Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 9


__ADS_3

Akhirnya waktu dan hari yang tidak pernah ku bayangkan dan tidak ku inginkan sama sekali pun tiba.Yaitu hari dimana aku mengikat diriku pada sebuah hubungan pernikahan dengan seorang pria angkuh yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehku menjadi kriteria pria idaman ku apalagi menjadi suamiku.


Dengan mengenakan kebaya putih berbalut hijab putih dan riasan wajah yang sederhana membuatku menjadi mempelai wanita muslimah yang begitu anggun dan mempesona.Tapi sayang rasa percaya diriku dengan semua riasan yang mendampingi ku sirna seketika saat aku di sandingkan duduk mendampingi David untuk prosesi ijab Qabul.


Setelah di nyatakan syah setelah ijab Qabul akhirnya aku pun menyandang titel baru yaitu nyonya Wijaya dan aku sangat tidak nyaman dengan hal itu,Namun rasa kesalku seketika sirna melihat senyum bahagia di wajah Rima yang langsung memeluk ku dan memberi ucapan selamat.


"Selamat untukmu dan selamat untuk ku."


Kata Rima memeluk ku.


"Untukmu juga?"


"Mengapa?"


Tanya ku tertawa.


"Selamat untuk mu karena sudah Syah menjadi ibuku dan selamat untuk ku karena sudah Syah menjadi anak mu bibi..."


"ufff,tidak tidak bukan bibi lagi, sekarang aku akan memanggilmu ibu."


Kata Rima menjelaskan kepada kami semua yang tertawa melihat ekspresinya kecuali David si pria yang memiliki harga mahal untuk senyuman nya.


"Oh...manis sekali..."


Aku gemas dan mencubit hidungnya.


Dan acara syukuran pun langsung di gelar,tak banyak tamu yang datang karena kami hanya mengundang kerabat terdekat saja.Sepanjang acara tidak ada satu katapun yang terucap antara aku dan David.Rasanya aku ingin sekali waktu cepat berlalu dan acara ini selesai.


Entah kenapa aku merasa begitu bosan sekali padahal ini adalah moment spesial dalam hidupku tapi aku merasa semua terasa biasa saja.Aku hanya merasa risau bagaimana hari hari ku berlalu setelah acara ini selesai.Dan ketika Rima datang menghampiri ku yang tengah melamun lagi lagi resah ku bilang dan aku ingat kembali bahwa pernikahan ini ku lakukan hanya demi Rima yang begitu ku sayangi.


Karena hanya mengundang kerabat terdekat saja akhirnya menjelang malam,acara yang membosankan ini selesai juga.Dan ibu Wijaya yang sekarang telah menjadi ibu mertuaku menyarankan agar aku segera beristirahat dan meminta Dea adik perempuan David untuk mengantarkan aku ke kamar.


Dan aku terkejut ketika Dea mengantarkan ku ke kamar David.Tapi itu aneh bukan,kenapa aku harus terkejut,toh sekarang aku sudah menjadi istrinya meskipun karena alasan demi Rima tapi tetap saja statusku sekarang adalah nyonya David Wijaya.Itu berarti kamar David kamar ku juga.


"Silahkan ka Naima,ini adalah kamar ka David dan sekarang kamar kakak juga."


Kata Dea begitu ramah mempersilahkan ku masuk ke kamar itu.sebuah kamar yang tertata sangat bersih dan rapih.Ada tempat tidur yang tertata rapih,sofa santai,lemari pakaian yang berhadapan dengan lemari penuh buku yang terdapat meja kerja di depannya.Betul betul pantas menjadi kamar seorang CEO sombong itu.Mataku takjub menatap tatanan setiap sudut kamar baruku.Perlahan aku pun masuk sambil menggeret koperku.

__ADS_1


"Bagaimana?"


"Ka Naima suka tidak dengan kamar ini?"


Tanya Dea yang mulai mengakrabkan diri denganku.


"Terimakasih banyak Dea...."


Balasku dengan keramahannya.


"Tidak masalah ka,jika perlu sesuatu atau ka David mengganggu Kaka jangan sungkan mengadu padaku ya,aku akan berdiri di depan Kaka untuk membela.Hehe..."


Support Dea kepadaku.Dan dia pun pergi keluar kamar meninggalkan ku.Ku tepikan koperku di salah satu sudut kamar.Ku rebahkan tubuhku di atas tempat tidur untuk menghilangkan lelah,aku hanya terdiam menatap langit langit kamar,dan coba memikirkan apa yang mulai besok akan ku lakukan setelah aku menyandang status nyonya David Wijaya.Ketika mataku mulai terpejam dalam lamunan ku taiba tiba...


"Plaak..."


Sebuah jas putih menutupi wajahku dan membuat aku terkejut karena sulit bernafas.


Dengan rasa kesal aku membuat jas putih itu kembali dan tanpa sengaja jas itu tepat jatuh di kepala David yang sedang menghadap kaca rias membuka kemejanya,dan....


Kami sama sama berteriak karena sama sama tekejut.Kau terkejut melihat David yang hanya memakai boxer dan sudah bertelanjang dada,dan David terkejut melihat keberadaan ku di kamar itu.


"Kau....!"


David geram dan menunjuk wajahku.


"Sedang apa kau di kamarku?"


Tanya david sambil menutupi area pribadinya dan menyambar apa pun yang bisa dia kenakan.


"Kau pikir saja sendiri,memangnya kalau orang berada di kamar untuk apa?"


Jawabku membelakangi David karena merasa canggung melihatnya yang hanya memakai boxer.


"Aku tidak peduli kau mau apa di dalam kamarku,tapi ini adalah kamarku tidak ada yang bisa masuk kesini tanpa izinku."


Tegas David seolah berbicara pada orang lain.

__ADS_1


"Oke baiklah,kalau begitu aku akan keluar dari kamar neraka ini dan kau sendiri yang nanti memberi penjelasan pada ibu mu."


Jawabku yang masih saja membelakangi David dan berjalan menuju tempat koperku diletakkan.


"Tunggu ..."


Kata David mencoba menghentikan ku yang sudah berada di depan pintu.


"Baiklah,aku bersedia berbagi kamar dengan mu,tapi kau harus ingat baik baik hanya kamar tidak untuk tempat tidur,bahkan lemari pakaian."


Sambung David dengan arogan nya ingin menguasai seluruh isi kamar.


"Apa???"


Tanyaku heran


"Ya,aku rasa kau tidak tuli dan dan aku tidak perlu mengulangi aturan dari kata kataku,kau harus ingat pernikahan ini hanya demi Rima,bukan karena aku mencintaimu jadi aku tidak perlu berbagi apa pun padamu termasuk barang barangku."


Jelas David begitu angkuh seolah pernikahan kami terjadi karena hanya keinginanku.


"Oh,baiklah aku sangat bersyukur kau tetap mengingat alasan di balik pernikahan ini.Jadi kau juga harus ingat jangan pernah menuntut hakmu sebagai seorang suami pada ku,karena itu sangat menjijik kan untuk ku."


Jawabku seolah menjelaskan bahwa dia tidak berhak menyentuhku sekalipun aku adalah istri ayahnya.


"Tentu saja aku akan mengingatnya karena aku juga tidak menginginkan hal menjijikkan itu dari mu."


Balas David dengan penuh kesombongan.


"Jadi tuan putri silahkan cari tempat senyaman mungkin untuk mu tidur jangan coba coba mendekat dengan tempat tidurku."


Ledek David padaku yang masih bingung mencari tempat untuk menjadi tempat tidurku.


"Ah,begini saja meskipun aku tidak suka tapi hati nuraniku selalu saja ingin mengasihi wanita sepertimu dan saranku sebaiknya gunakan lah sofa yang ada di dekat jendela itu menjadi tempat tidur mu mulai saat ini.Aku rasa itu pantas untukmu."


Kata David seolah dia sudah menjadi manusia yang paling baik.Aku yang tidak punya pilihan lain pun akhirnya menerima ide kejamnya itu


Rasa lelah membuatku hanya terdiam dengan semua hinaanya.bahkan aku tidak berkeinginan membalasnya.Dan aku pun tidur dengan perasaan kesal pada malam pertama ku.

__ADS_1


__ADS_2