
Melihat ekspresi di wajah David,membuat aku penasaran dan ingin mencari tahu cerita sebenarnya di balik keraguannya tentang ikatannya dengan Rima.Terlebih lebih saat aku tidak sengaja mendengar perdebatan antara dia dan ibu mertua di ruang tunggu saat aku ingin menemui dokter di hari ke dua Rima di rawat.
"David kenapa kau bersikap seperti ini kepada Rima?"
"Sudah dua hari dia di rawat tapi kau belum juga menemuinya.Sementara dia selalu menayanyakan tentangmu?"
"Ibu tidak ingin terus terusan berbohong padanya."
Pinta ibu coba menjelaskan padanya.
"Ibu,ibu tidak tahu betapa sangat dilemanya aku saat ini."
"Satu sisi aku sangat ingin sekali memeluk Rima dan mencurahkan semua cinta yang ku punya."
"Tapi di sisi lain aku takut ibu,aku takut jika ternyata perkataan Arya benar jika Rima bukan anakku."
"Sungguh aku belum siap dengan kenyataan itu."
Keluh David pada ibu mertua tentang apa yang di rasakannya.Dan aku yang saat itu mendengar ceritanya bahkan melihat kegelisahan di setiap air mata yang jatuh ke pipinya tiba tiba saja rasa simpati muncul di hatiku.
"Lalu...?"
"Apa kau terus ingin hidup dalam keraguanmu?"
Kataku yang tiba tiba nimbrung dalam percakapan mereka.
"Naima tolong diam dan jangan pernah ikut campur dengan urusan ku,kau harus ingat kita menikah hanya karena Rima,kaubtidak berhak ikut campur dengan masalah pribadiku."
Kata David yang langsung berbalik membelakangi ku seolah menyembunyikan wajah sedihnya dariku.Karena dia adalah seorang pria yang sombong maka dari itu dia harus menjaga image di depan ku supaya tidak terlihat orang yang sedang dilema.Hemm....dasar pria.
"Ibu mertua maafkan aku jika langsung memotong pembicaraan kalian.Tapi jika ini mengenai Rima aku harus ikut campur dalam hal ini."
Kataku dengan tegas.
"Ini bukan tentang Rima,ini tentang diriku sendiri.Jadi tolong berhenti ikut campur.Urus saja urusan mu !!"
Bantah David.
"Jangan lagi berdalih,aku sudah mendengar semuanya."
"Ayah macam apa kau ini hanya karena kau tidak berani menerima kenyataan kau jadikan alasan untuk mengabaikan Rima."
Kataku.
"Siapa yang mengabaikan Rima?"
"Silahkan kau tanya ibuku bagaimana aku bertanggung jawab memfasilitasi hidup Rima."
Jelas David seoalh tidak terima di bilang ayah yang tidak bertanggung jawab.
"Seorang anak tidak hanya membutuhkan fasilitas dari ayahnya,tapi dia juga butuh pengakuan dari ayahnya sebagai identitas dirinya."
Kataku menunjukkan jari telunjukku ke dada David dengan tegas.
"Ibu,tolong suruh wanita ini diam dan pergi dari sini."
Kata David karena sudah kehabisan kata.
"Aku tidak akan diam karena ini menyangkut kebahagiaan Rima,sekali pun kau selama tidak pernah peduli dengan kebahagiaannya."
Bantahku.
"Dan satu lagi sampai kapan kau terus akan hidup dalam keraguan tentang putrimu,jika kau memang peduli padanya Kenapa tidak coba lakukan uji tes DNA,aku rasa itu bukan lah hal yang sulit untuk orang yang berpendidikan dan berpikiran modern sepertimu."
Kataku.
"Diam dan jangan coba mengajariku apa yang harus ku lakukan." (David)
"Kenapa?"
"Kau takut jika ternyata apa yang di katakan Arya benar ?"
"Lalu bagaimana jika ternyata hasilnya membuktikan Rima adalah putri kandungmu?"
Tanyaku coba mempenagruhi cara berpikirnya agar dia mau melakukan tes DNA dan berusaha keluar dati keraguan yang menakutinya.
"Naima,ku mohon pergilah dari sini sebelum aku kehabisan kesabaranku..!!"
Gertak David kepadaku.
__ADS_1
"Ya baiklah aku akan pergi,karena aku juga sudah muak berdebat dengan pria egois sepertimu,tapi aku akan menunjukkan kebenarannya pada mu sekalipun kau tidak menyukainya.."
Kataku dan pergi menemui dokter Rima.
"Terserah....!" (David)
Pria sombong itu seolah tak mau kalah dan harus menjawab meskipun hanya satu kata.
Sambil menggerutu akhirnya aku pun tiba di ruangan dokter Rima untuk kosnsultasi masalah kesehatan Rima pasca kecelakaan.Setelah mendengar penjelasan dokter bahwa kesehatan Rima sudah membaik dan tidak ada yang harus di khawatirkan,aku pun lega.Tapi pikiran tentang tes DNA masih memguasai fikiranku.Terlintas dalam fikiranku bagaimana aku bisa mendapatkan sampel dari pria sombong itu untuk melakukan tes DNA.Untuk mendapatkan jalan keluar atas masalahku ini aku pun memanfaatkan konsultasi dengan bertanya langsung ke dokter Rima.
"Baiklah Dok,terimakasih sudah memberikan penjelasan tentang kesehatan Rima."
"Ehm...tapi Dok,boleh saya menayakan sesuatu yang agak kurang dalam pemahaman saya?"
Tanyaku sedikit ragu pada Dokter.
"Tentu...apa itu?"
Tanya Dokter kembali dengan tersenyum.
"Dok saya ingin melakukan tes DNA untuk menjawab semua keraguan teman saya tentang ikatan genetik antara dia dan anaknya.Tapi saya bingung bagaimana cara saya bisa mendapatkan sampel mereka agar bisa melakukan tes itu.Karena sebenarnya dokter tes ini dilakukan tanpa sepengetahuan kedua belah pihak.Saya hanya ingin menjawab keraguan orang tuanya tentang anaknya."
"Apakah dokter bisa membantu saya berupa solusi?"
Tanyaku setelah panjang lebar aku menjelaskan dengan mengatasnamakan teman.Huff...semoga saja aku tidak punya teman seperti itu.
"Ehm..karena ini di lakukan tanpa sepengetahuan orang yang bersangkutan jadi tidak mungkin kita ambil sampel darahnya."
Kata dokter sejenak terdiam.
"Bagaimana kalau lewat rambut dari kedua belah pihak?"
"Apakah ibu bisa membawa sampel dari rambut mereka berdua?"
Tanya dokter.
"Baik dok akan saya dapatkan."
Jawabku begitu yakin meskipun aku belum tau bagaimana caraku agar bisa mendapatkan rambut si duda sombong itu.
"Baiklah jika ibu sudah mendapatkan sampel rambutnya segera temui saya,saya akan bantu melakukan tes bersama orang laboraturium."
Jelas Dokter yang bersedia membantuku
Kataku sambil berjabat tangan sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.
Sepanjang menelurusi lorong rumah sakit menuju kamar Rima aku terus berpikir bagaimana caranya aku bisa mendapatkan sampel rambut si duda sombong itu.
Hemmmm ingin sekali rasanya aku menjambak rambutnya selain bisa mendapatkan sampel rambutnya untuk tes DNA aku juga bisa melepaskan amarahku yang selama ini ku pendam melihat sikapnya yang arogan plus sombong itu.Hehe.....
Hayalan dalam hatiku.
Kulihat ibu mertua sedang menyisir rambut Rima,dan tentu saja ini ku jadikan kesempatan untuk mendapatkan sampel rambut Rima.
"Wah....putri cantik ibu Naik sudah rapih rupanya.."
Aku mendekatinya dan meminta sisir yang di pegang ibu mertua dengan alasan biar aku yang melanjutkan menyisir rambut Rima.
"Ibu Nai,aku ingin rambutku di sisir yang rapih dan memakai jepit rambut pink ini ya..."
Request Rima padaku untuk tatanan rambutnya.
"Tentu saja sayang,ibu Nai akan membuat putri ibu menjadi anak yang paling cantik di dunia ini dengan tatanan rambut terbaik."
Kataku menyenangkan hati Rima.
Terlihat ada rontokkan rambut Rima yang tertinggal di sisir,dan aku pun langsung menyimpannya untuk tes DNA.
"Rima,bolehkah ibu Nai menanyakan sesuatu padamu?"
Tanyaku.
"Ya..tentu saja ,kita kan teman.Seoarang teman tidak di karang menayanyak apa pun kepada temannya."
Jawab Rima yang mulai berbicara dengan gaya orang dewasa.
"Anak pintar...."
Jawabku tertawa sambil mengusap kepalanya.
__ADS_1
"Rima sayang,apakah kau sangat menyayangi ayahmu?"
Tanyaku menatap Rima.
"Tentu saja ibu Nai,aku sangat menyayangi ayahku..bukankah ibu pernah bilang tidak ada di dunia ini ayah yang tidak menyayangi putrinya meskipun dia tidak dapat menunjukkannya.Tapi aku percaya bahwa ayah sangat menyayangiku meskipun aku ingin sekali mendengarnya langsung dari mulut ayah mengataknnya padaku.Tapi aku mengerti bahwa ayah sangat sibuk dan tidak sempat mengatakan itu padaku.Tapi ayahkan sibuk bekerja juga untukku,maka dari itu aku juga menyayangi ayah."
Jelas Rima yang begitu pengertian dengan perlakuan David padanya selama ini.Mendengar penjelasan Rima aku pun tak kuasa menahan air mataku begitu juga ibu mertua yang sejak tadi hanya terdiam mendengarkan Rima berbicara tentang ayahnya.
"Oh...sayangku,kau memang anak yang pintar ya.."
"ummmah..."
Aku langsung memeluk Rima untuk menyembunyikan air mataku.
"Baiklah sayangku,ibu Nai akan pulang sebentar untuk berberes di rumah karena beberapa hari lagi putri ibu yang pintar ini sudah boleh pulang ke rumah."
Kataku menyampaikan kabar yang membuat Rima begitu gembira.
"Benarkah...?"
Tanya Rima.
"hemmm tentu saja."
Jawabku juga ikut gembira melihat tawa di wajahnya.
"Yeaaay...hore..."
Teriak Rima girang.
"Baiklah sayang,kau jangan nakal dan dengarkan apa kata nenek ya."
Kataku sambil berpamitan dengan ibu mertua.
Bermaksud ingin menyegarkan diri dan istirahat sejenak begitu tiba di rumah,tapi sayangnya rencana itu harus ku tepiskan karena lagi lagi aku harus menghadapi David yang ternayata sudah ada di rumah sebelum aku pulang.Dan tentu saja perdebatan akan selalu terjadi jika kami sudah bertemu meskipun itu tentang hal spele.
Aku merebahkan tubuhku di kasur sejenak karena ku pikir hanya ada aku di kamar.Tapi ternyata pemikiran ku salah.
"Hei...siapa yang memberimu izin tidur di kasur itu !"
Kata David menegurku.
"Oh....ya ampun ternyata si pemilik kasur sudah pulang.."
"Cih...sial."
Gumamku kesal dan bangkit dari tempat tidur.
"Hei...wanita penceramah.."
Panggil David dengan senyuman sinisnya padaku.
"Ada apa?"
"Apa mengurusi urusan orang lain telah membuatmu lelah,hingga tidak mampu bersuara dengan baik?"
David mulai menyulut api memancing emosiku.
Aku yang memang benar benar lelah,hanya diam mengabaikan kata katanya yang menjengkelkan itu dan berlalu begitu saja dari hadapannya yang tengah mengeringkan kepalanya dengan handuk karena sepertinya dia baru selesai mandi.Dan sepertinya Tuhan sedang memberikanku kemudahan untuk bisa mendapatkan sampel rambut David.kulihat beberapa helai rambutnya yang rontok di handuk yang dia pakai tadi yang sudah dia campak kan di sofa yang da di kamar.
Tidak mau menyia nyiakan kesempatan aku pun langsung menyambar handuk itu menuju kamar mandi.Dan sialnya aksi ku itu terlihat olehnya.
"Hei...kenapa harus menggunakan handukku jika ingin mandi,aku takut kau ada penyakit menular .."
Teriak David saat tahu handuknya ku ambil yang dia pikir aku juga ingin menggunakannya.
"Tolong jangan berteriak ,aku hanya tidak ingin sofa ini memjadi basah karena handukmu ini."
Jawabku coba memberikan alasan.
"Benarkah?"
Tanya David kembali seolah tidak percaya dengan alasan yang ku katakan.Tidak ingin berdebat karena handuk basah aku pun segera mengambil helai rambut rontoknya yang terdapat di handuk dan mencampak kan kembali handuk itu di hadapannya.
Tidak peduli dengan semua yang di katakannya karena kesal melihat ulahku,aku pun segera bergegas pergi kembali ke rumah sakit menemui dokter rima dengan membawa sampel rambut ayah dan anak ini untuk segera melakukan tes DNA.
Yang mana hasilnya akan dapt ku terima seminggu lagi setelah tes itu di lakukan.
Kata dokter padaku.
__ADS_1
Dengan penuh keyakinan bahwa tes itu akan membuktikan bahwa Rima adalah putri kandungnya aku pun sengaja meminta pihak rumah sakit agar mengirim laporan hasil tesnya ke alamat rumah dan di buat atawn nama David.
Bersambung.....