Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Rumah Baru


__ADS_3

Agung dan Nuri mengikuti arah laju mobil Dayu.


Di dalam mobil sana juga ada orang tua Nuri.


Hari ini, sesuai janji Maya, mereka akan mengadakan syukuran di rumah baru Agung dan Nuri.


Meski tak seluas rumah utama namun, rumah yng di belikan oleh Dayu sudah sangat mewah. Berada di perumahan elit dekat pusat kota.


Nuri terbelalak saat mereka berhenti di depan salah satu rumah berlantai dua tersebut. Disana ternyata sudah banyak orang yang menyambangi rumah tersebut.


"Kok Mama gak bilang kalau acara syukurannya sekarang?" tanya Nuri saat wanita beda usia itu berjalan menuju halaman rumah.


"Kalau dibilang namanya bukan suprise dong, iyakan Bu Aish?" ucap Maya.


Bu Aisyah hanya tersenyum. Betapa beruntung anaknya memiliki mertua sebaik Maya. Kasih sayangnya melebihi kepa anak sendiri.


Para tamu menyambut pemilik rumah, yang mereka kenal hanya Maya dan Dayu saja sebab, keduanyalah yang sering datang kerumah baru tersebut.


Rumah yang baru saja siap di bangun dua minggu lalu, bau cat masih terasa kental.


Setelah dirasa cukup, acara pun segera di mulai.


Diawali sambutan dari Dayu hingga pembaca ayat ayat suci lalu di tutup doa oleh ustad muda kompleks tersebut.


Pandang Pak Ali tak lepas dari putrinya. Rasa haru penuh bahagia, lelaki setengah baya itu tak akan pernah menyangka jika Dayu dan Maya akan memperlakukan Nuri bak seperti seorang nyonya muda.


Lamunan Pak Ali tersentak saat Adam dan Azam menghampirinya. Kedua kakak Nuri ternyata juga menghadiri acara tersebut.

__ADS_1


"Kalian disini," ucap Pak Ali setelah kedua anaknya mengalaminya.


"Kalau kita sampai di lupakan, maka aku akan menyincang Agung di pondok," sahut Azam.


Tak terasa para tamu undangan satu persatuan telah membubarkan diri. Maya dan Dayu sangat berterimakasih kepada para tetangga yang telah menghadiri acara tersbut.


"Makasih loh Buk Maya, kalau ada apa apa jangan sungkan. Itu rumah saya tepat di depan rumah ini," ucap seorang wanita paruh baya.


Maya hanya mengangguk, lalu mempersilakan wanita itu pulang.


Suasana rumah sudah tak seramai tadi. Hanya tinggal keluarga Nuri dan Agung yang masih berbincang di ruang tamu.


Lelaki berbeda generasi pun berkumpul menyesuaikan usianya.


Terlihat pak Ali dan Dayu berjalan mengitari isi rumah, sementara ketiga lelaki lainnya memilih membahas masalah lainnya.


"Masa udah nikah masih solo karir," timpal Adam.


"Mau tahu aja urusan orang. Tuh urusin belut aja kalian masing masing. Kasian di kurung terus." Celoteh Agung.


Jika mendengarkan ketiga lelaki dewasa sedang mengerumpi otak suci terasa ternodai.


Pak Ali dan Bu Aisyah memilih tinggal di rumah baru milik anaknya. Rencana lusa mereka baru akan pulang.


Nuri merasa sangat bahagia bisa melihat kedua orang tua serta kakaknya bisa berkumpul lagi, meski itu hanya hitungan jam saja.


Adam dan Azam juga akan menginap di rumah Nuri.

__ADS_1


Suasana ruang makan terasa sangat hangat oleh canda tawa anak dan menantu Pak Ali.


Malam ini Agung memutuskan untuk pesan makanan secara online dari rumah makan terkenal di kota pendidikan tersebut.


"Nur, kalau porsi makanmu tiap hari seperti ini lama lama Agung bisa bangkrut," ejek Azam.


Nuri melotot. "Bangkut dari mana coba? Emang Mas Agung punya perusahaan? yang ada dia selarat, eh melarat," ucap Nuri.


Agung menginjak kaki Azam hingga sang empu meringis menahan rasa sakitnya.


Sementara kedua orang tuanya malah menertawakan Nuri.


.


.


.


.


.


.


Sampai sini dulu. Belum bisa buat adegan yang hot soalnya masih sibuk dengan dunia nyata.


Terkadang mod menulis itu tergntung dari kalian para reader. Semakin kalian mendukung uthor, semakin kencang juga uthor nulisnya.

__ADS_1


__ADS_2