
Mendengar teriakan ku yang berbisik meminta Rima diam,David pun kembali tersenyum dan seketika kejahilannya pun muncul.Dan diapun memimta Rima untuk memberikan ponsel kepadaku.
"Ibu Nai,ayah ingin bicara padamu."
Kata Rima tersenyum dan menyodorkan ponselnya kepadaku
"Hei ...kau ini sudah mulai nakal ya...."
Aku mengambil ponselnya dengan wajah geram dan rima pun berlari meninggalkan ku.
Aku bingung harus mengawali apa untuk memulai pembicaraan.
"Halo...."
Kataku dengn ragu.Namun tidak ada suara yang menjawab sapa ku.
"Halo...."
Ku ulang kembali dan David juga tidak menjawab sapaku.Ku lihat kembali ponselku terlihat jika jaringanku bagus,dan panggilan juga masih terhubung.
"Halo....halo ..."
Kataku menjadi panik.
"Ya ampun...si duda ini .."
"Ada apa dengannya,kenapa tidak menjawab dari sana?"
"Apakah telah terjadi sesutu padanya?"
"Jangan jangan.........?"
Gerutuku dengan tidak menyadari bahwa panggilan di ponselku masih tersambung yang mungkin saja David mendengarnya.
"Jangan jangan apa ...!!!"
Teriak David tiba tiba menjawab pertanyaanku dan sontak membuat aku begitu terkejut saat aku tengah panik dan lagi lagi memikirkan dengan rasa takutku.Takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada nya.
"Mati...."
Teriakku refleks karena terkejut.
"Apa !!!"
Teriak David dari sana.
"Apa ini yang menjadi doamu untuk ku selama kau menghawatirkan ku?"
Tanya David mulai kesal.
"Apa?"
"Aku menghawatirkan mu?"
"Jangan terlalu percaya diri?"
Kataku berdalih.
"Ok baiklah kalau kau tidak menghawatirkan ku,berarti kau merindukan ku,ya kan?"
Tanya David seolah mengerti apa yang ku rasakan.
"Merindukanmu?"
"Ciih....jangan mimpi,masih banyak pekerjaanku yang harus ku selesaikan dari pada memikirkanmu,menghawatirkanmu,apa lagi merindukanmu."
Kataku untuk menolak sebuah pengakuan yang di minta David.
"Jangan munafik,akui saja aku tidak akan membeberkan kepada siapa pun kalau ibu Nai sudah merindukan ku."
Balas David coba menggodaku dari sana dan tersenyum merasa puas telah membuatku kesal.
"Apa yang harus ku akui?"
"Jangan pernah memaksaku untuk mengakui hal yang tidak pantas aku akui."
Kataku.
"Ok baiklah kalau kau bukan orang yang munafik ya mungkin saja kau sudah amnesia."
Kata david lagi hingga membuatku semakin jengkel.
"Amnesia?"
" Apa maksudmu berkata demikian."
"Bukan nya kau yang amnesia?"
Tanyaku kembali coba memberi serangan balik.
__ADS_1
"Aku?"
"Kenapa aku?"
Tanya David heran.
"Tidak menganggap ada orang yang ada di sekitarmu hingga kau pergi begitu saja tanpa mengatakan apa pun padaku bukan kah itu sama saja seperti amnesia?"
Kataku.Mengeluh rasa kecewaku.
"Haha.......haha....."
David tertawa seolah sangat bahagia yang membuat aku kesal.
"Kenapa tertawa?"
Tanyaku kesal.
"Bagaimana tidak tertawa,kau ini memang wanita aneh,kau bilang tidak mungkin menghawatirkan ku apa lagi merindukanku.Lalu kenapa kau kesal jika aku pergi tanpa memberitahumu?"
"Sudah akui saja jika diam diam kau sudah mulai memperhatikanku."
Kata David begitu percaya diri.Dan aku yang tidak menyadari rasa itu pun tersenyum malu di balik pembicaraan kami lewat telepon.
"Jangan terlalu percaya diri..."
Kataku tidak mengakui.
"Aku tidak percaya diri,tapi itu fakta yang kau pungkiri sendiri,karena kau saat ini sedang tersenyum malu,ya kan....?"
Tanya David seolah melihatku.Aku pun spontan terkejut dan merubah ekpresi senyumku menjadi wajah dengan penuh kecemasan.
Sepertinya si duda ini bukan anak ayah mertua,tapi ku rasa dia anak dukun yang bisa menerawangku dari kejauhan.Atau jangan jang dia sudah memasang cctv di suatu tempat di kmar ini yg tidak aku ketahui.
Pikirku dalma hati sambil memperhatikan tiap sudut kamar.
"Halooo...."
Panggil David karena aku cukup lama terdiam.
"Tidak usah teriak teriak,aku masih mendengarkan mu disini."
Jawabku.
"Oh...baguslah,setidaknya kau tidak pergi begitu saja seperti kemaren malam."
"David..."
Panggilku.
"Hemm..."
Jawab David.
"Aku minta maaf atas sikapku kemaren malam jika kata kataku tidak pantas menurutmu."
Kataku memohon maaf.
"Minta maaf?"
Tanya David.
"Ya aku minta maaf,aku tahu kau pergi tanpa berpamitan denganku pasti karena kau marah atas perkataanku kemaren malam.ya kan..."
Kataku.
"Dasar wanita bodoh....!"
"Kenapa kau masih memikirkan itu,sudah lupakan."
"Hutangmu yang satu saja belum kau beri apa kau mau menambah hutang lagi?"
Kata David.
"Hutang?"
"Hutang apa?"
Tanyaku bingung.
"Kau benar benar sudah amnesia ya?"
Jawab David.
"Aku bukan amnesia tapi aku tidak mengerti kenapa kau bilang aku berhutang padamu."
Jawabku mulai kesal.
"Kau masih punya hutang hadiah atas ucapan terimakasihmu,dan sekarang jika kau mau meminta maaf kau juga harus memberikan hadiah untuk permintaan maafmu."
__ADS_1
Kata David mengingtakan akan hadiah yang membuat aku merinding memikirkannya sekaligus memberitahukan dalam undang undang hidupnya jika mengucapkan terimakasih dan meminta maaf padanya berarti sudah siap memberikan hadiah.
"Apa!!"
"Peraturan macam apa itu?"
"Dan kau masih membahas tentang hadiah ?"
"Tadinya aku pikir kau sudah lupa?"
Kataku panik.
"Seorang David Putra Wijaya tidak pernah lupa dengan apa yang di janjikan."
Kata David tersenyum nakal membayangkan wajah gugupku.
"Aku tidak pernah menjanjikan apa pun padamu,kau sendiri yang buat peraturan itu dalam hidupmu."
Balasku kesal dengan sifat semena mena David.
"Ya memang benar,oleh sebab itu kau sudah terlanjur mengucapkan sebuah kalimat yang ada dalam peraturan ku,maka dari itu suka atau tidak suka kau harus menepatinya dan itu adalah hutang bagiku."
Jelas David.
"Ya baiklah baiklah....kau tidak akan pernah mau kalah dengan pemikiranmu."
Jawabku semakin kesal.
"Istri pintar...."
Kat David tertawa terbahak.
"Dengar kau masih punya waktu tiga atau empat hari lagi untuk memikirkan hadiah apa yang pantas kau berikan untukku.Jika sampai aku kembali kau belum juga tahu hadiah apa yang akan kau berikan,maka aku sendiri yang memutuskan hadiah apa yang harus kau berikan untuk ku.Dan suka atau tidak suka kau harus memberikan apa yang ku pinta sebagai hadiahku."
David memberikan ancaman padaku.
"Gerrr...."
Tiba tiba bulu kuduk ku berdiri mendengar kalimat terakhir dari David.Dam sebelum rasa takut kembali menguasai pikiran ku aku pun memutuskan sebaiknya aku menyudahi pembicaraan ini.
"Ya..ya...baiklah..baiklah.."
"Cepatlah selesaikan pekerjaan mu di sana dengan fokus."
"Jangan terlalu sibuk memikirkan hadiahmu,karena begitu kau pulang hadiah mu akan kau terima."
Kataku sebelum mengakhiri pembicaraan.
"Oh ya..?"
"Benarkah?"
"Wah rasa nya jadi ingin pulang tiba tiba."
Kata David senang.
"Hei kau jangan curang ya,jika kau pulang tiba tiba sebelum tiga atau empat hari tanpa memberi kabar maka aku akan membatalkan hadiahnya dan artinya tidak ada lagi hutang hadiah."
Aku memberi ultimatum lebih awal.
"Haha.....baiklah ...baiklah".
David malah tertawa dengan ultimatumku.
"Sudah istirahat sana,karena aku sudah mulai bosan bicara denganmu."
Kataku dengan sangat berani.
"Apa...!"
Teriak David seketika tawanya berhenti.
"Haha....baiklah selamat malam dan ingat jaga kesehatanmu dan makananmu."
Kataku coba mengingatkan.
"Wah....wah kau sudah mulai perhatian ya sekarang."
Kata David begitu senang.
"Itu kata ibumu ...."
jawabku mengelak,dan...
"Tut....Tut....Tut..."
Aku pun menutup telponku untuk mengakhiri pembicaraan tanpa mengatakan salam.
Bersambung.....
__ADS_1