
Rima begitu tidak sabar ingin menemui ku begitu sampai di rumah untuk menunjukkan semua hasil shopping nya bersama David.
"Assalamualaikum ibu Nai...kami pulang"
Teriak Rima terdengar hingga ke kamarku di ikuti oleh David dengan menenteng tas belanjaan begitu banyak layaknya ajudan yang menemani sang ratu berbelanja.Tapi semua itu tertutupi oleh karakter David yang cool dan wibawa meskipun menenteng tas belanjaan begitu banyak dia tetap terlihat seperti seorang ayah yang begitu penuh wibawa.
"Waalikumsalam...."
Jawabku menyambut kepulangan mereka meskipun hanya di duduk di tempat tidur.
"Ya ampun....sayang kau membeli seluruh isi mall ya?"
Tanyaku kaget.
"Belum semua ibu Nai,hanya beberapa saja dan ini sudah sangat merepotkan ku."
Jawab Rima dengan gaya centilnya.
"Oya...?"
"Benarkah..?"
"Bukankah ayahmu yang terlihat sangat repot?"
Tanyaku tertawa melihat David kewalahan dengan seabrek tas belanjaan Rima.
"Ya...memang benar,ini semua karena barang pesanan mu wanita penceramah...."
"Brraak...."
Sahut David sambil menghempaskan semua tas belanjaan ke sofa beserta dirinya juga.Sementara aku dan Rima hanya tertawa melihatnya.
"Sudah lah ayah jangan mengeluh terus,bukan kah ayah yang tadi menawarkan untuk membeli semua yang di inginkan oleh ibu Nai agar ibu Nai senang?"
Kata Rima membuat wajahku merona merasa tersanjung dan membuat David kikuk karena rasa simpatiknya ketahuan olehku.
"Ibu Nai...."
"Ayo coba hijab ini,kata pemilik toko ini model terbaru dan sangat cantik jika di pakai oleh ibu Nai."
Sambung Rima sementara kami berdua masih terdiam karena sama sama masih menahan rasa.
"Oh ya...?"
"Benarkah?"
"Bagaimana si pemilik toko tahu jika ini cocok untuk ibu?"
Tanyaku tertawa gemas melihat gombalan Rima.
"Karena aku bilang ibu Nai kesehariannya selalu berhijab,dan si pemilik toko bilang wanita cantik itu adalah wanita yang kesehariannya memakai hijab,ayah juga pernah bilang seperti itu,benarkan ayah?"
Tanya Rima kepada David yang lagi lagi terpojok karena aku jadi tahu secara tidak langsung David mengatakan aku cantik.
"Haaah....!"
"Ehm....iya begitulah...."
Jawab David kaget antara dengan pertanyaan Rima dan juga kebenaran tentang panggilan video call di ponselnya yang menjelaskan ternyata sepanjang berbelanja Rima tidak melakukan panggilan video call dengan ku.
Ternyata semua barang barang ini bukan pesanan Naima,ini semua inisiatif Rima.Dan aku sudah mengeluh padanya.
Kata David dalam hati merasa bersalah dan hanya terdiam melihat kami yang tengah asik mencoba semua yang di beli oleh Rima.
Melihat David terdiam menatap ku,Rima seolah mengerti jika David ingin berbicara denganku.Rima pun mencari alasan ingin turun memberikan barang yang dia belikan untuk kakek dan neneknya.
"Hooo...astaga aku lupa jika aku juga membelikan sesuatu untuk kakek dan nenek.Ayah ibu aku harus menemui kakek dan nenek dulu."
__ADS_1
Kata Rima dan pergi meninggalkan kami berdua di kamar.
"Kelihatannya semua pilihan Rima cocok untukmu."
Kata David berbasa basi dan duduk juga di atas tempat tidur tepat di hadapan ku.
"Tentu saja,Rima telah memilihkannya untukku dengan penuh kasih sayang dan aku harus menghargai itu."
Jawabku tersenyum.
"Bahkan hingga kau lupa bertanya bagaimana pertemuanku dengan Arga?"
Kata David.
Aku terdiam sejenak,tadinya aku mau bilang bahwa aku memang sudah tidak peduli lagi dengan Arga,akan tetapi karena aku dalam misi ingin menguji perasaan David padaku,maka aku pun harus berpura pura jika aku masih peduli pada Arga.
"Ehm...tidak juga"
"Malah sejak tadi aku menunggumu pulang karena ingin tahu cerita bagaimana pertemuanku dengan Arga."
Jawabku seolah aku sangat ingin tahu kabar tentang Arga.
"Sepenting itu kah?"
Tanya David.
"Iya,memangnya untuk apa aku menunggumu jika tidak ingin mendengar cerita bagaimana pertemuan mu dengan Arga?"
Jawab ku yang ternyata sedikit menyulut emosi yang coba di sembunyikan David.
"Kalau begitu kenapa tidak kau sendiri saja yang menemuinya....!"
Sahut David kesal dan pergi ke kamar mandi.
Aku tertawa meringis karena melihat aura kejengkelan di nada suara David.
Tanya ku lagi begitu tenangnya dan ternyata membuat David samakin kesal.Hal itu terlihat saat David langsung menghentikan langkahnya sejenak saat ingin masuk ke kamar mandi.
Selama di tinggal David ke kamar mandi aku pun senyum senyum sendiri sambil asyik mencoba satu per satu barang barang yang di beli Rima untuk ku.Tak lama kemudian David pun keluar dengan memakai celana pendek dan T-shirt berwarna biru sebagai pakaian santainya jika sedang berada di rumah dan meskipun begitu penampilannya tetap tidak mengurangi ketampanannya yang mulai ku kagumi.
Melihat raut emosi telah sirna dari wajahnya setelah dia menyegarkan diri aku pun berencana menggodanya lagi guna menguji tingkat kecemburuannya.
"Kau sudah selesai mandi?"
Tanyaku basa basi.
"Kau lihat?"
jawab David masih ketus sambil membungkuk di dekatku mencari ponselnya yang sudah tertimpa barang barang belanjaan yang di belikan Rima untukku.Dan tiba tiba.....
"Cupp...."
Satu ciuman express dari bibirku mendarat di pipi David.Spontan David pun terkejut tapi kali ini dia tak kuasa menahan senyumannya sbil memegang pipinya dan hingga akhirnya menalihkan wajah ya dari pandanganku.
"Satu lagi sisa hadiah yang harus kau bayar...."
Kata David menjelaskan perhitungan hadiah yang harus ku bayar atas ucapan maaf dan terimkasih ku selama kaki ku sakit.
"Hehe....benarkah?"
"Jadi haruskah itu ku bayar sekarang hadiahnya?"
Kataku menggoda David yang wajahnya tampak mulai merona karena malu.
"Tidak perlu juga secepat itu,bilang saja sebenarnya itu alasan mu karena ingin mencium pria tampan seperti ku."
Kata david dengan kesombongannya yang lagi lagi kambuh seperti penyakit musiman.
__ADS_1
Dasar duda sombong.....
Eh,tapi memang bener sih dia tampan.
Hehe.....
Gerutuku dalam hati dan langsung teringat dengan rencana ku untuk mentes tingkat kecemburuan David.
"Jadi,bagaimana pertemuan mu dengan Arga tadi?"
Tanyaku dengan sengaja.
"Kenapa kau sangat ingin tahu?"
Tanya David ketus sambil membuka laptopnya.
"Bukan kah kau yang tadi ingin aku bertanya tentang hal itu?"
Tanyaku balik.
"Tidak ada yang spesial,hanya pembicaraan bisnis."
Jawab David dengan tatapan fokus ke laptop memeriksa file laporan semua bisnisnya.
"Lalu,pembicaraan yang tidak spesial itu apa isinya?"
Tanyaku lagi.Namun kali ini David hanya terdiam setelah sempat mentapku dengan tajam pertanda dia mulai kesal.
"Oo....ya sudahlah kalau kau memang tidak ingin berbagi cerita,tidak apa apa kok."
Jawabku kemudian bermain ponsel seolah merajuk.Padahal yang sebenarnya adalah bagi ku tidak penting ada apa kabar tentang Arga.Namun sepertinya David merasa tidak enak kembali menatapku dia pun mulai bercerita.
"Sebenarnya memang bukan hal yang penting,tapi jika kau ingin tahu baiklah aku akan menceritakannya."
Kata David dengan nada suara yang tiba tiba melembut.
"Kami hanya membicarakan tentang kesepakatan bisnis yang sempat tertunda pada pertemuan tempo hari saat kau melarikan diri seperti seorang penjahat di film action"
Kata David mulai bercerita sambil tetap fokus dengan laptop nya.
Hemm...sialan...
Sahutku dalam hati.
"Lalu?"
Tanyaku.
"Jadi kelanjutan kesepakatan itu berlanjut atau tidak itu semua keputusannya ada di tanganmu."
Sambung David meneruskan ceritanya yang sonta membuat aku terkejut.
"Haaah....!'
"Kenapa aku?"
"Kenapa aku harus terlibat dalam urusan bisnismu?"
"Jangan bawa bawa aku ya...aku sama sekali tidak mengerti bisnismu !"
Kataku mnedadak jadi sewot.
"Aku jiga sebenarnya tidak ingin melibatkan mu,tapi apa boleh buat prtner bisnis ku kali ini ada kaitannya dengan dirimu."
Kata David coba menjelaskan.
Bersambung......
__ADS_1