
Rencana perjodohan telah di setujui,kesepakatan telah di buat,maka persiapan pernikahan pun mulai di buat.Tapi pernikahan ku ini tidak seperti pernikahan gadis gadis lain pada umumnya.,yang meriah mewah,bahkan kedua calon mempelai mulai sibuk merancang konsep pernikahan.Tidak dengan kami.
Menurutku karena ini hanyalah sebuah pernikahan kesepakatan tanpa di dasari cinta,bahkan kami sangat membenci satu sama lain,jadi aku memilih pernikahan yang sederhana saja.Hanya ada acara akad nikah dan syukuran yang di hadiri oleh keluarga terdekat saja.
Tapi tidak adil rasanya jika Rima tidak mengetahui hal ini.Meskipun aku yakin Rima pasti setuju dengan hal ini,tapi menurutku aku tetap harus mempertanyakan nya pada Rima
.semoga ini kabar yang baik untuk nya dan bisa membuat dia bahagia.Dan di suatu pagi di saat aku melihatnya sedang bermain aku memanfaatkan saat itu untuk berbicara padanya.
"Hai sahabatku selamat pagi,ummmmuach..."
Satu kecupan penuh kasih sayang ku berikan di dahi Rima sebagai ucapan selamat pagi.
"Selamat pagi bibi Naima sahabatku."
Balas Rima menciumku.
"Wow...kau terlihat sangat cantik hari ini Rima."
Aku memujinya untuk memulai pembicaraan.
"Benarkah?"
Kata Rima.
"Benar sayang,kau sangat cantik sekali."
Aku memeluknya untuk menghilangkan rasa canggungku untuk manyampaikan berita perjodohan ini.Dan entah mengapa aku seperti kehilangan rasa percaya diri untuk menyampaikan hal ini pada Rima.
"Bibi,aku mau menceritakan sesuatu pada bibi dan ini sangat penting."
Kata Rima berlagak seperti orang dewasa saja.
"Oh ya? hal penting apa yang ingin di ceritakan sahabatku ini?"
Tanyaku sambil tertawa tak kuasa menahan geli bercampur gemas mendengar setiap kata yang keluar dari mulutnya yang mungil itu.
"Apakah bibi tau,kemarin ayah bertengkar hebat dengan kakek dan nenek setelah bibi dan orang tua bibi pulang."
Rima mulai bercerita.Aku pun jadi serius mendengarkannya karena merasa penasaran apa yang mereka perdebatkan di hari pertama pria angkuh itu tiba di rumah setelah enam tahun tidak bertemu.
"Oh ya?"
"Kenapa bisa bertengkar ?"
"Apakah ini karena Rima nakal?"
Tanyaku mengernyitkan dahiku karena heran kenapa lagi lagi Rima harus mendengar hal yang belum pantas dia dengar dengan usia nya yang sekarang.
"Tidak bibi Naima,tapi yang aku dengar ibu ku ingin mengambil hak asuh ku,dan ayah tidak mengizinkannya,tapi ayah tidak bisa mempertahankan ku jika ayah tidak menikah lagi."
Cerita Rima begitu sedih dan menundukkan kepalanya.
"Benarkah ayahmu tidak mengizinkan ibumu membawamu?"
__ADS_1
"Itu bagus sayang,itu artinya ayahmu sangat menyayangimu."
"Lalu apa yang membuat mereka bertengkar?"
Tanyaku sebenarnya yang sudah tau pasti perdebatan mereka adalah masalah perjodohan kami.
"Ayahku tidak menerima wanita yang ingin di jodohkan kakek dan nenek untuknya dan sebenarnya ayah memang tidak ingin menikah lagi,dan dia sangat marah sekali dengan perjodohan itu.Tapi kakek nenek bilang jika dia tidak bersedia menikah maka hak asuhku akan di menangkan oleh ibuku.Nenek sangat khawatir sekali kata nenek ibuku bukan lah wanita yang baik dan nenek sangat sedih jika aku berpisah darinya."
Jelas Rima begitu detail menceritakan masalah yang cukup rumit bagi keluarga mereka.
"Kau tau bibi Naima,saat ini aku sedang bingung sekali."
Sambung Rima.
"Kenapa kau bingung sayang,bukankah kau juga ingin tahu siapa ibu kandungmu?"
Tanyaku.
"Kau benar bibi Naima,aku memang ingin sekali bertemu ibu kandungku,tapi jika aku memilih ibuku,kakek dan nenek akan bersedih .Dan aku tidak ingin melihat mereka bersedih."
Jawab Rima yang begitu dilema.
"Lalu bagaimana dengan ayahmu?"
Tanyaku lagi.
"Aku tidak tahu,tapi jika ayah tidak bersedia menikah dengan wanita yang di pilih kakek nenek berarti ayah memang tidak ingin aku bersamanya dan artinya dia memang tidak menyayangiku."
"Oh sayang....jangan berkata begitu,ayahmu saat ini pasti sedang memikirkan sebuah ide bagaimana caranya agar kau tetap bersama mereka."
Kataku coba menenangkan hati Rima meskipun kesannya sedikit membela David si duda Sombong itu.Dan sebenarnya juga aku sedang memikirkan bagaimana caraku menagatakan bahwa akulah wanita yang dipilih kakek neneknya untuk menjadi ibu sambungnya.
"Benarkah?apa bibi yakin memang sepert itu?"
Tanya Rima menatapku.
"Itu pasti sayang...percaya padaku dia selalu berusaha memberikan yang terbaik untukmu."
Jawabku meyakinkan Rima.
"Lalu jika ayahmu setuju untuk menikah lagi dengan wanita pilihan kakek dan nenekmu apakah kau menyetujuinya juga?"
Tanyaku perlahan coba mulai menyampaikan bahwa
aku lah wanita itu.
"Tentu saja bibi Naima."
Jawab Rima.
"Kau yakin?"
"Walaupun kau tidak mengenal wanita itu?"
__ADS_1
Tanyaku lagi.
"Ya,aku yakin siapapun dia,jika itu pilihan kakek nenek pasti dia yang terbaik."
"Dan aku berdoa semoga wanita itu memiliki sifat dan kebaikan yang sama sepertimu."
Jawab Rima mencium pipiku.
"Serrrrrrrrr...."
Aku merasa begitu lega mendengar kalimat terakhir dari pengharapan Rima tentang sosok wanita yang akan menjadi ibunya.
"Benarkah?"
"Lalu bagaimana jika wanita pilihan kakek dan nenekmu itu adalah aku?"
Tanyaku perlahan dan melambat tempo bicaranya.Dan dalam beberapa saat kami hanya dia dan saling menatap.Lalu....
"Tidak bibi Naima...aku tidak mungkin...."
Jawab Rima dengan ekspresi terkejut berjalan perlahan mundur dan terus menatapku sambil mangatakan kalimat yang sama berulang ulang.Sungguh aku sangat syok melihat ekspresi Rima aku sangat takut jika aku sudah melukai hatinya.
"Rima,sayang...tolong maafkan bibi.Sungguh 'nintidak seperti yang kau pikirkan sayang.Tidak mengapa jika kau tidak setuju kita akan tetap menjadi teman bukan?"
Kataku coba membujuk Rima.
"Tidak bibi Naima..."
Kata Rima lagi menggelengkan kepalanya.
Dan aku pun hanya bisa terdiam lemas menundukkan kepalaku merasa bersalah telah membuat Rima semakin galau.
"Tidak mungkin aku menolaknya bibi..."
"Hahaahaha......"
Rima meneruskan kalimatnya sambil tertawa dan berlari memelukku.
"Huff...."
Darahku seperti berjalan kembali,tanganku yang dingin karena gementar seoalh hangat kembali dengan degupan detak jantung yang mulai normal kembali.Namun aku masih terdiam saat Rima memelukku.
"Benar bibi Naima,mana mungkin aku menolakmu menjadi ibuku.Bibi adalah jawaban dari doa yang selama ini ku minta kepada Tuhan,agar ibu kandungku penuh cinta dan kasih sayang seperti dirimu."
Lanjut Rima coba menenangkan ku dari kecemasan ku akibat aktingnya yang membuat aku syok.
"Oh...kau ini mulai nakal ya sekarang...."
Aku begitu tersentuh mendengar setiap kata dari penjelasan Rima,dan aku semakin gemas dengan akting jahil Rima yang sukses membuat aku deg degan.
Dia pun terus tertawa geli karena aku tak berhenti menggelitiknya.Dan lagi lagi canda tawa kami di perhatikan David dari kejauhan tanpa kami tahu.
Bersambung......
__ADS_1