
Satu bulan kemudian, kehamilan Marsya sudah memasuki usia ke 9bulan, sedangkan Baby Zura dan Baby Raden sudah memasuki usia ke dua bulan, Marsya menyuruh seluruh keluarganya untuk berkumpul.
"Ada apaa kamu ngumpulin kita disini?". Tanya Mahesa pada istrinya.
"Aku ngidam honey". Jawabnya pada Mahesa.
"Ngidam apa sayang? bilang aja". Ujar Mahesa pada istrinya.
"Aku ngidam pengen makan bareng kalian semua". Ujar Marsya pada suaminya.
"Ngidam kamu sangat mudah sayang, mau kapan makan makannya?". Tanya Mahesa dengan tersenyum tipis pada istrinya.
"Nanti aja siang ini kan masih pagi, tapi aku pengen kalian ngga boleh ada yang keluar dari rumah sekalipun itu kerja". Jawabnya pada sang suami.
Tentu saja perkataannya membuat mereka terkejut terutama Mahesa, merasa tatapan mereka tertuju padanya membuat Marsya menoleh pada mereka seraya menatapnya penuh tanya, hingga beberapa menit kemudian Mahesa mengajak istrinya untuk beristirahat di kamar.
"Menantu lo ada ada aja sih An".Ujar Amanda yang memang sedang berkunjung ke rumah kediaman sahabatnya.
"Pasti lo juga ngerasain kan". Ujarnya pada Amanda.
"Haha benar banget apa yang lo bilang An". Ujarnya sambil tertawa pelan pada Anna.
"Ya jelas benar, gue paling pro ngerasain menantu ngidam yang aneh aneh ataupun anak gue sendiri". Ujar Anna pada Amanda.
"Iyaa deh yang berpengalaman terlebih dahulu". Ujarnya pada Anna.
"Ohh ya Man---"
"BUNDA, HELP ME!!". Teriakan Mahesa memotong perkataan Anna.
"Ada apa sayang? kenapa? ". Tanya Anna dengan panik pada anaknya.
"Marsya bunda, perutnya kesakitan". Jawabnya dengan cemas pada bundanya.
"Apa?? Marsya akan melahirkan maksud kamu? ". Tanya Anna pada anaknya.
"Iyaa bunda, cepet bantu Mahesa". Jawabnya dengan panik pada bundanya.
"Bentar Mahes, siapa tau itu cuman kontraksi palsu". Ujar Rachel pada adiknya.
"Mana ada sih kak kontraksi palsu?". Tanya Mahesa yang merasa heran.
"Ya jelas ada dongg sayang". jawab Anna pada anaknya.
"Btw lebih baik sekarang kita lihat Marsya". Celetuk Ghea pada mereka.
"Astaga benarr!". Ujar Mahesa sambil menepuk keningnya.
Mereka para perempuan serta Mahesa pergi menuju kamar Mahesa dan Marsya, sesampainya di dalam kamar mereka melihat Marsya yang masih kesakitan, membuat Anna langsung menyuruh anaknya bawa ke rumah sakit saja.
__ADS_1
"Sayang, kamu masih sakit banget?". Tanya Mahesa pada istrinya.
"Iyaa mas Esa, tapi sakitnya ga terlalu kok mas". Jawabnya pada sang suami.
"Beneran ngga papa kan sayang?". Tanya Mahesa sekali lagi pada sang istri.
"Iyaa beneran gapapa mas". ujarnya pada sang suami.
"Yaudah mau ke rumah sakit aja sayang?". tanya Mahesa pada istrinya.
"Ngga usah mas, lagian sakitnya ngga seberapa kok". Jawabnya sambil tersenyum pada suaminya.
"Baiklah kalau begitu, kamu tidur lagi aja sayang". Ujar Mahesa pada istrinya.
"Iyaa mas tapi temenin ya". Ujarnya langsung diangguki oleh suaminya.
"Yaudah bunda sama yang lainnya pergi dulu ya sayang". Ujar Anna pada mereka berdua.
"Iyaa bunda, maaf udah bikin bunda dan yang lainnya panik ya". Ujar Marsya merasa tidak enak pada mereka semua.
"Udah gapapa sayang, yang penting kamu baik baik aja bunda udah senang". Ujar Anna pada menantunya.
"Makasih ya bunda". Ujar Marsya sambil memeluk mertuanya dengan erat.
Pasti kamu sangat merindukan kedua orangtua kamu ya sayang. Batin Anna sambil mengelus rambut menantunya.
"Sayang gimana keadaan Marsya?". Tanya Rangga pada istrinya.
"Marsya baik baik aja mas, Mahesa terlalu khawatir pada Marsya mas". Jawabnya pada Rangga.
"Heum seperti itu, syukurlah kalau Marsya baik baik saja, mas senang mendengarnya". ujarnya sambil tersenyum tipis pada istrinya.
"Iyaa sayangg, nah rencananya mereka akan memeriksa kandungan Marsya beberapa hari lagi mas". Ujar Anna padanya.
"Oh ya kapan itu syang? boleh engga sih mas masuk ke ruang USG?". Tanya Rangga membuat yang lainnya menoleh.
"Bercanda kalii, dulu jugaa pernah bukan bersama kamu sayang ya kalii sekarang juga masuk USG untuk liat cucu". Ujar Rangga sebelum mereka pada protes padanya.
"Huft, ayah bercandanya berlebihan tau engga". Ujar Ghea pada ayahnya.
"Iyaa maaf sayang". Ujar Rangga pada anaknya.
"Yaudah gapapa ayahh". Ujarnya pada sang Ayah.
"Opaa, kapan dedek bayi Uncle Esa lahir?". Tanya Bulan pada opanya Rangga.
"Tinggal menghitung hari sayang, pasti dedek bayinya Uncle Esa akan lahir kedunia". Bukan Rangga yang menjawab melainkan Luna.
"Benarkan Aunty?". tanya Bulan pada Auntynya.
__ADS_1
"Benar dong sayang, maka dari itu Bulan harus menyayangi adik adik bulan ya". Jawabnya dengan lembut pada ponakannya.
"Iyaa bulan akan menyayangi adik adik bulan kok". Ujarnya dengan semangat.
Mereka semua yang melihat itupun tertawa kecil padahal umur Bulan sudah menginjak usia belasan lebih, tapi masih seperti anak kecil saja pikir mereka saat melihat tingkah Bulan yang sangat menggemaskan sekali.
"Ah aku ngantuk, tidur siang yuk". Ajak Bulan pada sepupu perempuannya yang lain.
"Iyaa saMa aku juga ngantuk kak". Ujar Ruby pada Bulan.
"Yaudah kita tidur siang saja". Ujar Anna pada mereka semua.
"Yaudah ayok sayang kita masuk kamar". Ujar Rachel pada anak anaknya.
"Iyaa bunda". Ujarnya pada bundanya.
"Bun, bunda juga tidur ya jangan banyak pikiran, ayah juga okee". Ujar Geo pada mereka berdua.
"Iyaa boy pasti itu". Ujar Rangga pada anaknya sedangkan Anna hanya mengganggukkan kepalanya pada anaknya.
Sesampainya Anna dan suaminya di kamar mereka, Anna langsung merebahkan tubuhnya karena merasa lelah padahal hanya berjalan beberapa langkah ke dalam kamar, sementara Rangga sudah memasuki kamar mandi karena ia merasa gerah.
"Sayang, kamu sudah tidur?". Tanya Rangga yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Sayangg". Panggilnya pada istrinya.
"Ternyata istriku sudah tidur lelap". Gumamnya saat melihat istrinya terpejam.
"Lebih baik aku juga tidur, ngantuk juga". Gumamnya lagi sambil menaiki ranjangnya.
"Semoga nyenyak ya sayang". Ujar Rangga sambil mencium kening istrinya.
"Aku sangat mencintaimu istriku". Ujarnya lagi sebelum akhirnya ia benar benar tertidur pulas.
Anna memeluk suaminya mencari kenyamanan disana, hingga beberapa jam kemudian mereka baru terbangun saat mendengar ketukan pintu membuat keduanya saling menatap ke arah pintu, sebelum membuka terlebih dahulu suara cucunya terdengar.
"Omaa, Opaa bangun, makan yuk". Ujar Bulan membuat keduanya tersenyum kecil.
"Sebentar ya sayang". Ujar Anna dari dalam.
"Oke Omaa". Ujarnya sambil terus saja menunggu didepan pintu kamar oma dan opanya.
...----------------...
Maaf ya gays sebelumnya, seperti biasa tiada bosan author mengatakan maaf karena selalu update telat ataupun engga update, karena Author kelelahan pulang kerja gays, mohon di maklumi ya gays, Terimakasih :)
Maaf juga kalau pada ujungnya aku ngga update, biasanya kuota habis atau akunya ketiduran gays, maafin aku sekali lagi ya guys, terimakasih sebelumnya ya gays:)
Jangan lupa juga Like and Comment juga Vote ya gays sebanyak banyaknya kalau bisa hehe:)
__ADS_1