Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 117....


__ADS_3

Selesai makan malam,aku langsung ke kamar Rima.Sementara David sedang berbincang dengan ayah dan ibunya di ruang tengah membicarakan kejadian tadi.


Ku lihat Rima sudah tertidur dengan buku buku pelajarannya yang berserakan di atas kasur.


"Sayang......"


"Hari ini pasti sangat melelahkan untukmu..."


Kataku sambil memperbaiki gaya tidur Rima yang telungkup di atas buku buku pelajarannya menjadi berbaring telentang agar dia jadi lebih nyaman tidurnya.Kemudian aku pun lanjut membereskan buku buku pelajarannya yang berantakan di atas kasur.


Tak sengaja aku menemukan secarik kertas di bawah tumpukan buku buku Rima Yang berserakan.Kertas itu di beri gambar sederhana ala ala anak TK yang menggambarkan sebuah keluarga yang lengkap dengan crayon warna warni.Aku senyum senyum sendiri memandang gambar yang di buat Rima.Tedapat di situ ada gambar seoarang pria dengan tulisan ayah sebagai keterangannya.Lalu gambar anak perempuan dengan jepit rambut berwarna pink dengan tulisan aku,dan yang lebih mengaharukan lagi saat aku melihat gambar di sebelah anak perempuan itu,yaitu seorang wanita dengan menggunakan hijab sambil menggendong seorang bayi lengkap dengan tulisan ibu Nai dan adik bayi.


Dan tepat di bawah gambar lucu itu terdapat beberapa kalimat layaknya sebuah caption untuk sebuah unggahan foto di sosial media dengan gaya tulisan tangan Rima.


"Keluarga bahagiaku....."


"Tuhan....tolong jaga kami semua,jangan biarkan ada orang jahat mendekati kami ya....."


Tulis Rima sebagai caption dari gambarnya.


Sungguh aku begitu terharu bahkan tanpa sadar aku meneteskan air mata sebagai tangis haru karena melihat gambar tesebut dan teringat kembali ucapan dokter Nisa yang memberi penjelasan dari hasil pemeriksaannya bahwa aku bisa hamil.Aku merasa Tuhan itu benar benar sangat baik sekali,karena dia bisa membuat kenyataan akan harapan dari seorang anak kecil.Bahkan hal yang tidak mungkin bisa jadi mungkin.


Tuhan.....


Semoga aku segera mendapatkan kepercayaan dari Mu,untuk mendapat titipan adik bayi yang di inginkan Rima dari rahim ku.


Aamiin....


Doaku dalam hati.


Selesai merapihkan semuanya aku pun mendekati Rima yang sudah tertidur begitu nyenyak.Wajah polosnya membuatku tersenyum bahagia dan berharap agar aku bisa selalu membuat dia tersenyum.


"Sayang....."


"Teruslah berdoa,semoga apa yang menjadi mimpimu segera menjadi kenyataan."


"Ibu Nai sangat ....sangat....mencintaimu..."


"Emmmmuach......"


Kata ku mengecup dahi Rima sebelum keluar dari kamarnya.


Dan aku pun kembali ke kamarku.Kulihat David tengah melamun di sofa melihat ke arah jendela.Ku tutup pintu kamar dengan perlahan agar tidak sampai mengeluarkan suara.Perlahan aku berjalan dengan mengendap endap tadinya aku berniat ingin mengejutkan nya,namun semakin aku mendekat ke arah David aku melihat sepertinya David tidak sekedar melamun namun tengah serius dalam memikirkan sesuatu,dan aku pun mengurungkan niatku untuk mengejutkannya.


"Kau belum tidur..?"


Tanyaku berbasa basi.


"Belum...."


Jawab David singkat.


"Apa kau butuh sesuatu?"


"Kopi misalnya?"


Tanyaku memberikan penawaran.


"Tidak...."

__ADS_1


"Kemarilah...."


Jawab David dan memintaku mendekat padanya.


"Bagaimana keadaan Rima?"


"Apa dia masih ketakutan?"


Tanya David menggenggam tangan ku yang sudah duduk di sampingnya.


"Rima baik baik saja dan dia sudah tidur nyenyak sekali,mungkin hari ini terasa sangat melelahkan baginya."


Jawabku berusaha menghilangkan rasa khawatirnya.


"Hemm.....syukurlah..."


Kata David menyandarkan kepalanya di bahuku terlihat begitu manja.


"Apa kau mengkhawatirkan sesuatu?"


Tanyaku membelai lembut rambutnya.


"Aku sangat mengkhawatirkan Rima setelah kejadian tadi.Aku merasa Rima dalam bahaya untuk saat ini."


Kata David terdengar begitu gelisah.


"Tenanglah....."


"Bagian keamanan sekolah tengah memeriksa ulang CCTV dan besok kita dapat melihat siapa dua orang yang di maksud itu."


Kataku berharap hal ini bisa mengurangi kegelisahan David.


Sambung David dengan penuh amarah.


Dan pagi pun tiba,kami melakukan rutinitas seperti biasanya sebelum berangkat ke sekolah.Hari ini David memutuskan untuk tidak masuk kantor karena ingin menyelidiki kasus yang terjadi di sekolah Rima kemaren.


Setelah berpamitan kami pun pergi menuju ke sekolah Rima.Dan ibu kepala sekolah telah menunggu kami di ruangannya.


"Selamat pagi Bu......"


Sapaku membuka pintu ruaangan kepala sekolah.


"Oh ya...selamat pagi."cm


"Silahkan masuk"


Jawab ibu kepala sekolah mempersilahkan kami masuk.


"Bapak David ini dia hasil rekaman cctv kemaren yang sudah kami rangkum dalam sebuah video..."


Kata ibu kepsek memperlihatkan hasil rekaman cctv dan memutarkan nya untuk kami.


Terlihat satu pasangan seperti yang di ceritakan kemaren,namun kami juga tidak mengenali dua orang tersebut karena wajah mereka terlihat asing bagiku begitu juga dengan David.


"Ini mereka dua orang yang saya ceritakan,apakah kalian mengenali mereka?"


Tanya ibu Kepsek.


"Tidak Bu...."

__ADS_1


Jawab kami bersamaan.


"Hemmmm....baiklah..."


"Ibu Naima dan bapak David,kalau begitu sekolah akan memperketat sistem keamanan dan kami hanya menetapkan kalian berdua saja yang berhak menjemput Rima."


"Dan untuk itu kami butuh persetujuan kalian dan tolong tanda tangan di sini."


Kata ibu Kepsek.


"Baiklah Bu..."


Sahut kami sambil menandatangani sebuah surat pernyataan.


"Baiklah,terimakasih..."


"Dan sekali lagi saya sarankan,sebaiknya dari pihak keluarga terutama selaku dari orang tua Rima,sebaiknya kalian lebih waspada lagi dalam hal menjaga Rima,dampingi dia selalu saat keluar rumah,karena menurut saya kejadian kemaren merupakan sebuah ancaman untuk Rima."


Kata ibu kepsek memberi kan saran dan nasihat sebagai bentuk kepeduliannya sebagai guru di sekolah tersebut.


"Anda benar Bu...."


"Saya juga berpikir demikian ..."


"Terimakasih atas saran dan nasihat nya Bu..."


"Kami akan lebih waspada lagi setelah ini."


Jawab David setuju dengan pemikiran ibu kepsek dan kami pun keluar dari ruangan itu.


"Naima...."


Panggil David saat berjalan sepanjang lorong menuju kelasku.


"Ya...."


Jawabku.


"Aku rasa kita harus menunda dulu rencana resignmu,aku berpikir kita harus lebih fokus kepada Rima."


Kata David dengan raut wajah begitu gelisah.


"Ya...aku juga berpikir demikian."


Jawabku.


"Baiklah,aku akan langsung ke kantor saja."


"Dan aku mohon tolong anakku Rima..."


Kata David sebagai permintaan dan mengatupkan kedua tangannya di hadapanku.


"Heyy....."


"Jangan seperti ini,Rima adalah putriku juga."..


"itu sudah kewajiban ku menjaganya dengan baik."


Kataku agar David tidak perlu khawatir lagi hingga akhirnya David pun pergi dengan perasaan lega setelah mengecup keningku.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2