Dinikahi Mr. A

Dinikahi Mr. A
Saksi Bisu


__ADS_3

Harap bijak dalam membaca!


Dibawah -18 harap mundur!


Emak Nuri gak menanggung jika terjadi sesuatu kepada kalian!


Harapan yang telah didambakan jauh jauh hari harus pupus gegara tamu tak beradap. Bagaimana mungkin, menikah hampir satu tahun tapi masih perjaka? Sungguh tak semua lelaki bisa menahan hingga waktu salam itu.


Agung memejamkan mata, meraih selimut untuk menyelimuti tubuhnya yang telanjang dada.


Nuri merasa sangat bersalah namun itu juga bukan kemauan Nuri. Terlihat Agung sedang merasa kecewa.


"Mas," panggilnya.


Tak ada sahutan dari Agung. Jujur hati Nuri merasa sakit saat diabaikan oleh suaminya sendiri, entah itu sejak kapan. Keadaan seperti ini sangat Nuri benci. Menghela nafas panjang, Nuri pun meraih selimut untuk menutup tubuhnya.


Harapan Nuri hilang seketika terbawa oleh amarah dan kekecewaan.


Agung yang berpura pura tidur pun kembali membuka matanya saat tak ada pergerakan daei Nuri. Lelaki itu bangkit dari tidurnya, perlahan ia tatap wajah damai milik Nuri. Sebuah penyesalan bersarang dalam dadanya, bagaimana bisa ia melimpahkan kesalahan kepada Nuri yang memang bukan salahnya. Tamu itu adalah khodrat bagi wanita.


"Nuri, maaf!" bisik Agung.


Menatap lekat wajah polos sang istri, Agung menyadari bahwa gadis kecil yang berada di depannya telah mampu mengukuhan cintanya.


Jika awalnya Agung tak pernah serius dengan hubungan mereka namun, belakangan ini Agung merasa sangat nyaman bersama Nuri. Bahkan dirinya akan seperti orang gila jika tak melihat Nuri satu haripun.


Nuri mengerjapkan mata saat meraskan gerakan di pipinya. Benar saja, jamari Agung mengelus pipinya.


"Mas Agung," gumamnya.


Agung mengarahkan jari telunjuknya kearah bibir Nuri. "Sstt, maaf sudah mengabaikanmu."


"Harusnya aku tak mengalahkanmu." Belum sempat Agung melanjutkan ucapannya, telunjuk Nuri telah menutup bibinya.


Mata mereka saling beradau, detik kemudian bibir mereka sudah saling menyatu, entah siap yang memulai.

__ADS_1


Nuri mengalungkan tangannya ke leher Agung. Lelaki itu dengan leluasa menyusuri setiap rongga mulut istrinya.


Bibir mungil Nuri menjadi candu untuk Agung saat ini. Begitu juga dengan Nuri, ia sudah tak sepolos seperti kali pertama ia melakuknnya. Itulah yang membuat Agung ingin terus beradu lidah dengan Nuri. Mendesah mesra, Nuri menggeliat saat tangan Agung mulai meremas bukit kenyal bergantian.


Agung melepaskan ciuman yang memabukan itu.


Agung mulai membuka tiga kancing daster Nuri.


"Mas," Nuri menahan tangan Agung.


"Kenapa? aku tahu batasnya, bantu aku mengeluarkan kecebong ini ya!" Tangan Agung menuntun tangan Nuri mengarah ke benda pusaka yang sudah berdiri tegak namun masih terbungus penutup.


Nuri mendongak mendengar ucapan Agung. Mengerutkan dahinya saat mendengar kata kecebong. Bagaimana dirinya bisa membantu pelepasan saat seperti ini.


"Mas, aku 'kan sedang halangan."


"Aku tahu, bantu ya!" Wajah Agung terlihat memelas. Bukan Nuri jika tak tega, mengguk pelan meski Nuri tak tahu apa yang harus ia lakukan.


Agung melanjutkan usahanya membuka kancing di depan dada Nuri.


Agung terus berusaha membuka bagian atas daster yang Nuri kenakan.


Kini atas tubuh Nuri terpampang luas. Agung sengaja menurunkan hingga bagian perutnya saja. Ia sudah berjanji tak akan menyentuh rawa berlembah yang sedang memberinya lampu merah.


Agung melepaskan kaitan penutup gunung kenyal, seketika terlihat jelas sangat putih mulus. Agung mulai meremas pelan bergantian membuat Nuri meloloskan desahannya.


Agung membuka penutup pusakanya, terlihat sangat jelas telah berdiri kokoh, andai saja tak ada lampu merah, Agung akan bermain di rawa lembah miliknya.


Tangan Agung kembali membimbing agar tangan Nuri mengikuti gerakan naik turunnya.


"Iya seperti itu," bisik Agung saat Nuri memperagakannya.


Agung segera membungkam mulut Nuri dengan bibirnya. Tangan mereka sama sama saling bekerja.


Tak cukuo sampai di situ, Agung menurunkan ciumannya ke leher hingga berhenti di dua gundukan mulus. Menghisap satu persatu hingga Nuri menggeliat kembali.

__ADS_1


"Ah, Mas..." desahnya.


Begitu juga dengn Agung. Tangan Agung membatu tangam Nuri mempercepat gerakannya, hingga desahan panjang keluar dau bibir Agung.


Kecebong itu Agung tupahkan pada sebuah sapu tangan kecil miliknya. Setelah merasa keluar semua Agunh merebahkan tubuh lemasnya diatas tubuh Nuri.


"Terimakasih, meski tak masuk ke rawa tapi aku puas." Agung mengecup kening Nuri.


Dada Nuri masih naik turun. Agung menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh Nuri yang masih bertelanjang dada akibat ulahnya.


Memungut pakaian yang ia lemparkan tadi, Agung segera menuju kamar mandi.


Nuri masih memejamkan mata menikmati sisa bercinta dengan Agung. Pusaka Agung yang tegang menantang, membuat Nuri tak bisa membayangkan jika masuk kedalam sarangnya.


Nuri memang sedang berhalangan namun, ia juga bisa merasakan cairan lahar hangatnya juga ikut melelah.



Hotel Queen of the south salah satu hotel di pantai Parangtritis yang menjadai saksi bisu atas pelepasan kecebong di luar rawa berlembah.


.


.


.


.


.


Kapan golnya ya?


Pulang ke rumah kemudian melancong lagi di tepi pantai, ah... gol deh.... hehehe ngarep golnya di tepi pantai sambil menikmati deburan ombak..


Tap Like, tinggalkan jejak.

__ADS_1


Love kalian semua ❤


__ADS_2