Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Tisu Galon


__ADS_3

Dengan gerakan telaten Nuri menata hasil masakannya diatas meja. Meski agak buru buru pada akhirnya Nuri siap tepat waktu. Ia pun segera memasuki kamar anaknya.


Terlihat Brayan telah memakai seragam sekolah sendiri meski masih kurang rapi, sementara Briyan masih berada di kamar mandi bersama Agung.


Inilah kegiatan baru yang Agung jalani setelah memberikan cuti kepada mbak Inah. Ia dan Nuri berbagi tugas. Jika tugas Nuri di dapur maka tugas Agung membereskan anak anak.


"Mama," teriak Briyan dengan lilitan handuk kecil di pinggangnya. Nuri yang sedang menyisir rambut Brayan menoleh. "Kenapa lama sekali?" tanyan Nuri.


"Aku mandi keramas Ma, kayak Papa. Tapi dingin," oceh Briyan.


"Ma, kenapa Papa mandi keramas pagi pagi sekali? Apa tidak dingin?" tanya Briyan ingin tahu.


"Oo, itu biar seger, sayang," jawab Nuri.


Terlihat Agung sudah keluar dari kamar mandi. Lelaki itu segera mengambil baju ganti milik Briyan lalu memakaikannya dengan telaten.


Setelah di rasa semuanya sudah siap, Nuri menyuruh kedua anaknya untuk menunggunya sebentar di meja makan karena ia harus menyiapkan perlengkapan Agung kembali.


"Kalian tunggu sebentar, Mama mauenyiapkan pakaian Papa," perintah Nuri. Keduanya hanya mengangguk pelan.


Di dalam kamat ternyata Nuri telah mendapati suaminya sudah siap dengan pakaian kerjanya.


"Lho Mas, kenapa gak tunggu aku?" tanya Nuri sambil membenarkan dasinya.


Agung menyunggingkan bibirnya. "Apa kamu juga akan memakaikan baju untukku juga? Jika ia biar ku buka lagi bajunya," goda Agung.


"Eh... apaan sib, Mas." decak Nuri.

__ADS_1


Agung menarik tangan Nuri hingga tubuh mereka tak terjeda lagi. Dengan gerakan cepat tangan Agung sudah melingkar di pinggang Nuri. Satu tangannya memegang dagu Nuri dan cup.


Nuri terbelalak, "Mas!" Nuri memberontak.


"Ai, kurang," bisik Agung di telinga Nuri.


"Mas, anak anak sudah menunggu. Kamu tidak mau kan Rayan merajuk lagi karena terlambat ke sekolah?"


Ah, benar saja. Ia hampir lupa jika telah berjanji akan mengantar kedua anaknya ke sekolah.


"Iya aku tahu. Aku pulang cepat. Persiapankan diri karena aku akan membeli tisu galon!" bisik Agung lagi.


Seketika Nuri mendongak menatap suaminya. Apa dia sudah gila? Tanpa tisu itu saja ia sudah tak sanggup melawannya, apa lagi memakai tisu sialan itu.


"Bercanda kok, sayang. Ayo turun." Menyadari Nuri masih terdiam, Agung menuntun Nuri segera bergabung bersama kedua anaknya.


Di dalam kantor tak hentinya Agung mengingat kegiatan panas tadi malam. Semula sanh istri membohonginya jika ia sedang datang bulan, namun saat ia kecewa yiba tiba saja Nuri memberi kode untuk berolah raga. Dengan semangat Agung manjakan miliknya bermain puas hingga beberapa ronde.


"Bagaimana, Pak?" tanya Ilyas.


"Kamu pilih mana yang terbaik saja. Sekian, rapat kita tutup." Agung beranjak meninggalkan ruang rapat.


Ilyas menatap heran kepada sang bosnya. Pagi ini Agung tak seperti biasanya. Sang bos lebih banyak tersenyum sendiri, apakah bosnya mengalami gangguan di kepalanya.


"Bos, hari ini anda ada jadwal bertemu klien di Hotel Cantika dengan direktur Adipura lalu malam nanti anda akan menghadiri peresmian hotel Angkas." Ilyas memberi tahu agenda Agung hari ini.


Agung menganngguk sambil mengetukan jarinya diatas meja. Berpikir sejenak sebelum memberi perintah keada Ilyas.

__ADS_1


Tidak mungkin Agung membatalkan pertemuan dan tidak menghadiri acara resmi dari rekan bisnisnya.


"Selepas istirahat kamu gantikan saya!"


"Baik, Pak." ucap Ilyas cepat.


Agung tersenyum menang. Rencananya untuk pulang cepat tidak akan ada kendal lagi. Agung pun menyandarkan kepala di kursi kebesarannya tak lama pintu di buka.


"Lho, Bapak belum bersiap?" tanya Ilyas heran.


Agung menautkan alisnya. "Kenapa kamuasih disi?" Bukan menjawab, Agung malah bertanya kembali pada Ilyas.


"Bukanya bapak menyuruh saya untuk menggantikan bapak disini." Ilyas tak kalah heran dengan ucapan bosnya.


Apakah bosnya mengalami cidera di kepalanya?


"Il-yas," teriak Agung.


Ilyas segera menutup telinganya. Lelaki itu tidak tahu dimana salahnya hingga membuat Agung marah.


"Saya nyuruh kamu buat menggantikan agenda saya, bukan duduk disini." Agung setengah berteriak.


Ilyas hanya mampu menunduk. Kenapa ia tak menanyakan lebih lanjut. Ah, dasar sial, batin lelaki itu.


"Saya mau pulang! Cepat segera temui klien atau gajimu saya poto..."


"Siap laksanakan, Pak!" Dengan sigap Ilyas segera berlari keluar sebelum mendapat semprotan dari bosnya.

__ADS_1


"Dasar asisten dudul," geram Agung kemudian meninggalkan kantor.


__ADS_2