
Karena ini adalah hari pertama masuk sekolah usai libur panjang jadi kegiatan belajar mengajar tidak begitu aktif bahkan sekolah mempercepat jam pelajaran.
Saat tengah asyik mendengarkan para siswaku bercerita tentang kesan mereka selama liburan,tiba tiba ponselku berdering.Kulihat panggilan masuk dari Arga.
"Hallo...."
Kataku menjawab panggilan itu.
"Hallo Naima,kau sedang apa?"
Tanya Arga berbasa basi.
"Mengajar."
Jawabku singkat.
"Kau menjadi guru sekarang?"
Tanya Arga tidak berkepentingan.
"Katakan saja ada perlu apa kau meneleponku?"
Tanyaku to the point.
"Oh...aku cuma ingin mengingatkan jika hari ini kita ada pertemuan untuk membahas pengerjaan proyek yang kemaren sempat tertunda karena kau pergi begitu saja."
Kata Arga seolah ingin mengatakan aku pimpinan proyek yang tidak bertanggung jawab.
"Oh...baiklah"
"Jam berapa meetingnya?"
Tanyaku.
"Berkisar dua jam lagi dari sekarang."
Jawab Arga.
"Hem...baiklah."
"Aku akan menghubungi team ku untuk mempersiapkan semuanya."
Jawabku yang sebenarnya sudah ingin sekali mengakhiri obrolan dengan Arga.
"Tapi Naima,bisakah kita bertemu lebih awal dari jam pertemuan?"
"Ada hal penting yang ingin ku bicarakan secara pribadi denganmu?"
Request Arga,yang aku merasa ada maksud lain yang tersirat dari perminataannya itu.
Sejenak aku terdiam,karena sebenarnya aku merasa begitu jijik bertemu Arga meskipun itu hal pekerjaan.Tak lama sebuah ide pun muncul di otak ku untuk menolak keinginan Arga itu.
"Arga,jauh sebelum hari ini aku sudah mengingatkan teamku untuk mengatur setiap pertemuan kita ruangan meeting yang ada di kantor David saja,tujuan nya agar menghemat waktu dan sekali jalan untuk mempresentasikan hasil pertemuan kita langsung di hadapan David.Jadi aku pikir jika ada hal yang penting yang ingin kau sampaikan baik itu hal pribadi maupun tentang pekerjaan sampai saja langsung di depan David agar kau tidak perlu mengulang kata yang sama dua kali dalam waktu yang berbeda."
Jawabku seolah memasang prisai perlindungan untuk niat Arga yang terselubung dalam pertemuan itu.
"Naima,tapi ini tentang kita bukan tentang pekerjaan."
Jawab Arga yang akhirnya menyampaikan maksud sebenarnya.
"Maaf Arga,tapi aku sudah menyelesaikan dan menutup Semua cerita tentang kita."
"Sampai bertemu di kantor David dua jam lagi.
"Tut....tut....Tut...."
Kataku begitu ketus,dan mengakhiri panggilan telepon Arga tanpa basa basi dengan kata kata yang manis.
Kemudian aku pun langsung menghubungi David.
"Assalamualaikum istri Soleha ku...."
Sapa David menjawab panggilan teleponku yang membuat aku senyum senyum sendiri mendengar panggilannya.
"Waalaikumsalam suami solehku...."
Jawabku di iringi suara tertawa.
"Kenapa tertawa?"
Tanya David protes.
"Hehe...."
"Tidak ada,hanya sedikit tersanjung dengan panggilan itu."
Kataku tersipu malu sendiri.
"Benarkah?"
Tanya David terdengar senang.
"Hem...."
Jawabku meyakinkannya.
"Baiklah..."
__ADS_1
"Katakan kenapa kau tiba tiba meneleponku?"
"Apakahbkau sudah merindukan ku setelah tiga jam kita berpisah?"
Tanya David menggodaku.
"Tidak...."
Jawabku terputus karena David langsung memotong kalimat yang ingin ku lanjutkan.
"Apa....!"
"Kau tidak merindukan kan ku?"
"Kalau begitu tutup teleponnya sekarang."
Kata David seperti ke kanak Kanakkan.
Dasar duda lebay....
belum apa apa sudah merajuk.
Memang kalau istri menelepon suaminya apa harus karena rindu alasan nya bukan karena hal lain.
Sejenak aku terdiam dan menggerutu dalam hati.
"Hallo...."
"Wanita penceramah...?"
"Kau ini benar benar ya...?"
Teriak David dari kantornya karena aku tidak mengatakan apa pun dalam panggilan yang masih tersambung.
"Iya Hallo...."
"Kenapa harus berteriak?"
"Aku masih di sini mendengarkan mu dan merindukan mu?"
Jawabku merayu agar hati David kembali senang karena aku butuh bantuannya untuk mengatasi Arga.
Azas manfaatðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤...
"Benarkah?"
Tanya David dengan nada suara yang kembali senang terdengar.
"Iya benar sayangku...."
Jawabku memanggilnya mesra dan ternyata itu salah.
Kata David curiga.
"Hehe....."
"David sebenarnya aku menghubungimu karena membutuhkan bantuan mu."
Kataku mulai menjelaskan.
"Ada apa?"
"Kau sedang mengalami masalah?"
"Dimana?"
Tanya David begitu beruntun dan panik hingga aku tidak mendapat kesempatan untuk melanjutkan kalimatku.
"Ow tidak....tidak..."
"Aku baik baik saja,tidak perlu khawatir."
"Tapi ini tentang Arga...,"
Jelasku melanjutkan kalimatku.
"Arga....!!!"
'Kenapa?"
"Apa dia mengganggu mu?"
Tanya David mulai kesal.
"Tidak..."
"Tapi tadi dia meneleponku..'"
"Apa...?"
"Lancang sekali dia...."
Lagi lagi David memotong kalimatku.
"David tenangkan dirimu ..."
"Dan dengarkan ceritaku sampai selesai."
__ADS_1
Kataku coba meyakinkan David yang sudah mulai cemburu.
"Hem...katakan."
Titah David.
"Jadi tadi Arga meneleponku untuk mengingatkan jika hati ini akan ada pertemuan untuk melanjutkan pembahasan rencana kerja di meeting kemarin.Dia minta agar meeting dia adakan di ruang meeting Resto tempat biasa kita booking.Tapi aku pikir sebaiknya meeting di adakan di ruang meeting yang ada di kantormu saja,karena selain menghemat biaya juga menghemat waktu hingga tidak harus presentase lagi khusus dengan mu karena kau juga langsung ikut di meeting itu."
Ceritaku menjelaskan.
Padahal sebenarnya maksud dan tujuanku adalah agar menghapuskan rasa cemburu yang timbul di hati David jika dia tahu aku ada pertemuan dengan Arga,kecemburuan yang tak ingin di akuinya pasti akan membuatnya gelisah meskipun alasan pertemuan itu adalah pekerjaan.
"Wanita pintar....."
"Itu ide yang bagus..."
Kata David memujiku dan setuju dengan ide ku.
"Apa kau sibuk hari ini?"
Tanyaku memastikan.
"Tidak."
"Jam berapa pertemuannya?"
Jawab David dan kembali bertanya.
"Sekitar dua jam lagi."
"Dan kebetulan jam belajar hari ini lima belas menit lagi akan selesai."
Jawabku.
"Baiklah..."
"Lima belas menit lagi supir akan menjemput kalian ke sekolah,dan langsung lah bersiap karena akan menunggumu untuk menagntarmu ke kantor."
"Sementara itu aku akan menyuruh para staff yang terlibat di pertemuan itu untuk mempersiapkan meetingnya "
Kata David yang begitu sigap menghandle semua.
"Huff....syukurlah..."
Kataku menarik nafas panjang,setidaknya aku selalu mendapat dukungan dari David.
"Dan ingat satu hal...."
Sambung David sebelum mengakhiri panggilan
"Apa ?"
Tanyaku penasaran.
"Tidak perlu berdandan yang cantik,karena...."
"Karena tanpa berdandan ya g cantik pun,jika aku berdiri di sebelah mu,maka aku akan terlihat cantik dengan sendirinya...."
"Benarkan?"
Sahut ku memotong kalimat David.
"Bukan...."
Jawab David.
"Lalu?"
Tanyaku kembali.
"Karena aku tidak ingin ada satu laki laki pun yang berani menatapmu nanti termasuk Arga."
Ujar David memberi ultimatum.
"Astaga....."
"Haha....."
"Baiklah lelaki pencemburu...."
Aku tertawa terbahak mendengar alasan David yang sangat tidak masuk akal itu.
"Baiklah sampai ketemu nanti di kantor"
Sambungku dan masih tertawa sebelum menutup telepon.
"Hey....setidaknya katakan beberapa kata sebelum kau tutup teleponya."
Kata David.
"Baiklah...."
"Assalamualaikum...."
"Tut....Tut..."
Telepon pun ku tutup dengan senyuman bahagia yang menghiasi wajahku.Meskipun aku tidak tahu apa maksud dari beberapa kata itu.
__ADS_1
Bersambung......