Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 23


__ADS_3

Selesai Rima membacakan pidatonya,dia pun di beri tepukan yang begitu meriah atas cerita yang dia sampaikan dalam pidatonya.Dan aku tak kuasa menahan air mataku saat mendengar isi pidatonya.Bahkan aku sangat terkejut dengan hal ini,aku tidak pernah menduga bahwa sosok tokoh yang di kaguminya adalah aku.Aku tidak menduga dia sangat pintar bisa mengubah isi pidatonya dalam waktu yang singkat karena yang ku tahu beberapa Minggu ini saat kami berlatih isi dalam pidatonya dia akan menceritakan sosok tokoh pahlawan wanita.


Aku yang merasa tidak punya apa pun selain cinta dan kasih sayang untuknya,merasa begitu tersanjung saat dia menceritakan tentang diriku.Di samping tangis haruku aku pun merasa bahagia bisa menjadi ibu untuk anak yang berbudi pekerti yang baik seperti Rima,meskipun itu hanya ibu sambung.


Dan saat itu aku memahami ternyata di balik takdir yang ku anggap tidak adil karena aku tidak bisa melahirkan,rupanya Tuhan ingin menitipkan harta yang tak ternilai dalam hidupku yaitu Rima.


Setelah mengucapkan terimakasih atas tepuk tangan yang di berikan padanya,Rima pun langsung turun menghampiri ku.Aku yang masih terharu tak kuasa menahan diriku memeluknya dengan erat dan tak henti menciumnya.Dan lagi lagi kami mendapatkan tepuk tangan dari para wali murid yang hadir di aula.


"Ibu Nai,kenapa ibu menangis?"


"Apa pidato ku jelek ya?"


Tanya Rima sambil menghapus air mataku.


"Tidak sayang,justru pidatomu sangat bagus dan ibu Nai terharu mendengarkannya hingga menangis.Terimakasih karena sudah menjadikan ibu Nai tokoh yang kau kagumi."


Jawabku kembali memeluk Rima.


"Ibu Nai menyukai ny"


Tanya Rima lagi.


"Tentu saja sayang....dan terimakasih banyak untuk ini."


Jawabku dan mengajak Rima duduk lagi untuk melihat teman temannya yang lain tampil sebagai beberapa peserta terakhir.


Selang waktu beberapa jam setelah semua peserta tampil akhirnya waktu yang sangat mendebarkan pun tiba yaitu pengumuman sang juara.Rima pun terlihat gelisah namun dia teringat apa yang ku ajarkan padanya agar semua rasa gelisahnya hilang.Rima pun mulai melakukan ny dengan menutup kedua matanya dan menarik nafas panjang hingga akhirnya nama nya di umumkan sebagai juara satu peserta tebaik lomba membaca pidato.

__ADS_1


Sambil mengucap syukur kepada Tuhan aku pun memeluk Rima dan memberinya ucapan selamat.Rima yang begitu sangat senang langsung membuka matanya membalas pelukan ku dan kembali naik ke atas panggung untuk menerima piala dengan gelar sang juara.


Dia pun berbaris di atas panggung dengan peserta yang lain sebagai juara ke dua dan ke tiga dari lomba itu.Kepala sekolah pun telah bersiap untuk memberikan piala dan uacapan selamat untuk para sang juara,namun saat giliran Rima yang akan menerima piala kemenangannya tiba tiba....


"Tunggu sebentar pak...."


Teriak dari suara seorang wanita yang duduk tepat di depan panggung,sontak seluruh mata menatap padanya.


"Para dewan juri maafkan saya ,tapi menurut saya penilaian untuk juara satu nya tidak sah."


Protes wanita itu,dan aku pun terperangah menatap wanita itu yang ternyata adalah nyonya Gita tentangga di kompleks perumahan kami.


"Apa maksud anda nyonya?"


Tanya para dewan juri.


Kata nyonya Gita dengan lantang.


"Kebohongan apa maksud anda?"


Tanya dewan juri bingung.


"Pak aku adalah tetangga dekat anak ini dan aku tahu betul sejak kecil anak ini tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu karena ibunya meninggalkan nya.Dan wanita yang di ceritakannya dalam pidatonya itu hanyalah seorang ibu sambung yang tidak bisa mengandung dan melahirkan,lalu bagaimana bisa wanita seperti itu bisa merawat dan mengasihi seorang anak seperti cerita yang dalam pidatonya !"


Perkataan nyonya Gita begitu menyakiti hati Rima hingga dia menangis begitu sedih dan meremas jari jemarinya merasa ketakutan.


Melihat hal itu naluri keibuanku pun bangkit meskipun aku tidak pernah melahirkan layaknya seperti seorang ibu.

__ADS_1


"Tutup mulut anda nyonya Gita!"


Kataku membentak nyonya Gita dan berjalan menuju ke arahnya.Amarahku membuat aku seperti seekor singa betina yang merasa terusik karena anaknya di ganggu.


"Kenapa?"


"Aku berkata benarkan nyonya Naima?"


Jawab nyonya Gita menantangku.


Namun aku sebagai wanita yang berpendidikan tinggi,sadar bahwa tidak ada gunanya aku berdebat dengan wanita yang mulutnya seperti sampah seperti nyonya Gita,jika itu ku lakukan berarti sama saja aku seperti sampah seperti nyonya Gita.Aku pun mengurungkan niatku untuk menamparnya dan memilih menjelaskan kepada para dewan juri agar pidato Rima yang bagus tidak di nilai kebohongan karena perkataan dari nyonya Gita.


"Para dewan juri yang terhormat,tolong izinkan saya menjelaskan kebenarannya."


Kataku memohon kepada para dewan juri.Dan para dewan juri pun mengangguk menyatakan setuju,ya mungkin kesempatan itu di berikan untuk menghargai ku sebagai tenaga pendidik di sekolah itu juga.


Aku pun tidak menyia nyiakan kesempatan yang di berikan.


"Memang benar aku bukan lah ibu yang melahirkan Rima,tapi bukan berarti semua cerita dalam pidato Rima adalah sebuah kebohongan seperti yang di lontarkan oleh nyonya Gita.Aku percaya pidato itu di buat Rima dari apa yang dia alami dan rasakan.Dan benar aku sangat menyayangi dan mencintai Rima dalam hidupku meskipun aku hanya seorang ibu sambungnya saja."


Jelasku dengan linangan air mata karena sedih melihat Rima yang begitu terpukul dengan komentar pedas nyonya Gita.


"Lalu kenapa jika seorang ibu sambung..!"


Terdengar suara seoarang pria dari balik pintu masuk aula dengan nada suara yang tegas dan begitu lantang.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2