
Setelah menikah aku merasa hidupku penuh dengan drama.Entah itu drama action karena pertengkaran ku dengan David setiap kali kami bertemu di kamar,drama air mata setiap kali aku melihat prilaku dingin david terhadap rima,dan drama komedi setiap kali aku bersama Rima dan anggota keluarga lainnya.
Dan hebatnya aku mampu melakoni drama drama itu seiring berjalannya waktu hingga tiga bulan terakhir setelah menyandang status istri dari pria yang menyebalkan seperti david.
Sudah dua hari belakangan ini aku merasa sedikit kedamaian di rumah mertuaku karena duda yang sombong itu pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan.Tak ingin menyia nyiakan waktu akupun memanfaatkan kesempatan itu untuk bersantai dengan tenang menikmati secangkir teh di balkon kamar menikmati suasana sore hari yang penuh ketenangan.
Tampak juga Rima yang sedang bermain riang dengan beberapa teman nya di taman kompleks dan aku pun bisa sambil mengawasinya.
Tak lama kemudian,
"Ibu Naima...ibu Naima....."
"Ayo turun ke sini bermain lah dengan kami."
Teriak Rima memanggilku saat melihat aku sedang di balkon kamar sedang melihatnya bermain.Dan aku pun melambaikan tangan ku meminta Rima untuk menunggu ku turun.Namun ternyata teriakan Rima juga membangunkan Binggo (kucing kesayangan nya) yang sedang tidur di teras depan.Seolah mengerti suara tuannya,Binggo si kucing putih itu juga sibuk berlari ingin menyebrang menyusul rima ke taman kompleks.Melihat di jalan kendaraan terlalu ramai lalu lalang aku menjadi khawatir dan bergegas untuk turun dan membawa Binggo kepada Rima,Namun langkahku kalah cepat dengan Rima yang ternyata juga melihat Binggo akan menyebrang
dan...
"Aaaaaaaaaa....."
"Brrrakkkk......"
Aku yang masih akan keluar dari kamar tiba tiba mendengar suara teriakan dan aku merasa itu adalah Rima.Tanpa berpikir dengan denyutan jantung yang kencang aku berlari kembali menuju balkon kamar untuk melihat ada kejadian apa.
Dan ternyata dugaan ku benar itu suara Rima yang menjadi korban tabrak lari saat dia hendak menyebrang mengambil Binggo.
"Rimaaaaaaaa...."
Teriakku histeris dari balkon dan segera berlari turun ke bawah.Rasa khawatirku membuat aku berlari sekencang kencangnya menuruni tangga dua lantai tanpa menghiraukan siapa pun bahkan kedua mertua ku yang bertanya padaku.
"Naima sayang,ada apa nak?"
Panggil ayah mertua yang ikut menyusul ku berlari.
Dengan nafas yang terengah engah aku berdiri di depan Rima yang sudah ada di pangkuan ibu ku dengan lumuran darah dan tidak sadarkan diri.Terlihat Binggo juga ada di dekat Rima namun dalam keadaan baik baik saja.
"Astaga anakku Rima ..."
Aku mengangkat Rima dari pangkuan ibu ku.
"Ibu apa yang terjadi,kenapa putriku tidak sadarkan diri dan banyak sekali darahnya?"
Tanyaku pada ibuku sambil menangis dengan nada suara yang begitu berat.
"Lalu kenapa kalian diam saja,seseorang tolong panggilkan ambulance anakku harus segera di bawa ke rumah sakit......"
Teriakku di tengah
kerumunan orang orang yang sedang melihat kami.
"Nyonya tenangkan dirimu,kami sudah menelpon ambulance dan sedang dalam perjalanan."
Jelas salah satu dari mereka yang ada di kerumunan itu.
"Astaga....."
"Cucuku..."
Teriak ayah mertua yang juga ikut berlari menyusul ku.
"Rima...."
"Brrrak..."
Sambung ibu mertua menjerit histeris ketika melihat Rima berlumuran darah dan dia pun jatuh pingsan.
"Istriku...."
Panggil ayah mertua memapah ibu mertua yang sedang pingsan.Tak lama kemudian ambulance pun sampai.
"Ayah mertua,tolong jangan risau ,tangani saja ibu aku yang akan membawa Rima ke rumah sakit.Tenanglah aku akan mengurusnya."
Kataku mencoba tenang sembari akan masuk ke dalam mobil ambulance untuk membawa rima.
"Naima ayah ibu akan ikut denganmu".
Sambung ayah ibu menyusulku masuk ke dalam mobil ambulance.Tak lama kami pun tiba di rumah sakit dengan di sambut perawat ruang unit gawat darurat Rima langsung di bawa ke ruang UGD untuk langsung di tangani.Karena harus mendengarkan perintah dokter yang melarang ku ikut masuk akhirnya aku melepaskan rima di depan pintu ruang UGD.
Sudah hampir satu jam Rima di dalam ruangan itu namun belum ada satupun perawat bahkan dokter yang keluar untuk memberikan informasi tentang keadaannya.Aku pun semakin risau bahkan aku tidak bisa duduk walaupun untuk sesaat.Tak lama kemudian ayah dan ibu mertua pun tiba di rumah sakit di susul dengan David yang berlari dengan wajah yang begitu risau menghampiri aku.
"Bagaimana keadaan Rima?"
"Apa yang terjadi padanya?"
"Kenapa ini bisa terjadi?"
__ADS_1
"Kenapa kau tidak menjaganya dengan baik?"
David menghujani ku dengan banyak pertanyaan tanpa memberikan aku kesempatan untuk menjelaskan nya.Kepanikan kami hilang seketika melihat rasa peduli dan khawatir David terhadap Rima yang selama ini dia begitu dingin terhadap Rima.Bahkan aku hanya terdiam melihat melihat kekhawatiran david.Tak lama kemudian dokter keluar dari ruang UGD.
" Dokter..."
Panggilku dan mendekati dokter.
"Siapa di antara kalian orang tuan pasien?"
Tanya dokter itu.
"Kami..."
Jawabku dan David serentak dengan tidak sengaja dan kami saling menatap sinis.
"Ehm...dokter bagaimana keadaan Rima?"
Tanyaku gelisah.
"Rima kehilangan banyak darah dan saat ini stok darah yang sejenis Rima sedang kosong di Rumah sakit ini,jadi saya himbau kepada bapak dan ibu untuk secepatnya mencari tiga kantung darah karena saat ini Rima dalam keadaan koma."
Jelas dokter yang membuat aku terduduk lemas mendengarnya.
"Dan saran saya kalau ada kerabat yang memiliki golongan darah yang sama dengan Rima itu akan lebih baik."
Himbau Dokter kembali dan kembali masuk ke ruang UGD.Dan semua mata pun tertuju kepada David ,ya tentu saja secara gen dialah orang terdekat Rima sudah pasti dia memiliki golongan darah yang sama seperti putrinya.
"David,bukan kah golongan darahmu sama dengan Rima?"
"Ayah rasa sebaiknya dari darahmu saja di donorkan itu akan lebih menghemat waktu di banding kita harus mencari darah ke bagian pendonor darah."
Kata ayah mertua.
"Tidak ayah,itu tidak mungkin."
Jawab David dan sontak membuat kami semua terkejut.
"Apa maksudmu nak?"
Tanya ayah mertua bingung.
"Ayah bagaimana kita tau golongan darah kami sama,aku sendiri pun tidak begitu yakin apakah dia memang benar anakku atau tidak."
"Apa yang kau bicarakan ini David?"
Tanya ayah mertua marah melihat sikap keraguan David.
"Maafkan aku ayah,tapi setelah penghianatan yang di lakukan Sahira sampai sekarang aku masih ragu apakah Rima memang benar darah dagingku atau bukan.Bahkan aku semakin ragu ketika Arya mengatakan hal yang sama ayah."
Jelas David dengan raut wajah yang penuh kebingungan.Satu sisi dia resah dengan rima namun di sisi lain rasa egoisnya karena penghiantan menjadikan dia sosok ayah yang tega kepada putrinya sendiri.Dan hal ini yang membuat aku tidak bisa mentolerir nya.Dengan luapan emosi aku bangkit dan berdiri tepat di hadapannya.
"Ayah macam apa kau ini,di saat putrimu sangat membutuhkan mu,sampai hati kau mengatakan ini semua tentangnya !"
"Coba lihat putrimu,di dalam sana dia sedang berjuang sendirian melawan kematian,dan kau tega teganya mengatakan keraguan mu tentang hubungan dengannya.Kalau kau ragu dia putri kandungmu atau tidak lalu kenapa selama lima tahun ini kau meminta orang tuamu merawatnya."
Emosi ku meluap seolah tak terbendung,rasa cintaku kepada Rima membuat aku merasa betapa perih hati Rima saat ini.Bahkan aku tidak peduli orang yang ku protes itu adalah seorang ayah dari anak perempuan yang begitu ku sayangi.
"Naima,ku mohon hentikan.."
"Jangan komentar apa pun karena ku tidak mengerti apa yang ku rasakan."
Jawab David.
"Apa?"
"Memangnya apa yang kau rasakan?"
"Rasa sakit mu karena penghianatan ibunya Rima,begitu?"
"Lantas apa salahnya Rima?"
"Kalau kau memang ragu dia bukan darah dagingmu setidaknya lakukanlah demi rasa kemanusiaan."
Kataku dengan luapan emosi yang tak terkendali lagi bersamaan dengan air mataku .
Namun David hanya terdiam.
"Tidak ..tidak..."
"Aku yakin kau juga tidak ingin menolongnya meskipun hanya rasa kemanusiaan,karena aku tahu kau manusia yang tidak pu.ya hati."
Jawabku sendiri menyimpulkan kepribadian si Duda kejam ini.
Aku terdiam sejenak,begitu juga dengan yang lain,masing masing sedang berpikir bagaimana caranya rima bisa mendapatkan pendonor darah.
__ADS_1
"David sayang...ibu mohon nak,kasianilah rima?"
Kata ibu mertua mengatupkan kedua tangannya di hadapan david.Memohon agar david bersedia mendonorkan darahnya.
"Maafkan aku ibu ,aku tidak bisa."
Kata david dan berlari pergi meninggalkan kami.Ibu mertua pun tak dapat berbuat apa apa lagi selain menangis.
"Ibu mertua..ibu mertua..."
Paanggilku memeluknya.
"Sudahlah jangan menangis,biarkan saja dia pergi biarkan jika dia tidak ingin menolong.'
"Tenanglah ku mohon..."
Bujuk ku agar ibu mertua berhenti menangis meratapi anak nya yang tidak punya hati itu.
"Bagaimana ibu bisa tenang Naima,cucuku sedang kritis membutuhkan darah ayahnya,tapi apa yang di lakukan ayahnya."
Keluh ibu mertua yang tak berdaya.
"Dengar jika dia tidak ingin mendonorkan darahnya dengan alasan keraguannya,lalu kenapa?Di dunia ini masih banyak orang lain yang memiliki golongan darah seperti Rima dan kota bisa mendapatkannya di pusat tempat orang orang mendonorkan darahnya."
Jelasku tidak hanya untuk menenangkan hati ibu mertua tapi juga menyemangati hati ku untuk bangkit dan berusaha mendapatkan darah untuk Rima.
"Aku akan menghubungi temanku yang bekerja di pusat pendonor darah itu"
Kataku yang langsung teringat Gea teman kuliahku yang bekerja di tempat pendonor darah.Dan tanpa membuang buang waktu aku pun menghubunginya.
"Hallo Gea,ini Naima.."
Sapaku dari ponsel.
"Oh hai Naima,apa kabar?"
Jawab Gea.
"Aku tidak baik Gea,dan aku saat ini sangat membutuhkan pertolonganmu,maukah kau membantuku Gr?"
Kataku tanpa banyak basa basi.
"Ada Nai,katakan apa yang dapat ku bantu."
Tanya gea dengan nada suara bingung.
"Gea,anakku saat ini sesang kritis,dan membutuhkan tiga kantong darah golongan B+
maukah kau mencarikannya untukku Ge?"
"Aku mohon,aku akan bayar berapa pun yang kau minta."
Jelasku dengan nada suara yang berat dan meggetar karena tak kuasa menahan air mata.
"Naima,jangan katakan itu padaku kita adalah teman,begini saja aku akan periksa dulu stok persediaan yang ada di sini.Karena golongan darah B+ termasuk golongan darah yang langka.Tapi jangan berkecil hati berdoalah mudah mudahan ada.Kalaupun tidak ada aku akan bantu carikan pendonor yang lain.Dan aku akan mengabarimu lima belas menit lagi.Oke.."
Jawab Gea yamg begitu mudahnya mengulurkan bantuan.
"Baiklah Gea,terimakasih ..."
Balasku dengan penuh harapan.
"Semuanya,aku ingin ke toilet sebentar,tolong jaga Rima ya.."
Pamitku pada ayah ibu,dan kedua mertua yang sedang duduk di kursi tunggu dengan raut wajah yang penuh kesedihan.
Kulihat Rima sepintas dari sedikit kaca kecil yang ada di pintu ruang UGD dan masih di tangani oleh dokter.Entah kenapa akubmerasa saat itu Tuhan sedang mengingatkan ku tentangkuasa dan kebesaran Nya.Segera ku sucikan diriku dengan berwudhu dan aku pun masuk ke sebuah mushollah kecil yang ada di rumah sakit itu.Aku pun langsung duduk bersimpuh menceritak keluh kesah ku dalam doa.
Kataku dalam doa :
TUHAN yang Maha Mendengar dan Maha Pengasih,aku tidak marah jika Engkau menakdirkan hidupku tidak bisa melahirkan seoarang anak dari rahimku sendiri hingga akhirnya aku harus kehilangan seorang pria yang sangat ku cintai.Karena pada akhirnya engkau tetap menjadikan ku seorang ibu dari anak yang luar biasa seperti Rima,dan aku sangat bersyukur akan hal itu.
Tapi saat ini putriku dalam keadaan kritis YA Tuhan,tapi aku tidak dapat berbuat apa apa untuknya,andai saja saat ini jenis golongan darah kami sama aku tidak akan berpikir lagi untuk segera mendonorkan darahku untuknya.
Tuhan yang Maha Pengasih,kumohon pada Mu berbelas kasihlah pada Rima datangkan seseorang yang bersedia mendonorkan darahnya untuk Rima tanpa memikirkan satus dan ikatannya dengan Rima.Tolong jagan biarkan sesuatu yang buruk terjadi pada Rima hingga aku harus kehilanganya lagi seabagi takdirku,karena Rima sudah menjadi bagian dari denyut jantungku.
Ku mohon Tuhan.....
Aamiin....
Aku pun menundukkan kepalaku dengan kepasrahan dan linangan air mata yang tak bisa di hentikan.
Ternyata tanpa sepengetahuanku David juga berda di musholah itu sejak tadi tanpa sadr air matanya menetes dan dia pun pergi tanpa aku ketahui.
Bersambung........
__ADS_1