
Jum’at Pukul 08.30 WIB
Rita baru bangun dari tidurnya, Rita meraba-raba tempat tidur mencari keberadaan Hpnya. Setelah menemukan nya Rita melihat jam diHpnya dia kanget melihat jam sudah menuju setengah sembilan, dia pun buru-buru bangun dan langsung masuk ke kamar mandi untuk bersiap-siap pergi ke kampus. Rita memasukan semua perlengkapan kuliah ke dalam tas setelah memastikan tidak ada yang tertinggal Rita keluar dari kamar.
Rita melihat Mama yang sedang membereskan meja makan langsung menghampiri Mama.
“Ma Rita pergi dulu udah telat nih” menyalami Mama.
“Loh gak sarapan dulu?” tanya Mama heran.
“Gak usah Ma, udah telat banget ini Rita” ucap Rita panik.
“Rita pergi, Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Rita langsung buru-buru keluar dari rumah menuju mobilnya yang sudah terpakir didepan rumah. Diteras suda duduk Kak Radit yang sedang bersantai menikmati kopinya.
Kak Radit yang melihat Rita berlarian langsung menegurnya.
“Loh Ri kenapa dah lari-lari gitu? Kesandung nanti” ucap Kak Radit melihat Rita berlari melewatinya.
Rita yang sadar keberadaan Kak Radit membalikan badannya.
“Duh Rita udah telat Kak, Rita pergi dulu Assalamualikum” menyalami Kakaknya.
“Waalaikumsalam Hati-hati Ri”
Rita langsung masuk mobil dan tancap gas menuju kampusnya. Disepanjang perjalanan menuju kampus Rita terus berdoa semoga dia tidak telat sampai kampus, dia mulai tidak tenang baru kali ini dia datang kekampus telat. Dia lebih memilih diusir sama dosen karna tidak memperhatikan pelajaran dari pada telat masuk kuliah karna itu akan membuat namanya dipalang.
“Duh kenapa jalanan hari ini gak bersahabat sih” ucap Rita kesal.
“Ayok dong jalan, jangan macet, Tin....tin...tin.... mana jarak kampus masih jauh lagi” Rita terus memperhatikan jam ditangannya.
Ting...Ting...ting...
Hp Rita berbunyi, dia merongoh tasnya mencari keberadaan Hpnya. Setelah menemukannya Rita langsung menekatan tombol hijau diHpnya dan menyalakan speaker.
“Rita........Lo dimana?” teriak Dita dari kejauhan.
“Aduh Dit bisa tidak lo jangan teriak-teriak, gue lagi di jalan ini, lo dimana?” tanya Rita kembali.
“Gue udah di kampus, lo cepatan dah kekampus Pak Devan bentar lagi datang nih”
“Gue terjebak macet nih, gimana dong” panik Rita.
“Duh lo emang kemana aja? Jam segini baru jalan” protes Dita.
“Lo kalau mau bawel mending nanti aja deh ya, lo kabarin gue kalau Pak Devan datang oke” Rita langsung mematikan sambungan telpon.
“Semoga tu orang terkena macet juga” umpat Rita.
Setelah menempuh waktu 45 menit dijalan, Rita pun sampai dikampus dengan selamat. Dia berlarian menuju kelasnya yang berada dilantai 2. Orang-orang pada heran melihat Rita berlarian seperti ada yang kejar dibelakangnya. Tinggal beberapa langkah lagi menuju kelas, Rita malah menabrak seorang pria.
“Duh...” teriak Rita yang sudah terjatuh dilantai barengan dengan pria itu.
“Kenapa pakek nabrak segala sih Ri” kesal Rira dalam hati.
Rita bangun dan membereskan barangnya dan juga barang pria itu.
“Maaf saya tidak sengaja” ucap Rita sebari memberikan barang milik pria itu.
“Kalau jalan itu hati-hati jangan berlarian diarea kampus!!” kata orang itu dengan tegas.
Rita seperti mengenali suara orang itu, Rita menggangkat kepala dan melihat orang yang ada didepannya.
“Pak Devan!” ucap Rita kanget.
“Kamu rupanya, udah telat malah buat ulah lagi kamu!” kata Devan marah.
“Iya Pak maaf, saya terkena macet tadi” Rita menundukan kepalanya.
“Yasudah pergi masuk kekelas sana!”
__ADS_1
“Baik Pak, makasih”
Rita langsung masuk kedalam kelasnya, dia benar-benar kacau hari ini kenapa juga Rita harus menabrak Devan kenapa bukan orang lain saja yang dia tabrak. Rita duduk disamping Dita. Dita, Putri, dan Tika melihat kearah Rita yang begitu berantakan penampilannya hari ini. Tika memberi cermin kepada Rita agar dia bisa membenahi rambutnya yang berantakan.
“Lo kok bisa-bisa nya sih telat? Untung Pak Devan belum datang” ucap Dita heran sama sahabat satunya itu.
“Apaan lo bilang dia belum datang, gue tadi baru juga nabrak dia tu depan pintu!” kata Rita kesel sebari membereskan rambutnya.
Selang berapa waktu dari Rita masuk Devan dengan gagahnya dan tersenyum masuk ke dalam kelas, semua mahasiswi dikelas terkecuali Rita, Dita, dan Putri bersorak kegirangan setelah Devan masuk.
“Selamat pagi semua” ucap Devan tersenyum.
“Pagi Pak”
“Maaf saya telat masuk kelas karna tadi ada insiden kecil terjadi” ucap Devan melihat kearah Rita.
Rita yang merasa dilihatin langsung menundukan kepalanya kebawah.
“Baik kita mulai...”
Tok...Tok..Tok...
Perkataan Devan terhenti dengan suara ketukan pintu dari luar.
“Maaf Pak saya ganggu, hmm saya mahasiswi pindahan dari kelas 2 Pak” ucap wanita itu masuk kedalam kelas.
“Kenapa kamu pindah?” tanya Devan dingin.
“Itu karna kelas sebelumnya bentrok dengan mata kuliah yang lainnya Pak” menundukan kepala.
“Siapa dosen yang mengajar dikelas 2?” tegas Devan.
“Pak Tio Pak” wanita itu tidak berani menatap Devan.
“Apa kamu sudah minta izin sama Pak Tio?”
“Su...sudah Pak, Pak Tio yang menyarankan saya untuk pindah ke kelas ini”
“Febby Kalista Pak panggilannya Kalisata”
“Yasudah kamu duduk, lain kali jangan telat” ucap Devan dengan wajah datar tapi dingin.
Kalista duduk di depan Rita bersama Erna teman sekelas Rita.
“Uhhh untung ganteng, gak salah gue pindah ke kelas ini” ucap Kalista tersenyum.
Rita yang mendengarnya merasa jijik dengan ucapan Kalista. Emang setelah Devan datang kekampusnya mahasiswi dikampusnya menjadi heboh. Rita gak abis pikir sama mereka semua yang tergila-gila terhadap Devan, pada hal menurut Rita wajah Devan itu biasa aja tidak ada keren atau pun tanpa sedikit pun.
“Hufff...” Rita menghebuskan nafas kasar, “Kapan ini berakhir” ucapnya dalam hati.
“Baik semua minggu depan kita akan latihan bermain piano, saya harap tidak ada yang telat lagi!” seru Devan sebari menutup bukunya.
“Saya akhiri pembalajaran hari ini, kalian sudah boleh keluar” ucap Devan kembali kemejanya.
Rita meluruskan badannya, waktu 3 jam sangat melelahkan baginya.
“Rita abis ini ada kemana?” tanya Putri melihat kearah Rita.
“Gak ada, seperti biasa duduk dikanti menggambar smabil nunggu jam 12 nanti” jawab Rita santai.
“Masuk kelas Pak Rahmad kan?” tanya Dita memastikan.
Rita menggangkukan kepala, “yakan emang kita masuk sama-sama nanti” melihat kearah teman-temannya.
“Yaudah kalau gitu lo ikut kita aja” ajak Tika penuh semangat.
“Kemana?” Rita mengkerutkan keningnya.
“Ada deh” jawab Dita dan Tika bersamaan.
“Iya Ri ikut aja sama kita” lanjut Putri.
“Hmmm baik lah” ucap Rita terpaksa.
__ADS_1
Devan yang melihat Rita dan teman-teman nya masih berada dikelas menghampirinya.
“Rita kamu bisa ikut saya sebentar” kata Devan dengan wajah datarnya.
“Bisa Pak” Rita buru-buru memasukan barang-barang kedalam tas.
“Gue pergi dulu kalian luan aja kepakiran” ucap Rita kepada teman-temannya.
Rita mengikutin Devan dari belakang.
“Pak Devan ajak Rita kemana?” tanya Kalista membalikkan badannya melihat kearah teman-teman Rita.
“Kenapa lo yang kepo” jawab Dita sinis.
“Emang Rita dekat ya sama Pak Devan?” tanya Kalista lagi.
“Ternyata benar ya julukan lo di kampus itu Ratu Kepo!!” kata Tika dengan kesal.
“Ih gue tanya doang kok pada sinis gitu sih” Kalista pergi meninggalkan mereka.
“Ih malah yolot tu anak, kenapa sih bisa-bisa nya dia pindah kemari!” emosi Tika.
“Udah bagus-bagus gak ada dia kelas ini, eh malah muncul tu anak” timpal Dita.
“Udah biarin aja, yuk sekarang kita kepakiran sebari nunggu Rita” ucap Putri menenangkan mereka.
*****
Mereka bertiga sudah sampai didepan mobil Rita. Mereka menunggu Rita datang, cukup lama juga mereka menunggu. Dari kejauhan nampak Rita sedang berjalan menghampiri mereka, tapi Rita malah dijengat oleh Kalista.
“Lo ngapain aja bareng Pak Devan?” tanya Kalista dengan sinis.
“Bukan urusan lo” jawab Rita cuek.
Rita melanjutkan jalannya tapi Kalista menarik tangan Rita.
“Eh jawab dulu pertanyaan gue”
“Apa urusannya sama lo? Emang harus gue kasih tau lo, ngapain aja gue sama Pak Devan?” menatap Kalista.
“Gue tanya baik-baik, jadi lo gak usah nyolot sama gue!” Kalista memengang erat lengan Rita.
“Ahhh....!” teriak Rita kesakita.
Dita, Tika, dan Putri yang melihat Kalista mulai kasar dengan Rita langsung menghampirinya.
“Wah lo mau cari gara-gara ya” ucap Tika melepaskan genggaman tangan Kalista.
“Kalian?” Kalista kanget.
“Kenapa sama kami?” tanya Dita melipat tangan di dada.
“Kalian berani nya keroyokan”
“Kalau kamu tidak menyakiti sahabat kami, kami juga gak mungkin datang” Putri bersuara.
“Gue peringatin sama lo, lo jangan pernah dekat-dekat sama Pak Devan kalau lo gak mau bernasib buruk ditangan gue!!” peringat Kalista kepada Rita dan berlalu pergi.
“Ih siapa dia sok gatur-gatur!” kesal Tika.
“Ri kamu gak apa-apa?” tanya Putri khawatir.
Rita menggelengkan kepalanya, “Udah yuk kita pergi”
Mereka berjalan kembali kemobil Rita.
“Sini gue yang nyetir” Dita menggambil kunci mobil ditangan Rita.
“Tumben lo mau nyetir?” tanya Rita heran.
“Udah biarin Dita yang nyetir lo sebaiknya duduk dibelakang” Tika dan putri menarik Rita untuk masuk kedalam tempat duduk belakang.
Dita menyalakan mesin mobil Rita dan menekan gas, mereka mulai menyusurin jalanan kota Bandung yang cukup macet dikerenakan hari jum’at. Rita tidak tau dibawa kemana dengan teman-temannya, sepanjang perjalanan Rita bertanya tapi jawaban mereka tetap sama “nanti lo juga tau”. Rita cukup lelah hari ini dia pun tertidur di dalam mobil, mereka bertiga lega melihat Rita akhirnya tertidur.
__ADS_1