
Rumah terasa sepi tanpa suara kedua buah hatinya. Nuri yang akan pergi ke kampus seketika membatalkan niatnya. Toh yang ingin ia cari sudah berada di hadapannya saat ini.
Setelah kenyang mengisi perutnya, Ilyas pamit untuk pulang.
"Jangan lupa, apa yang harus kau lakukan!" Agung mengingatkan sebuah pesan untuk Ilyas.
"Siap Bos! Semua akan terkendalikan di tangan saya," jawab Ilyas ringan.
Pak Mun dan Mbak Inah merasa sangat bersyukur tidak terjadi apa apa kepada tuan majikannya.
"Anak anak dimana?" tanya Agung saat menyadari tak mendengarkan celotehan dua bocah kembarnya.
"Mereka di jemput Mama. Aku pikir mas Agung..." Nuri tak melanjutkan ucapnya. Dan, seketika Nuri memeluk Agung dengan erat.
"Aku pikir Mas Agung berada di dalam pesawat naas itu," lirihnya.
Agung tersenyum dan kembali mengecup pucuk kepala Nuri.
Dalam hati, Agung juga merasa sangat bersyukur karena insiden ban bocor ia tak menaiki pesawat yang naas tersebut.
"Maaf, aku tak bisa memberi kabar. Selain ponselku tertinggal, aku juga tidak hafal nomer ponselmu." Suara Agung melirih.
Nuri segera melepaskan pelukannya. Menatap Agung dengan intens. "Apa mas Agung bilang? Tidak hafal nomer telepon istrinya sendiri. Sudah berapa lama mas Agung nikah sama aku?" Dengan kesal Nuri menghempaskan tubuhnya sendiri di sofa.
"Iya, aku tahi aku salah. Tidak menghafal nomer telepon istri sendiri. Ai, jangan marah dong! Gak rindu sama aku?" Agung merengek sambil bersimpu di pangkuan Nuri.
__ADS_1
Rasa ingin marah dan kesal itu tiba tiba hilang begitu saja saat Agung bersikap seperti kedua anaknya yang sedang sedang memohon.
"Iya. Iya aku maafin. Tapi mulai sekarang mas Agung harus hafalin nomer aku. Kan kalau ada sesuatu bisa kasih kabar. Percuma pernah jadi guru, tapi gak bisa kasih contoh yang bener!" gerutu Nuri.
"Iya, iya." Agung pasrah.
Kini Agung memilih mengistirahatkan tubuhnya. Tidur adalah pilihannya saat ini.
Nuri juga telah menghubungi mertuanya bahwa anak semata wayangnya sudah pulang.
Mendengar kabar tersebut, Maya merasa sangat lega. Detik itu juga ia memboyong tiga balita meluncur ke rumah sang anak.
"Ai, kamu ngapain?" tanya Agung serak.
Terlihat Nuri duduk di meja belajarnya.
"Aku baru saja menghubungi mama," jawab Nuri.
Agung hanya mengangguk. Matanya yang masih mengantuk ia tahan. Mengamati Nuri, seketika ia mengingat sudah berapa berapa hari tidak melakukan peluncuran.
"Ai," panggil Agung lagi.
"Ada apa, Mas?" Dengan segera Nuri melihat ke arah Agung yang masih enggan untuk bangun.
"Sini," pintanya
__ADS_1
Tanpa ada rasa curiga, Nuri pun menghampiri suaminya. Duduk di tepi ranjang, "Ada apa?" tanyanya lagi.
"Itu yuk!" ajak Agung.
Nuri tak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Agung. "Itu apa Mas? Yang jelas dong! kayak anak anak aja." Dumel Nuri.
"Peluncuran," lirih Agung.
Nuri kembali mengernyitkan dahinya. Kali ini Agung seperti Briyan, berbelit-belit.
"Apaan sih, Mas?" Nuri merasa kesal sekaligus merasa penasaran.
Dengan cepat Agung mengecup bibir Nuri. Hanya sekilas, tak lebih dari itu.
"Buat adek bayi," bisik Agung.
Mendadak tubuh Nuri menggidik mendapatkan hembusan nafas Agung di telinganya.
Bagaimanapun, Nuri adalah wanita normal. Diusianya yang sekarang hubungan suami istri adalah suatu kebutuhan yang mutlak. Ia pun tak memungkiri hasratnya untuk di sentuh oleh Agung.
Mendapat lampu hijau Agung segera meraih tubuh Nuri. Merebahkan pelan di iringi dengan kecupan ringan.
Agung perlahan membuka kancing kemejanya dan melempar asal ke lantai.
Gairah yang menggebu sudah tak mampu ia bendung lagi. Namun, saat tangannya mulai akan membuka kancing gamis milik Nuri, suara teriakan seakan memekakkan telinganya.
__ADS_1
"Papa...!"