Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 123....


__ADS_3

Akhirnya dengan durasi kecepatan yang terbilang sangat cepat kami tiba di klinik dokter Nisa.Dalm keadaan setengah sadar aku masih bisa melihat dan mendengar apapun yang ada di sekitarku meskipun terlihat dan terdengar samar.


Ku lihat dokter Nisa sudah stay di depan pintu klinik menyambut kedatangan kami dengan tempat tidur pasien yang sudah standby di depan pintu klinik.


"Bertahanlah sayang..."


"Aku janji kau akan baik baik saja."


Kata David sembari menggendongku mengeluarkan ku dari mobil dan meletak kan ku di atas tempat tidur pasien.


"Hati hati....."


"Ayo baringkan dia dengan hati hati di sini."


Ku dengar instruksi dari dokter Nisa.


"Nisa tolong selamatkan Naima,jangan biarkan terjadi apa pun padanya."


Kata David memohon terdengar begitu cemas sembari memgikuti laju tempat tidur pasien yang di bawa oleh beberapa perawat dan di ikuti oleh dokter Nisa menuju ruangan pemeriksaan.


"David,ku mohon tenanglah..."


"Aku pastikan Naima akan baik baik saja."


"Dan sebaiknya kau tunggu di luar saja bersama Ipnu."


Kata dokter Nisa mencoba meyakinkan David.


"Tidak....."


"Aku tidak bisa membiarkan dia sendirian."


"Ijinkan aku mendampinginya hingga pemeriksan selesai."


"Please...."


David memohon dengan nada suara yang begitu panik.


"Okey...okey..."


"Tapi berjanjilah kau tetap tenang dan tidak mengganggu jalannya pemeriksaan hingga selesai."


Dokter Nisa setuju mengizinkan David ikut masuk dalam ruang pemeriksaan dengan memberikan persyaratan untuk David.


"Ya aku janji tidak akan mengganggu,aku hanya ingin tetap berada di sampingnya."


Jawab David setuju dengan tidak pernah melepaskan tanganku dan akhirnya kami masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


Pemeriksaan pun di mulai.


"Naima...."


"Apa kau mendengarku...."


Panggil dokter Nisa agar aku tetap sadar.


"Haaah....."


"Ya dokter aku masih mendengarmu."


Jawabku yang merasa sudah melayang layang.


"Bagian mana yang terasa sangat sakit?"


Tanya dokter Nisa lagi sambil memeriksa perutku.

__ADS_1


"Di bagian panggul dan perut dokter..."


Jawabku merintih dengan mata terpejam.


"Baiklah kita lakukan USG dulu ya..."


Kata dokter Nisa.


"Hemm...."


Jawabku semakin tak berdaya dan tetap berusaha agar sadar.


Dan USG pun di lakukan.


"Wah....Astaga....."


Ucap dokter Nisa menggelengkan kepala yang ku lihat samar dari pandanganku.


"Nisa,katakan ada apa?"


"Apa ada yang serius?"


Tanya David panik.


"Naima,apa kau bisa ingat kapan haid terakhirmu?"


Tanya dokter Nisa sambil memeriksa perutku dengan alat USG nya.


"Bulan lalu dok."


Jawabku.


"Dan bagaiamana dengan bulan ini?"


Tanya dokter Nisa lagi.


"Harusnya tiga Minggu yang lalu aku sudah haid dok,tapi belum juga hingga hari ini?"


"Apakah pendarahanku karena haid ku dokter?_


Tanya tanpa sadar jika aku sudah telat datang bulan.


"Ow....."


Jawab dokter Nisa yang kemudian sejenak terdiam dan memandang layar monitor USG.


"Hei...katakan ada apa?"


"Kenapa kau hanya terdiam."


Tanya David panik.


"Ehm..."


"Begini David dan Naima,sebenarnya aku tidak tahu apakah aku harus gembira atau sedih menyampaikannya."


"Tapi sebagai dokter sudah kewajiban ku harus menyampaikan keduanya."


Kata dokter Nisa terdengar begitu berat.


"Dokter....."


Panggilku sambil menarik tangannya dan menatapnya penuh harap semoga tidak terjadi hal yang buruk padaku.


Dan dengan tenang serta mengedipkan mata di iringi senyumananos di bibiranya dokter Nisa menepuk bahuku mencoba menenangkan ku.

__ADS_1


"Apa ada yang serius Nisa?"


Tanya David penasaran.


"Ehmm..."


"Begini...ada dua kabar yang ingin ku sampaikan dari hasil USG tadi."


"Yang pertama mungkin ini kabar yang sangat membahagiakan untuk kita semua."


"Karena dari hasil USG nya menunjukkan bahwa keterlambatan Naima soal haidnya bulan ini sebenarnya karena Naima sudah hamil...."


"Dan usia kandungannya sudah tiga Minggu."


Jelas dokter Nisa tersenyum.


"Haah...."


"Apa...?"


David histeris antara bahagia,terkejut,dan tidak percaya.Tak ubahnya aku yang terdiam dan meneteskan air mata dengan perasaan yang berkecamuk bahkan tak dapat ku ungkapkan dengan kata kata.Aku serasa mimpi mendengar kenyataan bahwa ada janin di rahimku.


Namun seketika tatap dokter Nisa berubah menjadi tatapan sayu,seketika senyum bahagia yang tadinya terpancar di bibirnya tampak sirna seolah tenggelam dalam ekspresi wajah yang menyimpan makna tak tersirat.


Sontak tanda tanya besar pun muncul dalam benakku.Namun lagi lagi seolah aku tak dapat mengeluarkan kalimat tanya "Ada apa?" dari bibirku.


"Nisa....benarkah informasi yang kau sampaikan?"


Tanya David lagi dengan senyum sumringah dan mulai mempercayai apa yang dia dengar.


"Ya David itu memang benar,namun ada kabar buruk juga yang harus ku sampaikan dan harus kalian dengar."


Seketika kalimat terakhir dokter Nisa memudarkan kebahagiaan kami dengan penuh pertanyaan dan rasa penasaran.


"Apa....?"


Tanya David dengan intonasi melemah.


"Daaaan....kabar buruknya adalah pendarahan yang di alami Naima saat jatuh dari tangga di sebabkan karena Naima mengalami keguguran.Dan saat USG aku melihat bahwa janinnya sudah berada pada mulut rahim dan sudah tidak memiliki denyut jantung,untuk itu kami harus segera mengeluarkannya dan membersihkan rahim Naima.Ini harus segera di lakukan karena akan berakibat fatal untuk nyawa Naima."


Jelas dokter Nisa yang tanpa sengaja menghancurkan harapan kami berdua.


"Naima...."


"Boleh kami melakukannya?"


Tanya dokter Nisa menatapku sembari menggenggam erat tanganku untuk menguatkan ku.


Rasanya aku seperti di angkat hingga terbang melayang lalu kemudian di hempaskan begitu kuat ke bumi.Bahkan aku tak dapat membayangkan bagaimana perasaan David mendengar kenyataan ini.


"Jangan bersedih,anggaplah bahwa kali ini Tuhan ingin menunjukkan kebenaran akan rahim yang ada pada Naima.Bahwa sebenarnya kau bukanlah wanita yang tidak dapat mengandung."


"Meskipun terbilang begitu singkat dia di rahim mu bahkan tanpa kau sadari,tapi tetaplah bersyukur karena Tuhan telah menunjuk kan kuasa dan kebesaran Nya pada rahim mu."


"Ya kan...."


Nasihat dokter Nisa yang sangat adem terdengar di telinga hingga di hatiku.


Dan tanpa berkata apa pun lagi aku hanya mengedipkan kedua mataku di iringi tetesan air mata sebagai tanda aku setuju dengan apa yang di arahkan dokter Nisa.


Proses pembersihan rahim pun di mulai.Meskipun sesekali terasa sedikit sakit namun aku menikmati momen momen itu.Perlahan tangis kesedihanku karena janin yang tidak dapat di selamatkan agar tetap di rahimku,mulai berganti menjadi tangis haru karena merasakan kebesaran Tuhan untuk ku.Tak hentinya aku terus bersyukur dalam hati Atas anugrah yang telah Tuhan titipkan dalam rahimku meskipun hanya sebentar.


Dan hingga akhirnya rasa syukurku mengajarkan aku untuk ikhlas menerima semua kenyataan yang indah ini.Bukan membuatku putus asa,malah memberiku harapan Tuhan pasti akan mengganti apa yang telah di ambil dengan yang lebih baik.


Dengan tegar aku menatap David yang setia mendampingiku.Dan dengan penuh cinta aku pun melontarkan senyuman yang begitu tulus.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2