
Siang ini Maya sengaja mengajak Nuri untuk belanja bulanan. Selain mereka berdua, ada Mbak Mar dan Pak Ucup, sopir pribadi Maya.
Meski terasa malas untuk keluar, Nuri terpaksa menuruti keinginan mama mertuanya itu.
Mobil telah berhenti di sebuah pusat pembelanjaan terbesar di tengah pusat kota. Dengan langkah elegan, Maya menjinjing tas bermerek ternama. Sementara Nuri dan Mbak Mar hanya mengikuti Maya dari belakang.
"Ai, sini! Pilih apa yang ingin kamu beli!" titah Maya.
Jujur Nuri tak tahu apa yang ingin dia beli.
"Sudah sana! Pilih aja! Jangan lupa beliin untuk saya ya, mbak!" bisik Mbak Mar.
"Gak usah sungkan, uang papa Danu tk akan habis hanya untuk membelanjakan kebutuhanmu," ucap Maya.
Dalam hati Nuri menggerutu kesal. Bukankah tadi hanya bilang akan belanja kebutuhan bulanan saja? Tapi mengapa malah masuk ke toko pakaian.
Tak ingin membuang kesempatan emas, Nuri segera mengambil beberap gamis. Toh tak sampai menghabiskan uang mertuanya.
Mbak Mar masih setia berdiri di belakang Nuri sambil membawa pakaian pilihan Nuri.
"Mbak, ambilkan yang banyak. Nanti bagi satu sama saya." Mbak Mar tersenyum semanis mungkin.
"Kesempatan emas jangan disia siakan! Nyonya selama ini perhitungan ngeri lho mbak," bisik Mbak Mar.
Nuri ingin tertawa, namun takut dosa. Merasa iba dengan Mbak Mar Nuri menyuruh wanita itu untuk memilih yang ia inginkan.
"Mbak, jangan bilang kalau saya yang nyuruh ya."
Mbak Mar tertawa pelan.
"Beres itu," jawab Nuri santai.
Setelah puas, Nuri menghampiri Maya yang juga asik melihat barang barang brand ternama.
"Kita mau kemana lagi, Ma?" Setelah keluar dari toko pakaian Maya kembali berjalan menuju sebuah toko selanjutnya.
"Langsung ke Swalayan ajalah. Mbak Mar, kasih tahu Pak Ucup suruh menjemput belanjaan ini," titah Maya.
Beruntung sekali menantu nyonya ini. Walaupun perhitungan, tapi itu tak berlaku untuk Mbak Nuri. Batin Mbak Mar.
__ADS_1
"Kamu suka makanan apa Ai?" tanya Maya yang kini telah berada di Swalayan
"Apa aja Ma, yang penting bisa di makan, Nuri pasti suka kok," jawab Nuri polos.
"Maksud nyonya, makanan favorit gitu lho Mbak," sambung Mbak Mar.
"Iya, Nuri suka semua, asalkan itu bisa di makan. Dan yang jelas itu halal." Nuri tertawa kecil.
Sementara Maya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah puas berbelanja kebutuhan pokok, ketiga wanita itu berjalan keluar, Maya dan Nuri berjalan duluan, sedangkan Mbak Mar kualahan membawa barang belanjaan yang akhirnya di bantu oleh Pak Ucup.
***
Maya tengah sibuk di dapur dengan perkakas perang untuk membuat cake. Sementara Nuri hanya membantu jika ia di perlukan. Sungguah tak nyaman ketika ia harus dilarang untuk membantu.
"Mama akan ada acara?" tanya Nuri.
Maya menggeleng lalu tersenyum.
"Gak ada. Kenapa?" tangan Maya tetap fokus pada adonan di loyang.
"Oo, besok mau dibawa ke pondok. Mama udah berubah pikiran. Besok kamu Mama ijinin kembali lagi ke asrama. Toh Agung gak bisa pulang balik," jelas Maya
Nuri segera bernafas lega. Memang itu harapanku Ma.
Hati Nuri terlalu berbunga, gadis itu segera mengirim pesan keada Agung bahwa sang mama telah berubah pikiran. Namun, jawaban Agung membuat Nuri down.
[ O, syukurlah ]
Memang gak ada peka sama sekali.
***
Pagi ini Nuri bangun lebih awa. Setelah mengerjakan sholat subuh ia segera mengemas barang yang hendak ia bawa ke asrama.
Terlihat Maya dan Danu telah menunggu Nuri di meja makan. Keduanya pun telah terlihat sangat rapi.
"Ingat pesan Mama, Ai! Setiap akhir pekan kamu dan Agung harus pulang." Maya kembali mengingatkan Nuri.
__ADS_1
Pesan yang tadi malam telah disampaikan kini diulang lagi.
"Iya, Ma, Nuri ingat."
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Kini Dayu turut mengantarkan Nuri.
"Kamu sudah bilang sama Agung?" tanya Danu.
Nuri hanya mengangguk dan tersenyum. Andaikan mereka tahu bahwa Agung tidak peduli kepadanya. Huh, sesak dada ini Pa, batin Nuri.
Hanya butuh waktu kurang lebih 30 menit, mereka telah memasuki halaman pondok.
Nuri awalnya menolak untuk turun di dalam area pondok namun, tak di ijinkn oleh kedua mertuanya.
"Bilang sama Mama, jika ada yang menyinggungmu," ucap Maya.
Sebelum masuk ke asrama putri, Nuri singgah ke ruangan Bu Nisa beserta kedua mertuanya.
Beruntung tak ada yang melihatnya saat turun dari mobil sang mertua. Kedatangnya disambut hangat oleh Bu Nisa.
Akhirnya bisa kembali lagi, bati Nuri.
"Lho, mbak Nuri katanya ingin libur dulu?" tanya Bu Nisa.
Maya mengerutkn dahinya. "Kapan kamu bilang Ai?" tanya Maya.
"Lho, Bu Maya tak tahu, jika kemarin Mbak Nuri dan Mas Agung kesini. Mas Agung bilang Mbak Nuri diminta Bu Maya ijin libur satu bulan untuk menemaini ke luar negri."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Part ini di buat dadakan. Dunia nyata begitu menguras tenaga dan piriran.