
Dua hari sudah Sahira berada di rumah dan membuat suasana rumah sangat tegang karena masing masing pihak harus bisa menahan emosi dan menjaga sikap di depan Rima.
Hari ini hari pertama Rima masuk sekolah setelah libur panjang.Dan seperti biasa sudah menjadi tugasku untuk menyiapkan Rima berangkat ke sekolah.Selesai menghirup udara segar dari balkon kamar,aku pergi ke kamar Rima untuk membangunkan nya dan membantunya menyiapkan semua keperluan sekolahnya.Sementara David sedang sibuk memeriksa email yang masuk di laptopnya sebagai rutinitasnya setiap pagi.
"David....."
Panggilku.
"Hemm...."
Jawab David seperti biasa dan fokus dengan laptopnya.
"Aku mau ke kamar Rima dulu membantu dia bersiap untuk pergi ke sekolah."
Pamitku.
"Apa kau yakin?"
Tanya David.
"Kenapa?"
"Hari ini adalah hari pertama dia pergi ke sekolah dan sudah menjadi tugasku untuk membantunya bersiap."
Tanyaku bingung.
"Ya...kau benar,tapi kau juga harus ingat saat ini di rumah sedang ada wanita siluman itu menghuni kamar Rima,kau yakin bisa mengatasi ulahnya yang penuh drama pagi ini?"
Kat David coba mengingatkan ku.
Namun aku yang merasa keberadaan Sahira tidak ada pengaruhnya untuk ku,mengaggap semua biasa saja tidak perlu ada yang ku khawatirkan dan aku tetap ingin mengerjakan rutinitasku di pagi hari seperti biasa meskipun ada atau tidak Sahira di kamar Rima.
"Biarkan saja,selama dia tidak menggigit itu tidak akan jadi masalah untuk ku."
"Haha....."
Jelasku menjadikan pembahasan tentang Sahira menjadi bahan candaan.
"Haha...."
"Baiklah kalau begitu berikan ceramah terbaikmu saat dia akan menyerangku."
Kata David ikut tertawa dan membuat Sahira jadi bahan tertawaan kami.
"Plak...."
__ADS_1
"Kau ini...."
Kataku memukul pelan bahu David kemudian pergi menuju kamar Rima.
"Selamat pagi Rima sayang...."
Sapaku membuka pintu kamar Rima.
"Selamat pagi ibu Nai..."
Jawab Rima dengan sudah memakai seragam lengkap dan rapih membalas sapaan ku.
"Wow sayang...."
"Sepagi ini kau sudah selesai berkemas untuk pergi ke sekolah?"
Tanyaku kagum.
"Ya ibu Nai,ibu Sahira yang membantuku."
Jawab Rima yang henti henti berdiri di depan cermin.
"Benarkah...?"
"Kenapa Naima?"
"Apa kau ragu padaku dalam hal merawat putriku sendiri?"
"Jangan lupa aku adalah seorang wanita yang sudah pernah melahirkan jadi sudah pasti pengalaman ku lebih banyak di banding dari wanita yang sama sekali tidak pernah merasakan proses menjadi seorang ibu."
"Cettttarrrrr....."
Perkataan Sahira seperti petir yang menyambar hati ku. Seolah secara tidak langsung dia ingin mengatakan d wanita yang bisa melahirkan lebih berpengalaman di banding wanita yang tidak dapat melahirkan.Namun akal sehatku selalu dapat mengendalikan emosiku.
"Sahira jangan pernah berasumsi seperti itu pada setiap perkataanku,aku tidak pernah meragukan mu dalam hal merawat Rima."
"Malah aku merasa senang jika kau dapat membantu Rima bersiap untuk pergi ke sekolah,setidaknya hal yang di rindukan nya sejak dulu dari ibu kandungnya terpenuhi."
"Benarkan sayang...."
Kataku dengan kata yang sopan namun mampu menusuk hati Sahira dan membuat dia langsung terdiam tak mencelah apa pun dari perkataan ku.
"Bennnar sekali ibu Nai,tapi mekipun aku merindukan ibu Sahira untuk merawatku,ibu Sahira tenang saja semua keinginan ku itu sudah di penuhi oleh ibu Nai.Bahkan ibu Nai mampu membuat aku tidak pernah merasa kekurangan cinta dan kasih sayang dari seorang ibu."
Jawab Rima,bak sekor dalam sebuah pertandingan keadaan menjadi satu sama di buat Rima tanpa ada pengaruh kata kata apa pun dari mulutku seperti Ancaman Sahira kepada David.
__ADS_1
"Terimakasih sayang...."
Kataku memeluk Rima dan mencium nya.
Dan keadaan itu tentu saja membuat Sahira jadi cemburu,hal itu dapat ku lihat dari sikap dan prilakunya.
"Baiklah Rima sayang,kalau begitu kau turunlah lebih dulu dengan ibu Naima yang kau bilang mampu memenuhi setiap keinginan mu,karena ibu ingin mandi terlebih dahulu dan kita jumpa di ruang makan."
"Oke...."
Titah Sahira kepada Rima dan masuk ke kamar mandi.
"Hem...."
"Baiklah...."
Jawab Rima menurut.
"Ibu Nai,bukan kah ini terlalu pagi untuk ku turun ke bawah dan sarapan?"
Bisik Rima di telingaku.
"Ya benar,dan kau sudah seperti Si Mbak jika sudah turun ke ruang makan di jam seperti ini.Karena di jam segini hanya ada Si Mbak di ruang makan untuk menyiapkan sarapan."
"Hahaha ....."
Tawa kami sambil berbisik.
"Lalu aku harus bagaimana?"
Tanya Rima.
"Bagaimana kalau kau ke kamar ayah dan ibu saja,sementara itu ibu bersiap kau bisa menemani ayahmu memeriksa pekerjaannya."
Kataku memberikan penawaran.
"Hufff....pria pekerja keras...."
Jawab Rima menepuk jidatnya.
"Haha....."
Dan lagi lagi kami tertawa begitu riangnya dan keluar dari kamar Rima meninggalkan Sahira yang sedang mandi.
Bersambung......
__ADS_1