kata ibu, angin malam itu ndak bagus." Kemudia Pak Ali berlalu.


Suasana di luar memang sepi. Kebanyakan dari warga sekitar, jika sudah malam tak ada keluyuran di luar rumah, kecuali memang ada perlu.


"Dek, dingin. Masuk yuk!" ajak Agung.


Nuri mengangguk, mengikuti langkah suaminya menuju kamar.


Kamar Nuri tak seluas kamar milik Agung namun, kamar itu tertawa rapi, hampir semua ruangan dipenuhi oleh kepala Mikky mouse dan Mini mouse.


Agung tertawa geli, ternyata istrinya penggemar mikky mouse.


"Dek," panggil Agung.


Nuri yang masih merapikan baju pun menoleh.


"Ada apa, Mas?"


"Sini," titahnya


Nuri segera menyelesaikan kegiatan sebelum menghampiri suaminya.


"Ada apa?" Nuri sudah duduk di ranjang berukuran sedang. Sudah bisa di pastikan jika mereka tidur nanti pasti akan terasa sempit.

__ADS_1


"Ayok," bisik Agung.


Nuri mengernyitkan keningnya. "Kemana, Mas?"


"Emm.. itu.. anu." Ah kenapa jadi gugup seperti ini sih. Dasar mulut gak bisa diajak eaa eaa.


"Ah, sudahlah! Mari tidur, besok kita akan jalan jalan ke sepanjang pantai pesisir selatan." Agung menarik tangan Nuri untuk merebah di pelukan.


Jangtung Nuri sempat ingin berhenti berdetak saat Agung mengajaknya, Nuri tidak bodoh. Ia tahu apa yang sebenarnya di minta oleh suaminya. Ia pun sempat pasrah jika malam ini Agung meminta dirinya namun, nafasnya berhembus lega saat Agung tak bisa menjelaskan dan memintanya untuk tidur.


Entah mengapa suami mesumnya tiba tiba menjadi gugup seperti itu. Dalam hati Nuri tertawa bahagia, tak perlu lagi ia mencari cari alasan untuk menghindar.


🍀🍀🍀


Medan jalan yang sempit serta jalan berliku dan sedikit menanjak, membuat Agung menyetir dengan pelan. Apalagi saat berpapasan dengan bus pariwisata yang besar, terpaksa Agung harus berhenti demi keselamatannya dan juga istrinya.


Agung menggandeng tangn Nuri setelah memerkian mobilnya. Keduanya berjalan ke tepian pantai, kali ini pasir pantai bersih berwarna putih tak seperti pantai di Parangtritis kemarin.


Pantai indrayanti adalah tujuan utama mereka, setelah itu mereka menyusuri hingga ke barat. Sebab rencanya mereka akan menginap di salah satu penginapan milik salah satu kerabat Nuri yng berada di pantai Sundak.



( pantai Indrayanti, Gunung Kidul, Jogjalarta )


Tidak jauh daria area pantai juga terdapat mushola dan sebuah butik kecil. Sedangkan sepanjang pinggiran jalan, banyak yang mengajak oleh oleh khas dari pantai tersebut, sebut saja udang goreng dan peyek ikan kecil kecil. Masih banyak lagi tangkapan dari laut yang di olah menjadi makanan oleh para pencari nafkah.


Hari ini Agung dan Nuri sangat menikmati liburan.


Banyak pantai tersembunyi yang belum ramai di jamah oleh wisatawan, suasana masih asri. Siapa yang menyangka laut yang berbatasan dengan Australia itu menyimpan segudang kemegahan yang tersembunyi.


"Mas, kita foto yuk!" rengek Nuri.


Agung mengangguk lalu mengeluarkan ponselnya.


"Bukan pakai itu, Mas, tapi di poto sama Mas itu." Nuri menunjuk salah satu jasa poto


Lelaki itu hanya pasrah saat sang istri menggandengnya menghampiri seorang lelaki muda dengan sebuah kodak yang menggantung di lehernya.


Bekali kali Agung menggerutu, menyesali ajakan istrinya. Bagaimana bisa Nuri menunjukkan pesona si depan laki laki lain selain dirinya.


"Mas, jangan ngambek dong! lihatlah hasilnya bagus lho." Nuri menunjukkan hasil fotonya.


"Bagus dari mana kalau kamu harus tebar pesona kepada tukang jasa itu."

__ADS_1


Nuri mendesah pelan. Suaminya seperti bocah labil, kadang dewasa, kadang juga seperti anak anak.


Tapi Nuri menyukai Agung yang seperti ini, tak akan terlihat jika lelaki di sampingnya adalah seorang yang kaku dan guru yang di takuti oleh sebagian muridnya.


Omah Homestay Sundak adalah tempat mereka menginap. Penginapan yang berada di atas bukit, sebagai perbatasan antara pantai Sundak dan Pantai Ngandong.


Di tempat itu, mereka bisa menikmati sunset dari balkon.


Setelah puas menikmati matahari tenggelam, tak lupa keduanya pun melaksanakan sholat magrib berdua.


Sebuh kamar yang tidak terlalu luas namun terasa nyaman.


Gulungam ombak menyapu daratan. Semakin malam semakin jelas untuk di dengar. Disini bisa dirasakan, hawa teras dingin.


Nuri merasakan sebuah tangan melingkar di perutnya. Wajah Agung telah bersandar di cerek lehernya. Mengecup tanpa henti, kali ini tanga Agung telah berani kurang ajar.


Kedua tangannya sengaja merambat naik, meremas benda kembar yang masih di bungkus oleh penutupnya. Nuri mendesah pelan. Perlahan tangan Agung membuka jilbab yang masih menutup mahkotanya lalu menarik tali rambut yang mengikat rambut Nuri. Entah mengapa Agung sangat menyukai jika Nuri menggerai rambut panjngnya.


Agung membalikkan badan Nuri, hingga kini mereka berhadapan. Mengambil dagunya lalu mendaratkan bibirnya. Tanpa di tuntun oleh Agung, tangan Nuri telah melingkar di leher suaminya.


Dengan lembut, hisapan dan decakan mereka nikmati bersama. Tangan Agung berhasil membuka resleting gamis Nuri. Tak ada protesan dari sang empu, Agung menggiring Nuri menuju ke sebuah kasur. Merebahkan pelan, lalu tangannya membuka satu persatu kancing bajunya.


"Dek, apa kamu sudah yakin siap?" Agung menatap Nuri yang masih memejamkan mata.


Mengeluarkan nafas kasar, Nuri mengangguk pelan.


Agung segera membuka satu persatu penutup tubuh yang di gunakan oleh Nuri dan dirinya.


Kini mereka sama sama polos tak berbusana sama sekali.


.


.


.


.


.


Sambung nanti sore..


Kalian tunggu aja jam 5 sore nanti oke!

__ADS_1



__ADS_2