
Entah sudah berapa lama Nuri memejamkan matanya. Lelah selama perjalanan membuatnya terlelap hingga susah untuk di bangunkan.
Saat Agung mendengar aduan mbak Mar kepada mamanya ia merasa penasaran sesusah apa membangunkan Nuri.
"Ya sudah tunggu saja sampai dia bangun sendiri. Mungkin dia kelelahan," ucap Maya. Mbak Mar hanya mengiyakan ucapan majikannya.
Diam diam Agung telah masuk ke kamar Nuri. Gadis terlihat sangat pulas. Perlahan Agung mendekat ke Arah Nuri, memanggil namanya namun tak ada hasilnya.
Diamati setiap inci wajah imutnya hingga pandangannya terhenti di bibir mungilnya. Dengan posisi jongkok Agung semakin memberanikan diri mendekatkan wajahnya hingga bisa merasakan hembusan nafas Nuri.
Awalnya Agung hanya iseng ingin mengecup bibir Nuri namun sepertinya Nuri merespon kecupan hingga akhirnya Agung memberanikan diri untuk ******* lebih dalam. Entah apa yang akan Nuri lakukan jika ia dalam keadaan sadar.
"Astagfirullah ya Allah." Maya tak percaya dengan apa yang ia saksikan dengan matanya saat ini. Mendengar ucapan Maya, Dayu yang berada di sampingnya membuka lebar pintunya.
"Agung!" sentak Dayu.
Seketika Agung menoleh ke belakang.
"Apa yang kalian lakukan?" Kini Maya berteriak menghampiri Agung. Di sat itu pula Nuri terbangun.
Nuri merasa terheran saat menatap Maya dan Dayu, wajah mereka begitu sangar seakan ingin menerkam seekor mangsa.
Tak ada ucapan dari anak semata wayangnya, Maya dan Dayu sama sama menatap Nuri yang baru saja bangun. Kini Maya tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Pak apa yang terjadi?" Nuri menatap Agung dengan penuh tanda tanya. Karena seingat Nuri ia bermimpi sedang melahap es cream jumbo.
"Apa yang kamu lakukan di sini Agung." Maya sengaja melempar pertanyaan itu kepada anaknya.
Sungguh Agung tak bisa menjelaskan kepada Nuri mau pun mamanya. Sementara Dayu menahan rasa amarahnya.
"Mama gak mau tahu pokoknya kalian besok harus segera mengesahkan Nuri!" ucap Maya.
Agung dan Nuri terbelalak. "Apa?"
"Papa akan segera urus semuanya." Dayu kemudian meninggalkan kamar Nuri.
"Mama kecewa sama kamu Agung!" Maya menyusul suaminya.
Nuri yang masih belum tahu apa yang sedang terjadi merasa sesak di dadanya.
"Pak, tolong jelaskan!" pinta Nuri.
"Kamu tak perlu tahu. besok kita akan menikah,' ucap Agung.
__ADS_1
Nuri kemudian memeriksa dirinya. Masih utuh. Ia menatap dirinya masih berpakaian lengkap.
Lalu mengapa Agung meminta maaf.
"Pak."
Agung menatap Nuri dengan penuh penyesalan
"Apa kamu tidak merasakan sesuatu?" tanya Agung.
Nuri menggeleng. "Tadi aku seperti mimpi sedang memakan es cream jumbo. Tapi seperti nyata."
"Sudahlah, ayo bangun. Lihat kamu sudah berapa lama tertidur." Agung memilih segera keluar dari kamar.
Di ruang tengah Dayu terlihat sibuk menelepon beberapa orang. Begitu juga dengan Maya, ia segera menelepon Aisyah. Memberi tahu jika besok Agung dan Nuri akan melangsungkan pernikahannya. Orang tua Nuri awalnya merasa syok, namun Maya berhasil menenangkan Aisyah.
"Mah, mama yakin dengan keputusan ini? Bagaiman jika Nuri menolaknya mah?" Agung memastikan ucapan mamanya.
"Kenapa tidak? Justru mama gak yakin kamu bisa menjaga kesucian gadis itu sampai waktunya tiba. Satu tahun itu lama dan kamu pria normal Agung!" Maya benar benar marah.
Agung merutuki sikapnya yang telah lancang. Bagaiman reaksi Nuri jika mengetahuinya.
Namun satu sisi lain ia merasa bersyukur karena dengan kejadian tersebut pernikahannya dengan Nuri di percepat.
Tak ada celotehan seperti biasanya. Nuri merasa ada yang aneh.
"Ai, gak papakan kalau pernikahan kalian diadakan sederhana?" tanya Maya.
Nuri tersedak saat mendengar penuturan Maya.
Agung segera menyodorkan air minum.
"Bukan kami gak mau buat pesta besar tapai Ai tau kan kalau Ai masih sekolah? Yang penting kalian halal dulu. Pesta bisa di adakan saat Ai lulus." Maya sengaja menekankan kata halal sambil menatap tajam Agung.
"Tapi Tan, apa tidak terlalu cepat? Nuri belum siap."
"Siap gak siap kamu harus siap Nak. Kami sebagai orang tua takut anak kami melakukan hal di luar nalarnya." Dayu angkat bicara.
.............
Tak ada yang bisa menolak kehendak orang tua. Jika hal tersebut bisa membuatnya bahagia, maka pasrah-lah tindakan yang harus di terima
Siang ini dengan di hadiri beberapa tetangga, Rt dan Rw serta keluarga Nuri, Agung mengucap ikrar suci di hadapan penghulu dan pak Ali.
__ADS_1
Nuri menitihkan air matanya saat para tamu undangan menyerukan kata SAH dengan serempak.
Detik ini juga Nuri telah menjadi seorang istri dari Agung guru tergalak di kelasnya.
Perasaan haru dari Bu Aisyah saat melihat anaknya tengah mencium tangan suaminya.
Setelah Nuri mencium tangan Agung, lelaki itu pun kemudian mencium kening Nuri.
"Terimakasih," bisiknya. Nuri tersipu malu.
Beberapa orang mengucapkan selamat kepada sepasang pengantin baru. Begitu juga pak Ali dan bu Aisyah.
Nuri baru pertama kalinya melihat bapaknya menangis. "Jaga baik baik dirimu nak, sekarang kamu adalah tanggung jawab suamimu. Tugas bapak sampai disini."
Nuri semakin sesenggukan. "Sudah, ibu yakin kamu sudah dewasa. Ingat jangan pernah membantah suami, dosa besar itu."
Karena acara tertutup maka setelah acara makan para tamu undangan pun membubarkan diri.
Agung merasa sangat bahagia sebab kini ia telah mewujudkan impian masa kecilnya. Begitu juga dengan Nuri, jika harus jujur dirinya sangat bersyukur bisa menikah dengan pangeran masa kecilnya.
Doa yang selama ini ia panjatkan kini telah terkabulkan.
Sakinah Mawadah Wa Rohman Agung dan Nuri. Semoga pernikahan kalian hingga kakek nenek dan maut-lah yang memisahkan.
Amin.
E N D
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Tapi Bohong.