Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 93....


__ADS_3

Dengan nada emosi lagi lagi David berteriak kepadaku agar membiarkannya pergi menemui Sahira namun aku tidak menghiraukannya malah memeluknya dengan erat.


Aku tidak bermaksud membela Sahira,tapi yang ku pikirkan adalah Rima,Aku takut kemarahan David pada Sahira di depan Rima,dapat mengganggu kondisi mental dan kejiwaa Rima nantinya.Karena aku paham betul pemikiran anak seusia Rima,baginya tidak lah begitu penting apa alasan ibu kandungnya waktu itu pergi meninggalkannya,yang terpenting baginya adalah ibunya yang selama ini sangat di rindukan nya saat ini telah hadir dalam kehidupannya.Maka dari itu aku berusaha sekuat tenaga agar bisa mencegah david menemui Sahira di kamar Rima dan sembari itu aku coba berusaha menyusun kata yang tepat untuk membuat pengertian pada David.


"David..."


"Bersumpahlah demi Rima,kau harus mengendalikan dirimu jangan mengatakan apa pun dengan emosi pada Sahira di depan Rima,kasihan dia masih kecil dan belum pantas melihat pertengkaran mu dengan Sahira."


"Ku mohon....."


Kataku membujuk David dan memeluknya begitu erat.


"Tenangkan dirimu,jangan biarkan amarah menguasaimu.Terlepas entah apa pun itu tujuan dati kedatangan Sahira, setidaknya pikirkan lah Rima biarkan dia sendiri yang memberi penilaian pada Sahira.Biar bagaimana pun dia adalah ibu yang selama ini di pertanyakan oleh Rima.Kita tidak boleh memungkiri jika dia adalah ibu kandungnya ada ikatan darah antara mereka."


Sambungku coba membuat David tenang.Dan aku merasa david mulai tenang saat ku rasa dia tidak meronta lagi dalam pelukan ku.


"Emmuach...."


"Suamimu yang hebat."


Kataku memuji David karena mau mendengarkan apa yang ku katakan.


"Sekarang ayo kita duduk di sofa dam minum lah air putih ini.Aku akan menceritakan bagaimana bisa dia berada di rumah ini."


Kataku membujuk David dan menatapnya dengan penuh cinta sambil memberinya segelas air putih.


Seketika rasa cinta ku semakin bertambah kepada David,kesedihan,amarah,rasa sakit yang terlihat dari luapan emosi David membuat hatiku semakin luluh dan semakin mencintai david dengan begitu tulis tanpa ada syarat.Bahkan tidak ada sedikit pun terbersit dalam benak dan pikiranku rasa takut yang mungkin saja kembalinya sahira bosa membuat aku kehilangan David dan cintanya.Sekali pun kedatangan sahira bisa jadi ancaman untuk hubunganku,tapi sama sekali aku todak memikirkan nya.


Akhirnya dengan susah payah,aku dapat mengendalikan David menjadi lebih tenang.Ku pasang sikap manjaku dengan menyandarkan kepalaku di bahunya dan memeluknya saat dia mulai duduk di sofa meskipun hanya terdiam dengan rasa kesal yang masih tampak di wajahnya.


"Bagaimana ceritanya....?"


Tanya David dengan nada suara yang mulai lembut.


"Semuanya berawal saat Rima hilang di sebuah pusat perbelanjaan saat liburan mereka kemarin.."


Ceritaku mulai menjelaskan.


"Apa?"


"Rima sempat hilang?"


Tanya David panik dan memotong ceritaku.


"Iya..."


"Dan Sahira lah yang menemukannya."

__ADS_1


"Awalnya Sahira juga tidak tahu jika Rima adalah anak yang selama lima tahun dia tinggalkan,setelah dua hari Rima tinggal bersamanya akhirnya Sahira berhsil menemukan alamat rumah paman dan bibi tempat ayah dan ibu menginap,kemudian dia pun bermaksud mengantarkan Rima pulang hingga akhirnya Sahira bertemu dengan ayah dan ibu mertua yang spontan memanggil nama Rima dan Rima memanggil kakek dan neneknya.Menurut cerita ayah dan ibu mertua mereka begitu terkejut saat tahu wanita yang mengantarkan Rima adalah Sahira yaitu ibu kandungnya.Melihat keterkejutan mereka Rima pun bertanya ada apa,dan siapa Sahira,mengapa kakek nenek mengenal wanita yang mengantarnya dan kenapa sangat terkejut melihatnya.Dengan emosi dan syok tanpa sadar Ibu mengatakan bahwa dia adalah Sahira ibu kandung Rima.Dengan terkejut dan senang Sahira pun langsung memeluk Rima setelah mendengar apa yang di katakan ibu mertua.Sama dengan perasaan anak kecil pada umumnya saat di peluk oleh wanita yang selama ini dia rindukan Rima pun terlihat bahagia apa lagi dalam dua hari Sahira mearawatnya dengan tulus meskipun dia tidak mengetahui bahwa anak yang tersesat itu adalah anaknya dan mungkin itulah yang menjadi nilai plus untuk Sahira di mata Rima.Hingga akhirnya Rima merasa nyaman dan meminta Sahira untuk ikut pulang bersamanya termasuk ke rumah ini."


"Seperti itulah ceritanya."


Jelasku menceritakan kronologi bagaimana Sahira hingga bisa berada di kamar Rima.


"Dan sekarang,coba katakan padaku bagaimana bisa aku melarang dan menolak permintaan Rima saat aku melihat kebahagian terpancar di wajah Rima dengan luapan rasa rindu."


"Hem....?"


Tanyaku menatap David begitu dekat dan tersenyum.


"Ya..."


"Kau benar,bahkan aku juga tidak tega merampas kabahagiaan Rima."


Jawab David begitu lembut dan sesekali mencium dan membelai lembut rambut ku yang terurai.


"Ya...."


"Itulah maksudku."


Sambungku.


"Tapi kau tidak tahu,Sahira itu wanita jahat dia hanya mementingkan dirinya sendiri.Dan aku yakin dia kembali karena ada tujuan yang ingin menguntungkan dirinya."


Kata David mulai gelisah.


Kataku memberi sebuah ide yang setidaknya bisa menghilangkan rasa gelisah David.


"Caranya....?"


Tanya David terlihat begitu bersemangat.


"Nanti kita pikirkan caranya."


"Sekarang,ayo kita lihat Rima di kamarnya, dari kemarin dia sudah menanyakan dirimu hingga dia tertidur."


Kataku mengajak David menemui Putri yang sebentar lagi pasti akan jadi rebutan oleh kedua orang tuanya.Tapi aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


"Apa katamu?"


"Ke kamar Rima?"


"Dengan wanita itu di sana?"


"Tidak....!"

__ADS_1


Jawab David menolak dan kembali emosi.


"Hei....kenapa jadi marah."


"Abaikan Sahira,anggap saja dia tidak ada di situ."


"Dan bersikaplah seperti biasa."


"Kau tahu jika kita bisa bersikap biasa di depannya itu akan membuat dia semakin risih hingga akhirnya memutuskan untuk pergi sendiri dari kehidupan kita tanpa kita minta."


Kataku memberikan sebuah ide.


"Lalu jika dia pergi lagi,bagaimana dengan Rima?"


Tanya David yang tidak ingin Rima sedih lagi setelah Sahira pergi.Dan itulah alasannya mengapa David tidak ingin Sahira menemui Rima.


"Itu sisa dari rencana kita,dan akan kita pikirkan nanti.."


Jawabku meyakinkan David.


"Tapi bagaimana bisa aku melakukan nya?"


Tanya David lagi merasa tidak mampu.


"Aku akan selalu bersama mu."


Jawabku begitu yakin sambil memegang tangan david dan menggenggamnya dengan erat.Lalu ku tatap mata David untuk meyakinkannya.


"Emmmuach...."


Kecupan mesra mendarat di dahiku dari bibir David.


"Terimakasih sudah menjadi wanita yang pengertian dan siap mendukungku."


Kata David begitu terharu dengan kesediaanku selalu mendukungnya.


"Haruskah ku minta hadiahku sekarang dari ucapan terimakasih ini?"


"Hehe...."


Tanyaku bercanda untuk mencairkan suasana.


"Haha..."


"Kau ini..."


Jawa David tertawa dengan mengusap kepalaku dengan penuh cinta.

__ADS_1


Dan akhirnya dengan bergandengan tangan kami pergi ke kamar Rima untuk menemuinya.


Bersambung.....


__ADS_2