
Matahari seolah kembali menyinari rumah kami dan keluarga kami.Suasana rumah terasa kembali ramai dengan celotehan Rima.Rutinitas pagi ku yang menyenangkan pun kembali lagi selain menyiapkan keperluan David sebelum ke kantor aku jiga sidah mulai mengurus Rima kembali untuk bersiap sekolah meskipun saat ini Rima hanya dapat sekolah dari rumah seperti yang di sarankan ibu kepala sekolah.
"Selamat pagi sayang....."
Sapaku membangun kan Rima yang ternyata sudah bangun sebelum aku datang.
"Selamat pagi ibu Nai....."
Sahut Rima tampak begitu ceria.
"Wow...sepertinya tuan putri ibu Nai terlihat begitu semangat hari ini...?"
Kataku dan memeluknya.
"Tentu saja,akhirnya hari hariku kembali lagi."
Jawab Rima.
"Ha...ha...ha..."
"Oya...?"
"Sepeti apa misalnya...?"
Tanyaku tertawa geli mendengar celotehan Rima yang berlagak seperti orang dewasa.
"Ehmmm...misalnya,seperti ucapan selamat pagi saat ibu Nai membangunkan ku,menyiapkan seragamku,menyisir rambutku,kita saling bertukar cerita,lalu ayah datang menggendongku dan membawaku turun ke meja makan..."
Jawab Rima menceritakan kembali kesehariannya di rumah.
"Lalu,bagaimana keseharian mu di rumah ibu Sahira,hingga kau merasa hari hari mu sekarang kembali lagi?"
"Pasti tidak ada bedanya kan?"
Tanyaku lagi yang sebenarnya ingin mencari tahu bagaimana Sahira mengurus Rima selama tinggal dengannya.
"Ehm....ehm...."
"Sangat jauh berbeda...?"
Jawab Rima sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa bedanya?"
"Bukan kah ada ibu Sahira yang mengurus segala keperluan mu?"
Tanyaku dengan rasa yang semakin miris di hati.
"Ibu Sahira terlalu banyak urusan ibu Nai katanya..."
"Jadi dia menyewa jasa baby sister untuk mengurus semua keperluanku."
"Lagi pula mba baby sister baik,jadi aku tidak terlalu repot mengurus diriku,ibu Nai tenang saja...."
Jelas Rima dengan kalimat terakhirnya yang berusaha membesarkan hatiku bahwa dia dapat mengurus semuanya.Dan Rima pun masuk ke kamar mandi untuk mandi.
Namun aku begitu Miris mendengarnya.Sahira memang benar benar keterlaluan.Dia benar benar menjadikan Rima alat untuk mencapai tujuan nya.Bahkan dia tidak mau di rugikan waktu untuk merawat rima dengan baik selama tinggal bersamanya.
Ibu macam apa kau ini sahira,tidak punya belas kasih hingga Rima mampu menceritakan begitu gambalangnya ketidakpedulian mu saat dia bersamamu.Bahkan hewan buas sekalipun masih punya belas kasih kepada anaknya.tapi kau......
Makian yang ku ungkapkan dalam hati untuk Sahira tiba tiba terhenti saat aku sadar air mataku mulai jatuh menetes membasahi pipiku.Bahkan aku sampai kehabisan kata untuk memakinya.Tak ingin Rima melihat aku menangis saat keluar dari kamar mandi aku pun cepat cepat menghapusnya.
"Ibu Nai...."
Panggil Rima saat keluar dari kamar mandi.
"Ya sayang...."
__ADS_1
Jawabku cepat cepat menghapus air mataku,menarik nafas dalam dan memasang wajah bahagia sebelum aku berbalik badan ke arah Rima.
"Apa kita akan pergi ke sekolah hari ini?"
Tanya Rima lagi mulai memakai seragam sekolahnya.
"Tidak sayang..."
"Kita tidak akan pergi ke sekolah dalam beberapa hari ini.Sampai ibu kepala sekolah memberi instruksi kau bisa ke sekolah dengan aman."
Jelasku sambil menyisir rambutnya.
"Lalu,kenapa aku harus memakai seragam sekolah..."
Tanya Rima lagi.
"Itu karena,Rima tuan putri ayah harus tetap sekolah meskipun belajar dari rumah..."
Sahut David,yang tiba tiba muncul menyambung pembicaraan kami.
"Hai...ayah selamat pagi..."
Sapa Rima.
"Selamat pagi sayang..."
Jawab David.
"Apa ayah akan bekerja dari rumah juga hari ini?"
Tanya Rima begitu manjanya.
"Tidak sayang,hari ini ayah harus pergi kantor karena ada yang harus segera ayah selesaikan."
Jawab David coba menjelaskan.
Kritik Rima yang membuat aku dan David tertawa geli mendengar celotehannya.
"Sayang...."
"Biarpun ayahmu adalah boss dari segala bos di kantornya,tapi ayah pun tetap harus menjalankan kewajibannya sebagi boss dengan penuh tanggung jawab."
"Agar bisa menjadi contoh untuk para pekerjanya.."
"Keren sesoerang akan berhasil dalam hidupnya jika menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab."
Jelasku memberikan pengertian pada Rima sembari mengajarkan arti tanggung jawab padanya.
"Wah....kalau begitu aku tidak akan berhasil dong ibu Nai dalam hidupku..."
Protes Rima yang duduk di atas pangkuan David.
"Kenapa berkata seperti itu tuan putriku..?"
Tanya David tersenyum dan mencubit pipi Rima karena gemas dengan kalimat yang keluar dari mulutnya.
"Iya..karena aku tidak. bisa jadi siswi yang bertanggung jawab untuk belajar ke sekolah..."
Jelas Rima.
"Haha...."
"Tidak seperti itu sayang...."
"Setiap orang punya tugas dang tanggung jawab yang berbeda beda.."
Jawabku coba memberikan pengertian dengan penuh kesabaran.
__ADS_1
"Contohnya.....?"
Tanya Rima lagi dengan rasa ingin tahunya.
"Ehm..."
"Contohnya...seperti ayah yang harus menyelesaikan pekerjaannya di kantor..."
"Dan seperti Rima yang tetap harus belajar meskipun harus sekolah online dari rumah."
Jawabku dengan tegas mengajarkan Rima apa itu tanggung jawab.
"Wow....!!"
"Ibu Nai memang cerdas dan keren...."
Puji Rima bertepuk tangan.
"Ya...karena itulah ayah memilihnya menjadi ibu mu..."
Sambung David.
"Sudah jangan gombal.."
"Ayo cepat turunlah ke ruang makan nanti kalian akan terlambat..."
Responku tertawa menangkis pujian Rima dan gombalan David.
"Ayo ayah....sebentar lagi kelasku di mulai."
Rengek David dan naik ke atas punggung ayahnya untuk di gendong.
"Baiklah Tuan putri,pegangan yang kuat kita akan segera meluncur ke bawah."
Jawab David yang begitu memanjakan Rima dan segera keluar dari kamar.
"Ssssst..,."
David memanggil ku dengan kode dan berhenti di pintu kamar.
"Apa?"
Tanyaku bingung.
"Terimakasih sudah mengajarkan kebaikan untuk putriku..."
"Emmmuach....."
Ucap David seolah senang dengan apa yang ku ajarkan pada Rima pagi ini.
"Ya karena dia juga adalah putriku..."
Sahutku dan mengedipkan salah satu mataku bermain mata dengannya dengan genit dan tersenyum.
"Halo...tuan dan Nyonya..."
"Apakah kita bisa turun untuk sarapan sekarang karena kakek dan nenek sudah menunggu sejak tadi."
Protes Rima dalam gendongan David yang ternyata memperhatikan aksi kami.
"Uups....maaf..maaf...maaf..."
" Ayolah....kami datang kakek dan nenek..."
David coba mengalihkan perhatian Rima dan membawanya turun dan di susul olehku.
Bersambung......
__ADS_1