
Sarapan pagi pun selesai setelah David menghabiskan satu keping roti dan secangkir kopi.Moment romantis pun kembali terjadi yang membuat aku merasa tidak nyaman dan kikuk di depan kedua mertuaku saat David tanpa canggung langsung mengangkatku dan menggendongku menuju mobil yang sudah di siapkan untuk kami pergi.
"Ayah...ibu kami pergi dulu...."
Pamit David sambil melangkah dengan menggendongku ke dalam pelukannya.
"Ya sayang...kalian hati hati ya..."
Sahut ibu di iringi dengan tawa yang begitu bahagia menyaksikan adegan romantis antara aku Dan David.
"Terimakasih...."
"Emmmnuach....."
Kataku dengan satu ciuman yang ku daratkan di pipi kirinya setelah kami berada di mobil dan siap untuk jalan.
"Untuk apa...?"
Tanya David coba menahan senyum yang tak mampu dia sembunyikan di wajahnya.
"Untuk semua yang kau lakukan...."
Jawabku menatapnya dengan penuh cinta.
"Berhenti menatapku seperti itu...."
Titah David yang jadi salah tingkah karena aku terus memandangnya.
"Kenapa?"
"Haaaaaa....kenapa pipi mu memerah...?"
"Haha......"
Tawaku begitu geli,bukannya berhenti memandangnya seperti yang dia minta malah menggodanya hingga akhirnya dia tak mampu lagi menahan senyum yang coba dia sembunyikan dan tersipuh malu...
"Berhenti tertawa atau aku akan memberi hukuman untuk mu...!"
Ancam David,namun tak mampu menghentikan tawaku,hingga akhirnya tiba tiba mobil berhenti dan.....
"Cup....."
Secepat kilat David ******* bibirku yang masih meringis tertawa dan seketika membuat aku terdiam sesak menahan nafas dalam beberapa menit selama David melancarkan serangan di bibirku.
Lalu tiba tiba....
"Uhuk....uhuk...."
Aku pun hingga terbatuk karena sesak menahan nafas.
"Bernafaslah....!"
"Kan tidak lucu kalau mati menahan nafas karena di cium suami mu...!"
Kata David setelah melepaskan cengkraman bibirnya dari bibirku.
"Minumlah...."
Kata David sambil menyodorkan sebotol air mineral padaku yang masih terbatuk dan dia pun lanjut menyetir untuk melanjutkan perjalanan.
Seketika batuk ku pun hilang setelah meneguk air mineral yang di berikan David.
__ADS_1
"Bagaimana...?"
"Sudah lebih baik?"
Tanya David tersenyum.
"Hemm..."
Jawabku sambil bercermin merapihkan lipstik yang lumayan berantakan karena ulah David.
"Lain kali kasi aba aba dulu kalau menyerangku..!"
Kataku.
"Haha...."
"Nanti tidak akan menjadi kejutan kalau begitu."
Jawab David lagi lagi tertawa mendengar protesku.
"Katakan padaku,kenapa kau tahu bahwa aku sangat merindukan Rima,dan sangat ingin sekali bertemu dengannya.."
Tanyaku lagi lagi menatap David dengan begitu manja.
"Jawabannya sangat sederhana saja..."
Jawab David.
"Apa ...?"
Tanyaku penasaran.
"Karena kau adalah bagian dari hatiku,maka dari itu aku dapat mendengar apa yang di katakan hatimu...."
"Ow....so sweet..."
"Emmuach..."
Kataku dengan spontan kembali mencium pipi kiri David tanpa sungkan bahkan memeluknya.
"Hei...."
"Ada apa dengan mu?"
"Kenapa terlihat manja dan bahagia sekali hari ini?"
Tanya David yang terlihat senang dengan aksi ku.
"Apa lagi yang bisa mambuat aku bahagia selain dapat bertemu dengan Rima dan selalu di manjakan olehmu..."
Jawabku sembari menyandarkan kepalaku di bahu David yang sedang menyetir.
"Oww....."
"So sweet....."
"Emmmuach....."
Kecup David di kepala ku yang tertutup hijab dan bersandar di bahunya seolah ingin membalas apa yang ku lakukan.
"Plaak...."
__ADS_1
Pukul ku geram di bahu David yang merasa seolah David ingin memutarbalik kan apa yang ku lakukan meskipun sebenarnya terkesan romantis juga bahkan lucu.
Tak lama mobil pun tiba di sekitar sekolah Rima.Tampak dari kejauhan Rima sedang duduk di bangku depan gerbang sekolah sendirian.
"Itu Rima....."
Teriakku begitu girang dari dalam mobil dan tak sabar ingin segera menghampirinya.Aku pun bergegas turun dari mobil tanpa menghiraukan David yang memintaku tunggu sebentar sebelum aku turun dari mobil karena dia harus memarkirkan mobilnya dengan benar.
"Rima......!"
Panggilku dengan nafas yang Terengah engah setelah berlari meninggalkan David yang masih memarkirkan mobil.
"Ibu Nai....."
Sahut Rima begitu riang dan senyum penuh kegembiraan,namun seketika senyuman itu hilang dari wajah Rima dan mengalihkan pandangannya dariku seolah ingin menghindari sesuatu.
Perlahan dengan rasa penasaran aku pun menoleh ke belakang.Sontak aku pun terkejut karena tiba tiba saja ada Sahira yang berdiri di belakangku dengan tatapan yang begitu tajam.Sehingga aku mengerti ternyata sosok ini yang membuat senyum kegembiraan di wajah Rima tiba tiba menghilang.
Tapi aku tahu Sahira tidak akan mungkin memaki ku di depan Rima,karena dia adalah sosok wanita siluman yang bertopeng status ibu jika di hadapan Rima.Untuk membuat Rima terkesan padanya dia mampu bersikap lemah lembut kepadaku jika di depan Rima,jadi hal inilah yang membuat aku dan David menjadi sulit untuk menjelaskan kepada Rima,wanita seperti apa sebenarnya Sahira.
"Rima sayang...."
"Ayo kita masuk ke sekolah sekarang,sebentar lagi bel akan berbunyi dan kelasmu akan di mulai."
Ajak Sahira yang terdengar begitu lembut di telinga,seolah dia adalah ibu yang penuh cinta kasih kepada putrinya.Padahal yang sebenarnya adalah nada lembut itu hanya terdengar di telinga saja namun eskpresi wajahnya masih dengan tatapan tajam menatapku tapi senyuman manis tetap bisa terpancar di bibir tipisnya yang berwana pink merona.
Astaga wanita siluman ini,aku yakin jika kali ini ada nominasi aktris pemeran antagonis terbaik,maka dia pasti akan memenangkannya.
Gerutuku begitu geram dalam hati....
Dan tanpa membantah,Rima pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan menyambut uluran tangan Sahira untuk masuk ke sekolah berjalan melewati ku sambil merunduk tanpa melihatku.
"Rima....."
Panggilku yang merasa begitu sedih dan kecewa karena Rima tak biasanya bersikap demikian.
Namun Rima terus berjalan tanpa melihatku.Hingga masuk ke kedalam lingkungan sekolah yang sebelumnya dia menyempatkan untuk membuang sampah kertas yang sejak tadi di genggamnya ke tong sampah yang ada di depan gerbang sekolah lalu dia menoleh ke belakang untuk menatapku tanpa di ketahui oleh Sahira.
Tadinya aku merasa Rima hanya sekedar membuang sampah.Tapi perlahan aku coba memahami arti dari tatapan terakhir Rima kepadaku setelah membuang sampah kertas itu.
Tak lama David pun datang menghampiriku yang sebenarnya sudah sejak tadi dia melihat keberadaan Sahira yang mengesalkan itu sehingga dia pun mengerti apa yang sudah terjadi.
"Sudahlah....Lain kali kita akan datang lagi."
"Dan aku akan pastikan kau bisa berbicara dengan Rima tanpa ada wanita siluman itu."
Kata David coba membesarkan hatiku sambil merangkul ku.
"David sebentar....."
Kataku sambil berjalan menuju tong sampah tempat Rima membuang sampah kertasnya tadi.Untungnya tong sampah dalam keadaan kosong dan hanya berisi satu gumpalan kertas saja dan aku yakin itu adalah sampah yang di buang Rima tadi.
Aku yang merasa tatapan Rima tadi seperti memberikan isyarat,segera mengambil sampah kertas itu di tong sampah.
"Hey....ada apa?"
Tanya David menghampiri ku.
"David ayo kita pergi sekarang...."
Jawabku menggandeng David agar segera ke mobil dan tak sabar ingin tahu apa isi kertas yang di buang Rima tadi yang sudah berbentuk bola kertas kecil yang sudah di remas remas.
__ADS_1
Bersambung.....