
Setelah selesai menyiapkan Rima untuk berangkat sekolah aku pun mengajak Rima segera turun untuk sarapan.
"Rima sayang,kau turunlah ke bawah duluan sarapan bersama kakek dan nenek,ibu Nai akan bersiap dam segera turun menyusul nanti."
Titahku pada Rima saat kami berada di depan tangga.
"Hem...baiklah ibu Nai."
Jawab Rima menurut.
Dan aku pun langsung menuju kamarku untuk bersiap siap sebelum pergi ke sekolah untuk mengajar.Kulihat David sudah rapih dengan setelan jas berwana hitam dan sedang memakai jam tangan sebagai accesoris wajib pada dirinya dan berdiri di depan meja kerjanya.
"Apa Rima sudah bangun?"
Tanya David.
"Hemm..."
Jawabku tanpa kalimat lain dan melewati David begitu saja untuk menuju kamar mandi.
Tanpa sengaja langkahku terhenti karena David menarik tangan ku.
"Hei...."
"Kau kenapa?"
Tanya David bingung melihat raut sedih yang tak dapat ku sembunyikan dari wajahku.
"Tidak apa apa..."
Jawabku sambil menggelengkan kepala dan memalingkan wajahku.
"Jangan berbohong kau sepertinya habis menangis."
Tanya David lagi menatap ku begitu dekat dan menebak benar bahwa baru menangis.
"Tidak ada apa apa,tadi ada debu masuk ke kamarku saat membersihkan kamar Rima."
"Pergilah segera turun,Rima sudah menunggu mu di meja makan."
Jawabku dan mengarahkan David untuk menghindarinya.
"Kau yakin...?"
Tanya David.
"Hem..."
Jawabku tersenyum agar David percaya.
"Baiklah...."
"Cepatlah bersiap nanti kita terlambat."
Kata David sebelum keluar kamar dan turun untuk sarapan.
Aku pun bergegas mandi dan bersiap untuk segera turun menyusul mereka.
Sementara itu di ruang makan terlihat ayah dan ibu mertua sudah duduk bersama Rima sedang menikmati sarapan mereka.
"Selamat pagi semua...."
Sapa David menghampiri mereka.
"Selamat pagi sayang..."
Jawab ibu mertua.
"Selamat pagi ayah...."
Sambung Rima.
"Selamat pagi sayang..."
Balas David dan duduk di dekat Rima.
"Dimana ibu Nai?"
Tanya Rima.
"Masih bersiap.."
"Ya...seperti yang kita tahu wanita itu membutuhkan waktu lama untuk berdandan."
Kata David tanpa sadar yang di ajaknya berbicara juga anak wanita dan yang duduk di depannya juga wanita (Ibu mertua).
"David....."
"Ayah....."
Panggil Rima dan ibu mertua bersamaan.
"Haha...."
"David jangan suka cari masalah dengan para wanita jika kau todak ingin hidupmu kena masalah."
__ADS_1
Nasihat ayah sambil tertawa.
"Uupss....."
"Ayah benar..."
Kata David tertawa dan baru menyadarinya.
"Ehm....Rima sayang."
"Ada bergosip apa hari ini dengan ibu Nai?"
Tanya David mencoba cari tau lewat Rima tentang raut sedih yang ku sembunyikan.
"Tidak gosip apa pun ayah..."
"Karena tidak ada yang menarik dari ayah untuk kami gosipkan."
Jawab Rima menggemaskan.
"Haha....."
Ibu mertua tertawa mendengar jawaban Rima seolah mengejek David.
"Kenapa ayah bertanya tentang gosip?"
"Bukan seorang pebisnis hebat seperti ayah tidak tertatik dengan gosip?"
Tanya Rima yang lagi lagi pertanyaan nya membuat neneknya tertawa.
"Ah....tidak ada."
"Ayah iseng saja bertanya,karena wanita itu biasa nya setiap pagi suka bergosip untuk mengawali harinya."
Lagi lagi David memberikan penilaiannya yang mewakili semua wanita meskipun tujuan nya tidak seperti itu.
"Akh....ayah ini seperti seorang wanita saja."
Protes Rima tentang penilaian David tentang wanita.
Sontak kalimat yang terucap dari mulut Rima membuat neneknya tertawa geli.
"Ikh....kau ini ya...."
Dan David pun mencubit pipi Rima karena gemas.
"Haha...."
"David sepertinya di rumah ini hanya Rima yang mampu membuat mu mati kata."
Sambung ibu mertua sambil tertawa.
Kata Rima yang beri peluang kembali pada David untuk mencari tahu.
"Benarkah?"
"Cerita apa?"
Tanya David kepo.
"Cerita tentang mimpiku."
Jawab Rima.
"Oh ya?"
"Memangnya mimpi apa,sehingga harus kalian bahas di pagi ini?"
Tanya David lagi seolah mengintrogasi.
Lalu Rima pun menceritakan kembali mimpinya sama seperti yang dia ceritakan padaku dengan begitu gamblangnya.
"Seperti itu ayah...."
Kata Rima menyudahi ceritanya.
Hingga akhirnya David paham kenapa ada raut kesedihan di wajahku.Dan tanpa dia sadar ternyata ibu dan ayahnya memperhatikannya bahwa ekspresi wajahnya menunjukkan dia turut merasakan kesedihan ya g ku rasa.Sesaat suasana sarapan pagi menjadi hening tanpa obrolan.Dan ibu mertua pun berinisiatif membuat suasana kembali mencair.
"Waah....Rima sayang,kau memang anak pintar.'
Sanjung ibu mertua untuk mencairkan suasana.
"Iya nenek..."
"Bahkan aku ingin sekali cepat cepat adik ku tumbuh besar dan menjadi temanku belajar dan bermain"
"Wow....itu pasti seru sekali."
Kata Rima begitu bersemangat.
"Wah...sayang kalau begitu berdoalah semoga adikmu segera hadir bersama kita."
Kata ayah mertua menyemangati Rima.
Namun David yang paham itu tidak akan terjadi hanya terdiam dan malah menatap tajam pada ayah dan ibu nya karena menurutnya telah memberikan harapan palsu pada Rima.
__ADS_1
"Apa...?"
Tanya ibu mertua seolah menantang saat menyadari bahwa David mulai kesal karena telah menyemangati Rima dengan harapan palsu.
"Ehm...Rima sayang."
"Apa kau sudah memeriksa kembali semua perlengkapan sekolahmu?"
Tanya David mengalihkan perhatian Rima dari cerita mimpinya.
"Huff....ya ampun."
"Belum ayah,aku lupa selesai bersiap aku langsung turun ke bawah tanpa membawa tas sekolahku."
Jawab Rima menepuk dahinya karena lupa.
"Baiklah kalau begitu,habiskan susumu dan segera periksa kembali tas sekolah mu."
Perintah David yang bertujuan agar Rima tidak mendengar pembicaraan penting yang ingin dia sampaikan pada ayah dan ibunya.
"Baiklah ayah ..."
Jawab Rima,dan pergi kembali ke kamar nya setelah menghabiskan susunya.
Setelah Rima pergi ke kamarnya dan merasa aman untuk berbicara,David pun langsung menyampaikan protesnya kepada ayah dan ibu nya.
"Ayah,ibu...."
"Kumohon jangan pernah lagiemberi harapan palsu ada Rima."
"Aku tidak ingin dia nanti jadi kecewa dan sedih."
Tegur David kepada kedua orang tuanya.
"Harapan palsu?"
"Apa maksudmu harapan palsu?"
Tanya ibu mertua.
"Ibu,kalian tentu sudah tahu apa alasan Naima di tinggal mantan kekasihnya bukan?"
jawab David,coba mengingatkan kembali.
"Ya kami tahu itu ."
Jawab ibu.
"Lalu bagaimana bisa kalian memberi harapan pada Rima bahwa Naima kan melahirkan adik untuknya."
Kata David kesal.
"Apa kalian tahu,tidak hanya Rima tapi Naima juga akan sedih mendengar hal ini."
Sambung David.
"David sayang,kami tidak memberi harapan palsu tapi itu adalah doa kami untuk kalian berdua."
Jelas ayah coba menenangkan David.
"Tapi bagaimana bisa ayah,sekeras apa pun kalian berdoa itu tidak akan terjadi."
Kata David.
"Kenapa?"
Tanya ayah mertua kembali.
"Kerana aku...."
David enggan melanjutkan kalimatnya yang ingin mengatakan jika dia tidak pernah menyentuh ku untuk melakukan hubungan suami istri.
"Kerena apa?"
Tanya ibu.
"Ya....karena ....aku..."
"Karena aku pernah dengar dari ayah Naima jika dokter telah memfonis naima tidak dapat mengandung lagi."
"Jadi bagaimana mungkin itu bisa terjadi."
Jelas David yang akhirnya menemukan kalimat lain untuk mengemukakan alasan lain.
"Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan mengkehendakinya."
"Dan kau belum tahu bagaimana kukuatan doa bekerja."
"Sebagai suami seharusnya kau coba cari tahu tentang kebenaran cerita Naima dari masa lalunya "
"Dukung dia dan coba temukan solusi karena apa yang kau lakukan untuk Naima tidak hanya untuk kebahagiaan Naima semata tapi juga untuk kebahagiaan Rima.Bukan kah peralatan medis sekarang sudah jauh lebih canggih?"
"Ayah rasa kau lebih mengerti apa yang ayah katakan."
Jawab ayah mertua coba meyakinkan David.
__ADS_1
David yang enggan berdebat lagi pun akhirnya memilih diam saja hingga akhirnya aku turun bersama Rima.
Bersambung.....