
Aku berjalan begitu cepat menuju kamar Rima sambil menggerutu.
"Dasar duda gila,dia yang dapat keuntungan seenaknya saja memberi penilaian buruk tentangku.Apa dia pikir isi kepala ku ini mesum seperti isi kepalanya.Dasar kelewatan....!"
Aku menyumpah serapah karena kesal menjadi bahan tertawaan David.Hingga akhirnya....
"Cekreek...."
Ku buka pintu kamar Rima untuk membangunkannya.
"Selamat pagi ibu Nai...."
Sapa Rima begitu riang yang ternyata dia sudah bangun lebih awal dari biasanya.
"Selamat pagi sayang...."
"Hei...ada apa denganmu kenapa kau terlihat sangat ceria sepagi ini ?"
Jawabku dan bertanya karena heran melihat ekspresi Rima.
"Tentu saja ibu Nai,karena aku bermimpi indah tadi malam hingga membuat aku semangat bangun lebih awal pagi ini dengan harapan mimpiku akan menjadi kenyataan,meskipun ternyata yang terjadi tidak seperti di dalam mimpiku."
Jawab Rima menceritakan tentang apa yang telah memotivasinya bangun lebih awal.
"O. ..manis sekali."
jawabku memeluknya agar jangan terlalu bersedih karena mimpinya tidak jadi kenyataan saat dia membuka mata.Ya...meskipun aku tidak tahu Rima indah seperti apa yang di alami Rima.
"Tapi tidak mengapa ibu Nai,aku yakin suatu hari nanti mimpiku akan jadi kenyataan.Bukan kan orang orang sukses di luar sana semua kesuksesan mereka terjadi juga berawal dari mimpi?"
Tanya Rima membangun rasa yakin nya jika suatu hari mimpinya jadi kenyataan.
"Ya...tentu saja."
Kataku memberi kan semangat pada Rima.
"Lalu,coba ceritakan pada ibu Nai mimpi indah seperti apa hadir dalam tidurmu sehingga membuat putri cantik ibu ini begitu bersemangat bangun pagi dan bahkan sangat percaya diri?"
Tanyaku gemas sambil mencubit hidung bangir Rima.
"Aha....tidak ...tidak,aku akan menceritakan nya nanti saja saat kita sudah bersama ayah."
Kata Rima.
"Oya,kenapa?"
"Apa kau sudah tidak ingin berbagi cerita lagi dengan ibu Nai?"
Tanyaku seolah merajuk.
"Ya ampun ibu Nai,bukan seperti itu."
Kata Rima memegang kedua pipi ku seolah membujukku.
"Lalu..."
Tanyaku.
"Jika aku bercerita kepada ibu sekarang,lalu saat bersama ayah aku harus bercerita lagi,aku kan jadi capek ibu Nai....."
"Sedangkan jadwal ku sangat padat sekali hari ini."
Celoteh Rima coba menjelaskan seolah dia orang dewasa yang memiliki jadwal yang sangat padat sekali.
"Haha.....baiklah nona super sibuk karena jadwal mu padat hari ini,sekarang ayo cepat mandi lalu berkemas dan segeralah turun ke bawah untuk sarapan agar kau tidak terlambat.Karena jika kau terlambat maka jadwal padat mu yang lain juga akan terkendala."
kataku sambil tertawa memberikan arahan seolah aku juga masuk dalam dunia kesibukan Rima yang penuh hayalan.
"Haha ...ibu Nai benar,baiklah aku mandi dulu."
Rima pun turun dari tempat tidurnya lalu pergi masuk kamar mandi.Meskipun aku sangat menyayangi nya namun aku tak pernah membuat Rima menjadi anak yang manja,perlahan lahan aku membiasakan dia untuk belajar mandiri sejak dini terutama untuk hal hal yang berkaitan dengan mengurus dirinya sendiri saat akan berangkat ke sekolah.
__ADS_1
"Rima sayang...cepatlah berkemas ibu akan menyiapkan sarapan dan kotak bekalmu di di bawah."
Teriakku sebelum keluar dari kamar Rima.
"Baiklah ibu Nai....."
Jawab Rima dari dalam kamar mandi.
Aku pun bergegas turun untuk membantu si mba menyiapkan sarapan.
Selang waktu beberapa menit sarapan pun siap.
"Selamat pagi ibu mertua..."
Sapaku saat ibu mertua datang ke meja makan.
"Selamat pagi sayang...wah sarapan sudah siap rupanya."
Jawab ibu mertua.
"Ya ibu mertua ayo sarapan,Oh ya dimana ayah mertua aku tidak melihatnya?"
Tanyaku karena biasanya mereka selalu datang bersamaan ke meja makan setiap pagi.
"Oh...ayah mertuamu sudah pergi joging setelah pulang dari masjid pagi tadi bersama ayahmu."
Jawab ibu mertua.
"Oya,wow bagus sekali itu artinya semakin tua semakin produktif ,haha..."
Kataku tertawa.
"Hei...kau ini bisa saja."
Ibu mertua mencubit pipiku dengan penuh kasih sayang.
"Ibu mertua aku sarapan duluan karena aku harus berkemas saat David dan Rima sarapan agar kami tidak terlambat."
"Oh ya,makan lah nak.Dan di mana mereka berdua?"
Tanya ibu mertua.
"Mereka sedang berkemas dan mungkin sebentar lagi akan turun."
Tak lama kami mendengar suara David dan Rima yang sedang berbincang sambil menuruni anak tangga.
"Selamat pagi nenek...."
Sapa Rima dalam gendongan David.
"Selamat pagi sayangku..."
"Wah...wah...kenapa sudah sebesar ini tuan putri masih di gendong ayahnya ya...?"
Jawab ibu mertua dan bertanya.
"Ya nenek,karena kami sedang membicarakan sesuatu,agar ayah dapat mendengarnya lebih jelas maka ayah harus menggendongku."
Jelas Rima yang kemudian di dudukan David di meja makan.
"Hem...baiklah tuan putri Hinga selesai menuruni anak tangga tapi hal yang ingin di ceritakan belum juga ayah dengar,apa ini siasatmu saja agar ayah menggendongmu ya?"
Tanya David tertawa sambil menarik hidung bangir Rima.
"Ups...ya ampun,kenapa ayah bisa mengetahuinya"
Kata Rima meringis karena modusny untuk menjahili ayahnya ketahuan.
"Haha....."
Kami pun tertawa geli mendengar dialog mereka berdua.
__ADS_1
"Kau ini sudah sama ya seperti ibu Nai mu..."
Sambung David.Dan tiba tiba....
"Uhuk...uhuk..."
Aku yang sedang menikmati sarapanku terbatuk batuk hingga akhirnya David mengambilkan segelas air putih untukku dengan senyuman sinis di bibirnya.
...Hu....dasar duda sialan kenapa dia harus berkata seperti itu.Dia selalu saj menemukan celah untuk menggangguku.Andai saja tidak ada ibu mertua dan Rima saat ini,akan ku balas semua perkataannya....
Gerutuku dalam hati.
"Ehm...Rima sayang,cepat habiskan sarapanmu masukkan kotak bekalmu,ibu Nai akan berkemas kemudian kita berangkat."
"Oke.."
Titahku pada Rima sebelum aku naik ke kamar untuk berkemas.
"Hemm...Baiklah ibu Nai."
Jawab Rima mengacungkan jempolnya tanda dia mengerti apa yang ku perintahkan.Dan aku pun bergegas ke kamar untuk berkemas.
Tak berapa lama aku pun selesai dan segera turun,setelah berpamitan dengan ibu mertua kami bertiga pun pergi ke sekolah yang di antar oleh David.Semkin hari David semakin super protektif dengan kami, selagi dia ada di rumah dia tidak akan mengizinkan kami berdua pergi kemana pun sendiri.Bahkan terkadang aku sangat rindu menyetir sendiri dengan mobil kesayanganku yang kini hanya terparkir di dalam garasi rumah ayah dan ibu.
Sebenarnya banyak yang berubah dari diri David salah satu contoh kesiagaannya mengantar kami kemana pun kami pergi meski terkadang aku risih.Hanya satu hal yang tidak berubah padahal aku sangat ingin itu terjadi yaitu hobi David yang suka berdebat denganku.
Mobil pun mulai melaju tiba tiba aku teringat janji Rima yang ingin menceritakan mimpi indahnya saat bersama kami berdua.
"Rima sayang...omong omong apa cerita mimpi indahmu yang ingin kau ceritakan saat kami berdua ada?"
Tanyaku berbalik ke belakang mengajak Rima ngobrol.
"Oh...ya ampun aku sampai lupa"
Jawab Rima memukul dahinya.Dan kami pun tertawa melihat tingkah Rima sampai akhirnya dia bercerita.
"Ayah, ibu Nai ...Apa kalian tahu mimpi indahku tadi malam?"
Kata Rima mulai bercerita.
"Tentu saja tidak nak kan kau bermimipi dari mana kami bisa tahu.haha....kau ini ada ada saja sayang."
Jawab David.
"Ayah benar,untuk itu akan ku ceritakan."
Kata Rima lagi.
"Ya...ya...katakanlah Jagan sampai saat kita tiba di sekolah ceritamu juga belum di mulai ya,hehe..."
Kataku meledek Rima.
"Hem..baiklah,jadi mimpi indah ku itu tadi malam adalah aku bermimpi ibu Nai sidah melahirkan dan memberikan bayi laki laki tampan dalam pangkuanku,dan bayi itu mirip sekali dengan ayah..."
Cerita Rima tentang mimpi yang di bilangnya indah.
"Benarkah?"
Tanya David tersenyum melirik ke arah ku.
"Ya ayah,bahkan aku ingin segera bangun lebih awal berharap adik bayi itu benar ada."
Kata Rima.
"Wah Rima mimpi mu tadi malam hampir saja terjadi.."
Gumam David pelan dan lagi lagi tersenyum melirikku.
"Uhuk....uhuk...uhuk..."
Sontak aku pun refleks terbatuk seperti ada serangga yang menggelitik tenggorokan ku saat mendengar kata kata gumaman David.
__ADS_1
Bersambung......