Duda Sombong Pilihan Ayah

Duda Sombong Pilihan Ayah
Bab 63...


__ADS_3

"Hei wanita penceramah...."


"Apa kau ingin seharian duduk di pangkuanku?"


Kata David begitu selesai membaca semua email yang masuk di laptopnya.


"Bukan aku yang ingin duduk seharian di pangkuanmu,tapi kau yang tidak mengizinkan aku beranjak dari pangkuanmu sejak tadi."


Jawabku.


"Apa...?"


"Aku ..?"


"Jangan GR...."


Jawab David begitu sombongnya tapi tetap tidak melepaskan kepungan tangannya.


"Aku bukan GR,tapi kenyataannya tanganmu yang tidak melepaskanku dari pangkuanmu."


Jawabku kesal.


"Itu karena kau sendiri yang menginginkannya."


Jawab David dan masih sibuk mengotak Atik laptopnya.


"Aku ..?"


"Kenapa aku?"


Tanyaku bingung.


"Ya tentu saja,jika sejak tadi kau katakan apa yang ingin kau katakan,pasti aku tidak akan menahanmu dalam pangkuanku,apa kau pikir kau tidak berat."


Jelas David.


"Sialan nih si duda selalu saja buat aku terjebak"


Gerutuku dalam hati.


"Kenapa diam?"


"Berarti benar kau ingin di pangkuanku seharian."


Tebak David sembarangan.


"Jangan sembarangan jika berbicara."


Lepaskan aku biarkan aku duduk sendiri untuk mengatakan hal yang ingin ku tanyakan."


Kataku sambil menghempaskan kedua tangan David yang mengepungku dan beranjak dari pangkuannya.


"Haha....."


Tawa David yang merasa puas karena berhasil telah membuatku kesal.


"David..."


"Kenapa kau memeluk sepanjang malam hingga aku sulit bernafas."


Tanyaku seolau keberatan tidur dalam pelukan David.


"Oooo....maafkan aku untuk hal itu.Aku tidak sengaja karena tadinya ku pikir kau bantal guling yang biasa ada di sebelahku saat aku tidur."


Jawab David santai.


"Haah.....!!"


Jawaban santai David membuatku semakin kesal.


"Eh,tapi....bukannya kau yang memelukku lebih dulu tadi malam?"


Tanya David kembali padaku.


"Aku.....?"


Sontak aku terkejut dan bertanya tanya bagaimana bisa dia tahu karena menurutku saat itu dia sudah tidur.


"Ya kau...."


"Bukannya kau yang tiba tiba datang mendekatiku,lalu menciumi,kemudian memelukku dari belakang?"

__ADS_1


Tanya David kembali meyakinkan ku dan membuat aku kikuk diam tak dapat berdalih lagi.


"Haah...?"


"Ba...bagaimana kau tahu?"


"Kau kan tidur?"


Tanyaku gugup bagai seorang pencuri yang tertangkap basah.


"Haha......"


"Mungkin kau lupa jika sedang bertanya dengan seorang pebisnis yang hebat di kota ini,sama seperti aku dapat merasakan keberadaan para pesaingku dalam dunia bisnis baik yang seportif sampai yang ingin menusuk dari belakang,bahkan aku dapat melihatmu meskipun kau tidak ada di hadapanku."


Jawab David lagi lagi menunjukkan sejuta kesombongannya.


"Hei...tuan duda..!"


"Jangan terlalu sombong karena berhasil menjebakku dan membuat aku malu di hadapan mu."


Kata ku sedikit lantang untuk menutupi rasa kikuk ku karena David mengetahui jika aku memeluk nya saat tidur.


"Malu...?"


"Kenapa harus malu?"


"Kita ini suami istri wajar wajar saja dengan hal itu."


"Kau ini berlebihan sekali."


Kata David yang sepertinya dia sudah lupa dengan semua kata kata yang dia lontarkan saat pertama kali pernikahan kami.Bahwa hubungan ini hanya sebuah kesepakatan.


"Ya..kau benar kita memang suami istri tapi sebenarnya aku masih canggung jika harus bermesraan dengan suamiku tanpa ada perasaan cinta."


Kataku,seperti pejuang cinta yang mendapatkan kesempatan aku pun langsung memanfaatkan tiap kata yang di ungkapkan David untuk memancing nya agar menyatakan perasaannya padaku.


Tapi sepertinya aku terlalu percaya diri untuk hal itu.Seketika wajah David berubah jadi muram setelah mendengar kata cinta dari mulutku bahkan dia langsung terdiam.


Merasa suasana hati David telah berubah aku pun memutuskan untuk tidak melanjutkan serangan dengan kata kata yang aneh lagi.


"Baiklah aku akan melihat Rima dulu ke kamarnya."


Kataku sambil berlalu meninggalkan David sendirian di kamar.


"Maafkan aku.."


"Tapi aku tidak berani membenarkan apa yang ku rasa saat ini terhadapmu."


"Karena rasa kehilangan lebih dulu menghantui ku."


"Dan aku tidak ingin terluka untuk yang kedua kalinya .."


Curhat David berbincang dengan dirinya sendiri setelah aku berlalu dari hadapannya.


"Selamat pagi kesayangannya ibu Nai...."


Kataku menyapa Rima saat masuk ke kamarnya.


"Selamat pagi ibu Nai...."


Ternyata sedang belajar merapihkan tempat tidurnya sendiri.


"Wow....sayang kau rajin sekali."


Kataku memuji Rima.


"Ya ibu Nai aku sedang belajar ingin mandiri,tapi hufff ya ampun kenapa sprai tempat tidur ini tidak mau menurut untuk di rapih kan."


Keluh Rima yang hampir menyerah karena kesulitan merapihkan tempat tidurnya.


"Boleh ibu bantu?"


Tanyaku menawarkan bantuan.


"Tidak...tidak...ibu Nai."


"Ibu tidak boleh memanjakan ku."


"Jika ibu ingin aku pintar tolong beri tahu caranya saja bagaimana agar sepre tempat tidur ku ini mudah di rapihkan."


Jawab Rima menolak bantuan yang ku tawarkan.

__ADS_1


"Oke baiklah...."


Kataku sebagai bentuk dukungan.


"Rima sayang..."


Panggilku sambil mengarahkan cara merapihkan tempat tidur.


"Hemmm...."


Jawab Rima,seperti jawaban David saat ku panggil.


"Boleh ibu tahu,kenapa tiba tiba saja kau ingin belajar mandiri?"


Tanyaku kepo.


"Ibu Nai,apa ibu masih ingat cerita mimpiku waktu itu?"


Tanya Rima.


"Ehem...."


"Yang mana satu?"


Jawabku mengernyitkan dahi coba mengingat cerita mimpi yang ditanyakan Rima yang aku telah lupa.


"Itu....yang pernah aku ceritakan jika ibu Nai melahirkan bayi yang lucu...."


Kata Rima coba mengingatkan ku.


"Oh....ya...."


Jawabku tertawa nyengir saat ingat kembali cerita itu.


"Lalu....?"


Sambungku.


"Dan tadi malam aku mimpi yang sama lagi seperti waktu itu.?"


Cerita Rima.


"Maksudnya,kau bermimpi jika ibu telah memberimu seorang adik bayi lagi?"


"Begitu..?"


Tanyaku sambil tertawa karena merasa itu hal yang lucu karena aku tahu itu mustahil.


"Tepat sekali...."


Kata Rima bertepuk tangan untuk mengapresiasi setelah dia berhasil merapihkan tempat tidurnya dengan baik.


"Lalu,apa hubungannya dengan sikap mandiri mu?"


Tanyaku bingung.


"Hufff,ibu Nai ..."


"Ibu ini sangat lugu sekali.."


Jawab Rima meneuk jidatnya merasa geram karena aku tidak paham apa maksud dari ceritanya.


Dan aksinya seperti orang dewasa itu sontake membuat aku tertawa.


"Lalu apa....?"


Tanyaku tertawa geli karena gemas melihat gaya nya yang sok pusing dengan ketidak pahaman ku.


"Teman ku di sekolah pernah cerita jika kita mimpi yang sama sampai dua kali,itu berarti mimpi yang ke tiga akan menjadi kenyataan.Dan aku yakin mimpi ke tiga ku akan terulang lagi."


Cerita Rima yang membuat hatiku Ter renyuh dan sedih sekali karena aku tidak bisa mewujudkan jadi nyata tentang apa yang menjadi mimpinya hingga terulang ke dua kali.


"Lalu....?"


Tanyaku dengan nada bergetar berusaha menahan air mataku dan membesarkan hati untuk mendengar apa sebenarnya maksud dari keinginannya menjadi anak mandiri.


"Lalu...,karena aku percaya mimpiku akan jadi kenyataan maka dari itu mulai sekarang aku ingin belajar mengurus diriku sendiri,supaya jika suatu hari nanti adik bayiku datang aku sudah pandai mengurus diriku sendiri tanpa harus ibu Nai bantu.Karena pasti ibu Nai sudah kerepotan merawat adik bayi."


Cerita tentang persiapan nya untuk menjadi seorang anak mandiri setelah menjadi seorang kakak.


"Ow.......itu manis sekali."

__ADS_1


Kataku sambil memeluk rima dengan erat tak kuasa menahan rasa sedih karena aku tidak akan pernah bisa memberikan adik bayi seperti harapannya.Tanpa sadar air mataku menetes saat memeluk Rima.


Bersambung....


__ADS_2